Menuju konten utama
Renungan Senja Ramadhan

Sabar: Tentang Menunggu, Menerima, dan Tetap Melangkah

Sabar bukan sekadar menahan diri, melainkan juga sebuah cara untuk mencari pertolongan di tengah keadaan yang tidak selalu bisa kita kendalikan.

Sabar: Tentang Menunggu, Menerima, dan Tetap Melangkah
Header Diajeng Renungan Senja Ramadhan: Sabar. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ada momen-momen kecil pada bulan Ramadhan yang tanpa kita sadari jadi terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena pekerjaan bertambah, bukan pula karena masalah hidup yang tiba-tiba menumpuk, tetapi karena emosi lebih mudah tersulut.

Pesan singkat yang biasanya dibaca sambil lalu kini bisa membuat kesal. Antrean panjang di jalanan menjelang berbuka terasa seperti ujian kesabaran tingkat tinggi.

Belum lagi dinamika yang terjadi di ruang kantor. Rasanya, baterai sosial lebih cepat habis, kepala lebih mudah penuh, dan tubuh pun seperti meminta jeda lebih sering.

Ramadhan, tanpa kita sadari, tidak hanya mengubah jam makan kita. Ramadhan juga membuka ruang perjumpaan yang jujur dengan emosi kita sendiri.

Dalam tradisi puasa, sabar bukan sekadar kemampuan menahan diri, tetapi juga bisa menjadi salah cara manusia untuk mencari pertolongan di tengah keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Kita diajak untuk tidak buru-buru melawan rasa tidak nyaman, tidak bergegas mengusir lelah, dan tidak segera menuntut keadaan agar berubah sesuai keinginan.

Sabar, dalam makna ini, mengajak kita mengambil jeda sejenak, mengakui diri ini serba terbatas, lalu belajar bagaimana bertumpu dengan benar.

Ya, Ramadhan sedang membisikkan bahwa pertolongan tidak selalu datang dalam solusi cepat atau keadaan yang langsung membaik.

Mengapa Bersabar Terasa Berat bagi Otak?

Selama ini kita sering mengira sabar adalah persoalan akhlak semata: siapa yang kuat, dia mampu menahan diri; siapa yang lemah, dia mudah marah.

Padahal, dari sudut pandang psikologi dan neurosains, sabar juga berkaitan erat dengan cara kerja otak.

Artikel yang dimuat di Psychology Today berjudul "The Neuroscience of Patience" menjelaskan bahwa kemampuan menunggu sangat dipengaruhi oleh sistem kimia otak, terutama serotonin, neurotransmiter yang berperan dalam pengaturan emosi, impulsivitas, dan perasaan sejahtera.

Artinya, sabar bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga tentang bagaimana otak memproses harapan dan kemungkinan hasil.

Riset yang dilakukan para peneliti di Okinawa Institute of Science and Technology mengemukakan tentang hal ini.

Mereka melakukan eksperimen sederhana. Tikus diminta menunggu beberapa detik sebelum mendapatkan makanan.

Hasilnya, ketika tikus “percaya” peluang mendapat makanan cukup tinggi, kadar serotonin di otak meningkat dan mereka mampu menunggu lebih lama.

Sebaliknya, ketika peluangnya rendah, serotonin tidak lagi mendorong kesabaran.

Temuan riset ini mencerminkan bahwa kesabaran tidak hanya dipengaruhi kimia otak, tetapi juga oleh keyakinan bahwa menunggu itu tidaklah sia-sia.

Ada bahan renungan lainnya dari hasil riset di atas. Manusia sering kali sabar bukan karena dirinya luar biasa kuat, tetapi karena ia percaya. Percaya bahwa yang ditunggu ada. Percaya bahwa penantian akan mengarah kepada sesuatu.

Inilah sebabnya kita relatif merasa lebih tenang menunggu antrean dengan estimasi waktu yang jelas, misalnya “20 menit lagi giliran Anda” dibandingkan menunggu kabar hasil lamaran kerja, hasil observasi medis, atau balasan pesan yang tidak tahu kapan datangnya.

Yang melelahkan bukan durasinya, tetapi ketidakpastiannya.

Pendek kata, otak manusia sebenarnya tidak takut menunggu. Yang kita takuti adalah menunggu tanpa kepastian, menunggu tanpa makna, menunggu tanpa harapan.

Di titik inilah sabar berubah dari sekadar menahan diri menjadi sebuah proses memberi makna pada penantian. Kita tidak hanya bertanya, “Berapa lama lagi aku harus menunggu?”, tetapi juga, “Apa yang aku percaya selama dalam proses menunggu ini?”

Sabar sebagai Harapan, Bukan Sekadar Ketahanan

Dari sini, sains dan spiritualitas seolah bertemu di satu titik yang sama.

Apabila neurosains menunjukkan bahwa manusia mampu menunggu ketika memiliki harapan, maka pesan spiritual tentang sabar sebagai jalan mencari pertolongan menjadi terasa sangat manusiawi.

Memang betul, kesan yang sekilas muncul adalah sabar sebagai sikap pasif.

Di satu sisi, sabar bisa menjadi proses aktif yang memberi makna pada penantian sekaligus sebuah harapan yang membuat manusia mampu bertahan.

Dalam konteks itulah, kesabaran bukan hanya kemampuan menahan diri, tetapi kemampuan percaya bahwa sesuatu yang baik layak ditunggu.

Meminta pertolongan melalui sabar artinya sama dengan memercayai bahwa tidak ada waktu yang sia-sia. Memercayai bahwa setiap jeda, setiap lambat, setiap tertunda, membawa kita menuju sesuatu, meski kita belum tahu bentuknya.

Kita manusia sering mengira sabar adalah kekuatan karakter. Padahal, sabar lebih sering hadir sebagai hasil dari harapan. Ketika harapan itu ada, menunggu jadi terasa mungkin dilakukan.

Ketika harapan itu hilang, menunggu berubah menjadi beban.

Maka dari itulah, sabar bukan sekadar soal seberapa kuat kita menahan, tetapi seberapa dalam kita meyakini bahwa perjalanan hidup kita memiliki arah.

Berbagai tulisan psikologi modern menunjukkan bahwa kesabaran jarang lahir dari keputusan besar, melainkan dari jeda-jeda (pause) kecil.

Kita acap kali "terbantu" dan "selamat" setelah memberi ruang sepersekian detik sebelum bereaksi. Bukan untuk langsung menenangkan diri secara sempurna, melainkan sekadar menunda respons pertama.

Dalam jeda singkat itu, seperti dilansir Time, banyak orang jadi lebih menyadari bahwa dampak buruk yang terjadi seperti perasaan emosi, kesal, kecewa, atau lelah, terjadi karena kita sering merasa tidak sabar.

Di saat-saat seperti ini, sebagian orang menemukan bahwa memperlambat napas secara sadar membantu memperlambat pikiran.

Ketika napas melambat, tubuh seolah memberi sinyal bahwa keadaan tidak seburuk yang dibayangkan.

Seiring itu, kita lebih mudah mengalihkan perhatian dari hal-hal yang jelas di luar kendali, sikap orang lain, lamanya antrean, atau hasil yang belum pasti.

Tentu itu bukan berarti kita berhenti peduli. Yang kita lakukan adalah berhenti menjadikan semua itu sebagai pusat kendali emosi.

Menurut Psychology Today, kesabaran juga berpotensi tumbuh ketika cara kita menafsirkan situasi berubah. Kita terbantu saat kita mulai memandang keterlambatan sebagai bagian dari proses, alih-alih kegagalan.

Hati kita juga bisa jadi lebih ringan ketika kita mencoba membangun ekspektasi waktu yang realistis, bahwa tidak semua hal bisa selesai cepat, tidak semua jawaban datang hari ini, dan tidak semua usaha langsung berbuah.

Perlahan, kesabaran menjadi bukan soal menahan diri sekuat mungkin, melainkan soal membangun hubungan yang lebih jujur dengan waktu.

Pada akhirnya, pengalaman Ramadhan tidak "hidup" di dalam ritual di dalam masjid saja, tetapi juga tecermin dalam keputusan-keputusan kecil kita sehari-hari.

Seperti cara kita merespons pesan yang datang terlambat, bagaimana kita menghadapi kemacetan saat pulang kerja, atau menunggu hasil yang belum pasti, sambil tetap harus menjalani hari.

Mungkin sabar bukan tentang tidak pernah marah, tidak pernah lelah, atau selalu tenang. Dalam hal ini, sabar mungkin lebih tentang memberi diri kita waktu atau jeda sebelum memutuskan menjadi sosok yang bagaimana pada hari ini.

Selama jeda itulah, kita sedang belajar untuk percaya bahwa waktu tidak sedang menyia-nyiakan kita, dan bahwa setiap penantian, sekecil apa pun, bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik.

Artikel menarik lainnya seputar Ramadhan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait LATEST WP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih