diajeng.id - Perempuan, dengan multiperannya di dalam keluarga, kehidupan sosial, maupun profesional, pasti pernah dan akan selalu memiliki episode lelah dan gagal.
Di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi, penting bagi kita untuk membangun resiliensi agar tetap kuat, bangkit, dan bertahan menjalani keseharian.
Resiliensi, menurut Psychology Today, adalah kemampuan psikologis individu untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan, kegagalan, atau peristiwa yang menyakitkan, tanpa kehilangan arah dan tujuan hidup.
Resiliensi bukan tentang ketahanan diri yang tanpa batas, tetapi sebagai kemampuan menyesuaikan diri, memulihkan emosi, dan melanjutkan langkah dengan cara yang lebih sehat.
Mengapa Resiliensi Penting Bagi Perempuan?
Resiliensi penting bagi perempuan karena mereka cenderung memikul beban yang tidak selalu terlihat, entah itu di tempat kerja, di rumah, atau di komunitas.
Banyak perempuan harus menyeimbangkan peran kepemimpinan dengan pengasuhan, ambisi dengan kelelahan, dan kinerja tinggi dengan pengakuan yang belum tentu sepadan.
Pada waktu sama, kita mustahil mengesampingkan kondisi fisiologis dan biologis perempuan yang perlu perhatian khusus dan istirahat cukup, dari mengalami menstruasi dan ketidakseimbangan hormon, hamil, melahirkan, menyusui, sampai menopause.
Dalam situasi seperti ini, tuntutan untuk “selalu kuat” justru bisa membuat perempuan memilih diam, mengabaikan kebutuhan diri, atau bahkan meninggalkan dunia kerja karena kelelahan dan burnout.
Resiliensi yang sehat membantu perempuan bukan sekadar bertahan, tetapi tetap utuh sebagai individu.
Ketika resiliensi dipahami sebagai kemampuan merawat diri, menetapkan batasan, dan mencari dukungan, perempuan dapat menjalani perannya dengan lebih berkelanjutan.
Lingkungan kerja pun menjadi lebih sehat, kepemimpinan lebih kuat, dan budaya organisasi lebih inklusif ketika resiliensi dilihat sebagai tanggung jawab bersama, bukan beban individu semata.
Sebuah studi tahun 2014 berjudul "Gender Differences in Resilience of Academic Deans" menunjukkan bahwa resiliensi berperan penting dalam keberhasilan perempuan.
Pengamatan terhadap 87 dekan akademik perempuan di universitas negeri menemukan bahwa mereka memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang diduga terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi tantangan karier.
Hal ini menunjukkan bahwa resiliensi membantu perempuan mengatasi hambatan, menjaga fokus, dan terus berkembang meski menghadapi tekanan.
Dengan resiliensi yang tepat, perempuan dapat beralih dari sekadar “mode bertahan” di tengah tuntutan hidup dan pekerjaan, menuju fase berkembang, yang memungkinkan energi, suara, dan kesejahteraan mereka dihargai sama pentingnya dengan hasil kerja yang dicapai.
Apa Saja Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Melatih Resiliensi?
Melansir VeryWell Mind, ahli rehabilitasi psikososial sekaligus psikolog Kendra Cherry menuliskan beberapa langkah yang bisa dilakukan perempuan untuk melatih resiliensi.
Salah satunya, temukan tujuan hidup agar setiap tantangan memiliki makna dan arah.
Yakin pada kemampuan diri juga penting, karena rasa percaya diri membantu kita menghadapi tekanan dan bangkit dari kegagalan.
Contohnya, ketika mendengarkan komentar negatif di pikiran, segera gantikan dengan komentar positif seperti, "Aku bisa mengerjakannya," atau, "Aku adalah teman/ibu/pasangan yang hebat."
Selain itu, membangun jaringan sosial yang suportif memberi kekuatan emosional saat menghadapi masa sulit.
Resiliensi juga tumbuh ketika kita mampu bersikap fleksibel terhadap perubahan dan tetap memelihara sikap optimis, dengan memahami bahwa kesulitan hanya bersifat sementara.
Merawat diri melalui istirahat yang cukup, aktivitas yang disukai, dan menjaga kesehatan fisik serta mental pun merupakan fondasi penting.
Keterampilan memecahkan masalah dan menetapkan tujuan yang realistis membantu mengurai tantangan besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola.
Terakhir, mengambil tindakan secara bertahap dan terus asah keterampilan diri, sehingga resiliensi semakin terasah dari waktu ke waktu.
Artikel seputar perempuan lainnya juga bisa dilihat di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih