diajeng.id - Anak-anak tidak mencatat Ramadhan sebagai tanggal di kalender. Mereka tidak mengingatnya sebagai angka 1 sampai 30 yang ditandai dengan coretan setiap hari.
Anak-anak menyimpannya sebagai aroma masakan dapur pada sore hari, suara piring atau gelas yang beradu pelan, dan orang tuanya duduk bersama sambil menunggu azan sebagai penanda waktu berbuka puasa.
Bagi orang dewasa, serangkaian kegiatan di atas mungkin hanya rutinitas biasa. Namun, bagi anak-anak, itulah yang membentuk sense of home, sekumpulan rasa nyaman, hangat, dan aman berada di rumah.
Menariknya, ritual atau kebiasaan yang sering kita lakukan itu tak ada nama khususnya.
Misalnya, menyiapkan meja bersama. Anak ditugaskan mengambil sendok atau meletakkan gelas. Dari situ, anak belajar bahwa berbuka adalah momen yang disiapkan bersama.
Seiring mereka merasa dilibatkan, ada kebanggaan kecil saat melihat meja tertata dan tahu mereka punya andil di dalamnya.
Kegiatan membagi-bagi kurma sesaat sebelum buka puasa di meja makan. Tiga untuk Ayah, tiga untuk Ibu, tiga untuk kakak, tiga untuk dirinya sendiri.
Tangannya mungkin menghitung keras-keras agar tak salah. Sederhana, tapi di situlah anak kecil belajar tentang berbagi dan kebersamaan.
Ketika ikut membantu belanja ke pasar atau supermarket, memilih sirup favorit, atau mendorong troli yang lebih besar dari badannya, anak sedang mengumpulkan serpihan memori.
Termasuk saat ia berdiri di samping orang tua di dapur, membantu mengaduk menu sederhana atau menuang air untuk membuat minuman khas buka puasa.
Alih-alih mendapatkan hasil yang sempurna, anak menumbuhkan keakraban dengan suasananya: suara wajan, aroma bawang, tawa kecil ketika kecap tertuang terlalu banyak.
Ada juga momen memilih doa sebelum berbuka. Anak mungkin belum hapal bacaan lengkapnya, tetapi berkeinginan kuat untuk memimpin. Suaranya lirih, kadang-kadang terbata. Namun kebersamaan yang tercipta membuat doa itu terasa istimewa.
Beberapa anak punya kebiasaan ikut “countdown” azan magrib. Menghitung menit terakhir, berdiri dekat televisi atau menunggu suara azan dari masjid.
Ketika azan akhirnya berkumandang, ada sorak kecil atau senyum lega. Momen itu, yang bagi orang dewasa terasa sama setiap hari, adalah detik-detik penuh harap di hati anak-anak.
Menunggu waktu magrib bersama di ruang keluarga, mendengarkan kisah-kisah Nabi, atau sekadar memutar radio yang menyiarkan tausiah ringan menjelang berbuka, semuanya membentuk lanskap rasa dalam ingatan mereka.
Di masa dewasanya kelak, suara penyiar radio atau jingle tertentu bahkan bisa mengembalikan mereka pada satu sore nostalgia Ramadhan di masa kecil.
Sebab, anak-anak mengingat rasa: hangatnya teh manis di tangan kecilnya, suara sendok menyentuh gelas, wangi gorengan yang baru diangkat, serta wajah-wajah yang duduk melingkar menunggu waktu.
Suatu hari nanti, ketika mereka dewasa, mungkin yang mereka rindukan bukan menu buka puasanya, melainkan momen duduk bersama itu. Momen ketika rumah terasa penuh, dan waktu seolah-olah berjalan lebih pelan.
Bagaimana dengan masa kecilmu dulu? Ritual kecil apa yang dilakukan di keluarga, atau ritual apa bersama teman-teman sepermainan zaman kecil, yang berkesan jelang buka puasa?
Simak juga artikel menarik seputar Ramadhan di sini.
Editor: Sekar Kinasih