diajeng.id - Menjadi ibu adalah tugas paling mulia, tapi juga paling menguras emosi.
Marah ketika mengasuh anak adalah perasaan yang manusiawi. Namun begitu, terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu tentunya melelahkan.
Maka dari itulah ibu perlu belajar mengelola dan meregulasi emosi saat sedang merasakan kelelahan.
Saat emosi terasa penuh dan rasa bersalah datang bertubi-tubi, mungkin inilah saatnya ibu berhenti sejenak dan mengingat satu kebenaran sederhana yang sering terabaikan.
Ya, tentu tidak ada orang tua yang sempurna.
Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sering kali sulit benar-benar kita terima, terutama bagi para ibu.
"Karena itu, kita perlu mengasuh dengan cinta. Cinta yang bukan hanya perasaan, tetapi juga proses belajar sepanjang masa demi masa depan anak-anak kita," kata Expert Family Educator Trainer dari Rabbit Hole, Ayu Damayantie saat Webinar Sugarbaby Expert Insight Spesial Hari Ibu, pada Selasa, 30 Desember 2025.
Ayu menjelaskan, "cinta" dalam pengasuhan dapat dimaknai lebih dalam.
Huruf C berarti cari cara sepanjang masa. Parenting tidak pernah selesai dipelajari. Selalu ada fase baru, tantangan baru, dan kesempatan baru untuk bertumbuh bersama anak.
Huruf I berarti ingat impian tinggi. Kita berharap yang terbaik untuk anak-anak kita. Harapan itu menuntut keberanian untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak selalu nyaman.
"N adalah nerima tanpa drama. Anak-anak dicintai apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa syarat. T berarti tidak takut salah. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, termasuk bagi orang tua. Dari sanalah ilmu parenting berkembang. Dan A adalah asyik main bersama. Mengasuh anak sejatinya bisa menyenangkan ketika kita memaknainya sebagai momen kebersamaan yang menguatkan."
Begitu terang Ayu lebih jauh.
Meski demikian, dalam praktiknya, tidak sedikit ibu yang merasa lelah secara fisik dan emosional. Saat itulah refleksi dibutuhkan.
Jika ditanya, apa yang paling sering memicu rasa bersalah pada ibu, jawabannya sering kali serupa.
"Kita tumbuh dan berkembang seiring anak kita tumbuh. Kalau capek banget menghadapi anak, sebaiknya balik badan sebentar, tarik napas, lalu kembali hadapi anak, dan bicara dengan menggunakan logika," ucap Ayu.
Dalam penjelasannya, Ayu mengatakan bahwa rasa bersalah ini tidak muncul begitu saja.
Ada tantangan dan hambatan yang kerap menjadi pemicunya, mulai dari miskonsepsi dalam pengasuhan dan pendidikan anak, keterbatasan kemampuan menyaring informasi, tidak adanya tujuan pengasuhan yang jelas, serta minimnya support system dalam mengasuh dan mendidik anak.
"Jika kondisi ini dibiarkan, ibu berisiko mengalami burnout," imbuhnya.
Tanda burnout pada ibu dapat dikenali dari berbagai aspek.
Secara fisik, yang biasanya muncul seperti kelelahan berkepanjangan meski sudah beristirahat, gangguan tidur, hingga daya tahan tubuh yang menurun.
Secara psikis, ibu menjadi mudah marah, stres, bahkan depresi, dengan pikiran yang dipenuhi rasa bersalah.
Dari sisi sosial, hubungan dalam keluarga bisa memburuk, peran dalam keluarga terasa berat dijalankan, dan ibu enggan meminta bantuan meski kewalahan.
"Di sinilah pentingnya regulasi emosi. Kenapa ibu harus meregulasi emosi? Karena Itu menjadi fondasi bagi anak untuk meregulasi dirinya dan sebagai role model bagi anak juga," papar Ayu.
Ayu lalu memberikan beberapa teknik sederhana yang bisa dilakukan ibu.
Pertama, peka terhadap kebutuhan diri. Ibu juga manusia yang perlu istirahat dan perhatian.
Kedua, memahami dan menghayati emosi yang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri.
Ketiga, memodifikasi pikiran, dengan mengganti pikiran yang melemahkan menjadi lebih realistis dan penuh kasih.
"Terakhir, merefleksikan pilihan tindakan, agar respons yang diambil lebih sadar dan selaras dengan nilai pengasuhan yang diyakini," tambah Ayu.
Mengasuh dengan cinta bukan berarti tanpa lelah, tetapi tentang terus belajar meregulasi emosi agar ibu dan anak dapat tumbuh bersama, dengan lebih sehat dan bermakna.
"Mari mengenali diri sendiri yang kita mampu, perlu latihan terus untuk sensitif dan responsif bagi kebutuhan kita. Selain itu cari support system yang aman untuk mendukung ibu dalam meregulasi emosi," tukasnya.
Simak juga artikel parenting dan pola asuh orang tua di laman berikut ini: tips parenting.
Editor: Sekar Kinasih