Menuju konten utama

Serasa Jalan di Cangkang Telur, Inilah "Vulnerable Narcissist"

Narsistik yang rentan mampu tampil dengan citra pemalu, tidak menonjol, bahkan terkadang justru dikasihani orang lain.

Serasa Jalan di Cangkang Telur, Inilah
Header Diajeng Si Narsistik Rentan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Pernah melihat akting Sabrina Carpenter di dalam film The Hate U Give (2018)?

Kamu akan menyaksikan betapa menyebalkannya sikap Sabrina saat memerankan karakter bernama Hailey Grant.

Dalam film tersebut, si pelantun Manchild menjadi sahabat dari Starr Carter (diperankan Amandla Stenberg), tokoh utama berkulit hitam.

Meski dari luar terlihat akrab, sesungguhnya persahabatan keduanya sangat rapuh. Sebab, diam-diam dan secara halus, Hailey menunjukkan sikap rasisme dengan melontarkan guyonan yang menyinggung komunitas kulit hitam di Amerika.

Saat dikonfrontasi, alih-alih merasa bersalah, Hailey justru berakting seperti korban.

Ia tidak terima disebut sebagai orang yang rasis dan malah balik menuduh Starr yang selalu menjadi sasaran dari guyonan kasarnya, telah bersikap berlebihan.

Dalam hidup, setidaknya kita pasti bertemu dengan sosok seperti Hailey: manipulatif, memandang dunia tidak adil kepada dirinya, dan selalu menempatkan diri sebagai korban dalam setiap kejadian.

@dewythekidd

you can"t even see that you acting racist, huh? | the hate u give #thehateugive#sad#racism#fyp#moviequotes#edit#dewy

♬ original sound - dewy.

Sosok-sosok semacam itu selalu berhasil menguras energi karena mereka tidak berhenti membandingkan hidupnya yang selalu dirasa lebih sulit dengan orang lain.

Gejala perilaku pada individu tersebut kemungkinan mengarah pada vulnerable narcissism atau bisa diterjemahkan menjadi “narsisme yang rentan”

Narsisme rentan ini adalah tipe narsisme baru yang tidak sepopuler grandiose narcissism.

Dilansir Washington Post, dijelaskan bahwa grandiose narcissism berhubungan dengan dorongan individu untuk mendominasi kondisi sosial serta memiliki kepekaan tinggi terhadap sekitar.

Ciri-ciri yang mudah dikenali pada orang dengan grandiose narcissism adalah sikap sombong, angkuh, dan tidak mau kalah.

Sementara itu, vulnerable narcissism berhubungan dengan insecurity atau perasaan tidak aman.

Tidak jarang, sikap orang yang mengidap narsisme ini kerap dihubungkan dengan hypersensitivity alias mudah sensitif terhadap banyak hal, salah satunya kritik.

Seorang yang mengidap narsisme rentan mampu tampil dengan citra pemalu, tidak menonjol, bahkan terkadang dalam kondisi yang membuat orang lain merasa kasihan.

"Individu yang mengidap narsisme rentan cenderung tidak percaya diri, sensitif terhadap penolakan, dan membutuhkan validasi terus-menerus dari orang lain,” jelas Joni Ogle, pekerja sosial klinis di Houston, dikutip dari PsychCentral.

“Kemungkinan mereka juga merasa tidak pernah cukup, cemas, dan depresi akibat keinginan besar untuk diakui," lanjut Ogle lagi.

Namun, berbeda dari grandiose narcissist yang terang-terangan membuat orang lain jengkel atau jengah untuk mendekat, sulit untuk memutus hubungan dengan pengidap narsisme rentan.

Sifat-sifat yang ditampilkan justru mendorong orang-orang di sekitar merasa perlu menyelamatkan si vulnerable narcissist.

Psikolog Sarah Davies jauh-jauh hari memberikan peringatan: pengidap narsisme rentan menjadikan rasa takut dan perasaan bersalah dari orang sekitarnya sebagai kartu AS untuk melakukan manipulasi.

Sikap mereka tidak ditampakkan secara terang-terangan, tetapi justru hal itulah yang membuatnya sulit untuk dideteksi.

"Coba saja jika kamu bisa mengenali momen ketika 'si korban' ini mencoba untuk menjebak dengan menjadikanmu penyelamatnya. Kewaspadaan adalah kunci,” ujar Davies.

“Aku selalu memperingatkan klien untuk membentengi diri dengan sebanyak mungkin informasi, dengan begitu mudah bagi mereka untuk mengenali si narsistik dan segera menghindar dari hubungan abusif yang mungkin terjadi," tegasnya lagi.

Sayangnya, dalam menjalankan hidup sehari-hari, bertemu dengan orang-orang narsistik bukanlah sesuatu yang dapat dihindari.

Seperti kata Davies, cara paling tepat untuk menghadapi pengidap narsisme rentan adalah mencoba meraup sebanyak mungkin pengetahuan tentang kelakuannya.

Vulnerable narcissism tidak hadir dari ruang kosong.

Sifat-sifat menyebalkan yang mereka adopsi saat dewasa merupakan manifestasi dari masa kecil yang tidak ideal dan ekosistem yang tidak sehat.

Penelitian yang dikerjakan oleh tim pimpinan Marcin Zajenkowski, “Narcissus Locked in the Past” (2021), menemukan bahwa dibandingkan jenis narsisme lain, pengidap narsistik rentan lebih banyak yang menjalani masa kecil dengan tidak bahagia.

Saat cilik, kelompok ini berurusan dengan pengabaian dan penyiksaan secara emosional oleh orang-orang terdekat.

Kedua faktor tersebut membuat vulnerable narcissist menjalani masa dewasa dengan rasa tidak percaya sekaligus mudah curiga terhadap orang lain, serta mengembangkan sikap-sikap antagonis.

"Terus-menerus terjebak dalam kemarahan yang didorong oleh perasaan malu kemungkinan besar menjadi pendorong terbesar meningkatnya sikap agresif narsistik rentan."

Demikian penelitian tersebut menjelaskan lebih lanjut.

Ya, si narsistik rentan sulit untuk merelakan atau melupakan masa kecil yang tidak menyenangkan dan bahkan cenderung menyakitkan.

Ilustrasi Sombong

Ilustrasi Sombong. foto/istockphoto

Pada akhirnya, memori tersebut membuat kemarahan dalam diri mereka awet dan terpelihara.

"Para narsistik ini terluka dan mereka menggunakan topeng untuk menyembunyikan kesedihan yang mendalam," tutur psikoanalis Maxine Mei-Fung Chung.

Meski rasanya tidak mengenakkan, mengenal sisi lain dari vulnerable narcissism membuat kita menjadi lebih empati pada orang yang mengidapnya.

Informasi tersebut juga membuat kita menjadi lebih paham terhadap gejolak dalam diri si narsistik rentan, sekaligus menghindarkan diri sendiri dari hubungan beracun yang sulit diputus.

Pemahaman atas satu fenomena dari banyak sisi membuat manusia secara tidak sadar mengembangkan sikap empati dan simpati, termasuk kepada si narsistik rentan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih