Menuju konten utama

Drama Keluarga yang Relatable: 5 Film tentang Dinamika Parenting

Setiap keluarga punya dinamika unik. Lima rekomendasi film Diajeng berikut mengungkap keberagaman dan kerumitan relasi orang tua dengan anak.

Drama Keluarga yang Relatable: 5 Film tentang Dinamika Parenting
Rekomendasi Film Keluarga. FOTO/iSTockphoto

diajeng.id - Beragam dinamika dalam hidup berkeluarga, mulai dari pola asuh yang tak sejalan antara ayah dan ibu, himpitan dan tekanan perekonomian, hingga keretakan hubungan orang tua-anak, sering membuat kita merasa tersesat di antara tuntutan dan emosi.

Menariknya, banyak film justru mampu memotret kerumitan itu dengan jujur, hangat, dan kadang menyakitkan, sekaligus mengajak kita berkontemplasi tentang arti menjadi keluarga.

Lewat cerita-cerita yang dekat dengan realitas, kita diajak memahami bahwa setiap rumah punya perjuangannya sendiri.

Rekomendasi Film Keluarga dengan Parenting Rumit

Berikut lima film keluarga berlatar parenting yang rumit, yang bisa jadi jendela baru untuk melihat ulang perjalanan kita sebagai anak, orang tua, atau keduanya.

1. The Parent Trap (1998)

Kisah kembar Annie dan Hallie (Lindsay Lohan) menjadi pengingat bahwa anak tidak pernah benar-benar berada di luar pusaran konflik orang dewasa.

Terpisah sejak kecil karena perceraian, keduanya tumbuh di dua benua dengan budaya dan kebiasaan berbeda.

Mereka kemudian bertemu secara tak sengaja di perkemahan musim panas. Pertemuan itu membuka luka lama sekaligus harapan baru: keinginan sederhana untuk merasakan keluarga yang utuh.

Rencana pertukaran identitas yang mereka buat bukan sekadar petualangan anak-anak, tetapi bentuk rindu yang tak terucap pada orang tua mereka.

Lewat langkah polos tapi cerdas, sutradara Nancy Meyers menunjukkan bahwa film ini memotret bagaimana perceraian ikut membentuk cara anak memahami cinta, kehilangan, dan kemungkinan untuk kembali memperbaiki yang retak.

2. Mrs. Doubtfire (1993)

Daniel Hillard (Robin Williams) adalah gambaran seorang ayah yang sangat mencintai anak-anaknya, tetapi tak selalu bijak dalam mengambil keputusan.

Setelah perceraiannya dengan Miranda (Sally Field), ia harus menghadapi kenyataan pahit: bertemu anak hanya seminggu sekali.

Ketika Miranda memasang iklan lowongan pengasuh anak, Daniel punya ide melamar pekerjaan tersebut dengan menyamar sebagai pengasuh perempuan asal Inggris bernama Mrs. Doubtfire.

Penyamaran Daniel membuat film ini memiliki unsur komedi yang kuat. Di balik itu, jelas terlihat potret jujur tentang ayah yang ingin tetap hadir dalam hidup anak-anaknya.

Transformasi Daniel menjadi Mrs. Doubtfire juga membuatnya belajar memahami perspektif mantan istri. Dia harus berurusan dengan pacar baru Miranda, Stuart Dunmeyer (Pierce Brosnan) sembari memenuhi kebutuhan emosional anak-anaknya.

Cerita ini menunjukkan bahwa keluarga bisa berubah bentuk, tetapi kasih sayang tetap menjadi jembatan terkuatnya.

3. Captain Fantastic (2016)

Ben Cash (Viggo Mortensen) dan istrinya Leslie (Trin Miller) membesarkan anak-anaknya di pedalaman negara bagian Washington yang terisolasi dari masyarakat.

Mereka mengajarkan idealisme yang jarang ditemui: pendidikan kritis, kehidupan mandiri, dan nilai-nilai yang menjauh dari arus utama masyarakat.

Namun, ketika Leslie meninggal, seluruh dunia yang ia bangun terguncang.

Kepergian sang istri memaksa Ben membawa keenam anaknya menghadapi dunia luar, sebuah dunia yang selama ini ia hindari, jika bukan ia benci.

Film yang disutradarai Matt Ross ini menyentuh karena menghadirkan benturan antara idealisme orang tua dan kenyataan hidup anak-anak yang tetap harus tumbuh dalam masyarakat.

Perjalanan keluarga Cash menjadi ruang refleksi tentang batas antara melindungi dan membatasi, serta bagaimana cinta kadang harus diberi ruang untuk melepaskan.

4. Kapoor & Sons (2016)

Drama keluarga Kapoor menunjukkan bahwa kerumitan hubungan tak selalu datang dari satu sumber, tetapi dari akumulasi luka kecil yang tak pernah diselesaikan.

Ketika sang kakek, Amarjeet (Rishi Kapoor), jatuh sakit, seluruh keluarga dipaksa pulang dan berhadapan dengan ketegangan yang sudah lama terkubur.

Film India yang disutradarai Shakun Batra ini mengemas segala permasalahan dalam keluarga, dari rahasia, kecemburuan, hingga perasaan tidak pernah cukup. Semuanya mencuat ke permukaan.

Di tengah kekacauan itu, keinginan sederhana Amarjeet untuk memiliki foto keluarga justru menjadi simbol betapa rapuhnya sebuah ikatan.

Film ini juga menggambarkan bahwa keluarga bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian mengakui kesalahan, memperbaiki hubungan, dan tetap memilih untuk saling kembali.

5. Capernaüm (2018)

Capernaüm menyajikan potret paling mentah tentang anak dan lingkungan yang gagal melindunginya.

Zain (Zain Al Rafeea), bocah 12 tahun yang keras dan cerdas, menggugat orang tuanya karena merasa dunia memberinya hidup tanpa kasih, tanpa perlindungan, dan tanpa pilihan.

Melalui perjalanan pahitnya di jalanan Beirut, Lebanon kita melihat bagaimana ia bertahan dengan naluri dan keteguhan yang jauh lebih dewasa dari usianya.

Relasinya dengan Rahil (Yordanos Shiferaw) dan bayi Yonas (Boluwatife Treasure Bankole) menjadi satu-satunya titik hangat di tengah kekacauan hidup. Namun begitu, kehangatan tersebut tak mampu melindunginya dari kerasnya realitas dunia.

Capernaüm yang berarti "kekacauan" adalah kritik sosial yang tajam sekaligus doa sunyi bagi anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan layak.

Film ini mengingatkan kita bahwa parenting bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat.

Rekomendasi film menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait REKOMENDASI FILM atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih