Menuju konten utama
Ruang Refleksi Diajeng

Seusai Memarahi & Membentak Anak: Latihan Regulasi Emosi Bersama

Bagaimana cara memastikan bahwa anak merasa tetap dicintai, meski ia sempat terluka dengan suara dan sikap orang tua ketika marah?

Seusai Memarahi & Membentak Anak: Latihan Regulasi Emosi Bersama
Heade [DIAJENG belajar Mereg Usai Marah dan Berteriak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Cara anak-anak mengalami konflik dengan orang tua membentuk dasar bagi banyak keyakinan dan harapan penting di kemudian hari.

Kemampuan untuk memperbaiki hubungan yang retak dengan bijaksana setelah konflik terjadi sangatlah penting.

Selaras dengan beberapa kali momen yang kualami, ketika aku tidak mampu menahan emosi, lalu suara meninggi, kata-kata meluncur lebih cepat dari pikiranku, dan aku sangat menyadari bahwa aku sedang berteriak pada anakku.

Saat itu terjadi, yang tersisa bukan hanya keheningan setelah ledakan, tetapi juga rasa sesak di dada.

Ada perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah aku merusak sesuatu yang rapuh di antara aku dan dirinya.

Aku paham betul, menjadi orang tua bukan berarti selalu benar. Aku juga bisa keliru, bisa terbawa arus marah, bisa berteriak dan kehilangan kendali.

Namun begitu, di balik itu ada kesadaran yang perlahan tumbuh: anakku berhak mendapatkan versi terbaik dariku, meski aku sering jatuh bangun dalam prosesnya.

Penyesalan itu nyata, dan justru dari sanalah aku belajar bahwa aku perlu meregulasi emosiku agar tidak terus terjebak dalam siklus marah dan sesal.

Di titik ini, aku mulai menyadari pentingnya berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu kembali pada anak dengan hati yang lebih lembut.

Aku belajar untuk mengakui kesalahanku, memvalidasi perasaannya, dan merajut kembali hubungan yang sempat koyak karena amarah.

Bukan sekadar meminta maaf, tetapi juga menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Setiap perbaikan kecil dapat menyembuhkan luka sekaligus mengajarkan anak bahwa cinta selalu bisa kembali menemukan jalannya, bahkan seusai badai mereda.

Dan di sinilah aku mulai mencari cara tentang bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan dengan anak setelah badai konflik yang terjadi?

Bagaimana aku bisa memastikan bahwa anakku merasa tetap dicintai, meski ia sempat terluka dengan suara dan sikapku?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku belajar lebih dalam tentang validasi, tentang pentingnya repair, dan tentang kekuatan sebuah permintaan maaf yang tulus.

Cara Memperbaiki Kesalahan Saat Terlanjur Marah

Kumala Windya Rochmani, M.Psi, Psikolog mengatakan bahwa seorang ibu bisa memperbaiki kesalahannya setelah marah melalui tindakan dan ucapan agar anak bisa merasa tetap dicintai.

Beberapa hal yang disarankan Kumala adalah:

1. Akui salah dengan segera

Setelah menyadari bahwa ibu telah melakukan kesalahan kepada anak, segera beri anak afirmasi yang baik, seperti memberikan kata-kata penenang.

"Katakan dengan sederhana, 'Tadi ibu marah, itu salah Ibu. Kamu tidak sepenuhnya salah',” ucap Kumala.

2. Validasi perasaan anak

Hal kedua, lanjutnya, adalah dengan memvalidasi apa yang dirasakan oleh anak, contoh

ucapannya seperti, "Ibu mengerti kamu pasti kaget atau sedih saat ibu marah.”

3. Memperbaiki perilaku

Perbaikan perilaku juga harus dilakukan agar anak tidak merasa takut kepada ibunya.

"Setelah minta maaf, langsung peluk anak atau ajak aktivitas kecil yang menenangkan," imbuh Kumala.

4. Konsistensi

Menurut Kumala, konsistensi juga menjadi hal yang wajib. "Ulangi langkah ini setiap kali terulang, supaya anak belajar pola yang sehat," sebut Kumala.

Mengajarkan Regulasi Emosi kepada Anak

Selain memperbaiki kesalahan, dosen dari Fakultas Psikologi UNY ini menyarankan agar ibu mengajarkan regulasi atau membuat aturan ke anak agar hubungan antara ibu dan anak tetap terjaga dengan baik.

1. Self-awareness

Menurutnya, kesadaran diri ibu atau self-awareness penting demi menjaga Kesehatan.

"Sadari tanda-tanda awal emosi, misalnya jantung berdebar atau suara meninggi. Katakan pada anak, kalau ibunya sedang butuh tenang dulu," ujar Kumala.

2. Time-out positif

Tunjukkan pada anak bahwa boleh berhenti sejenak sebelum bicara atau marah.

3. Gunakan bahasa emosi

Ada banyak jenis emosi yang bisa dipelajari anak dan ibu bisa mengajarkannya satu per satu.

"Sebutkan emosi dengan kata-kata sederhana: marah, kecewa, lelah, senang. Ini tujuannya agar anak belajar menamai perasaan," terang Kumala.

4. Teknik tenang Bersama

Ajarkan pula bagaimana cara bisa tenang setelah kemarahan melanda.

"Misalnya, minta anak menarik napas dalam, hitung sampai 5, atau gunakan mainan pereda stres, seperti stress ball, gambar, dan musik," jelasnya.

5. Refleksi setelahnya

Ceritakan juga bagaimana proses meregulasi emosi, misalnya, “Tadi ibu hampir marah, tapi ibu tarik napas dulu supaya bisa ngomong lebih baik,” kata Kumala.

6. Konsistensi dan Latihan

Yang terakhir adalah dengan konsisten dan latihan. "Anak butuh sering melihat contoh nyata, bukan hanya teori," pungkasnya.

Dikutip American Psychological Association (APA), pada titik tertentu, ketika ada bayi menangis, balita mengamuk, dan anak marah, orang tua berharap anak-anak mereka mulai mengelola perasaannya tanpa amukan hebat.

Namun, belajar mengatur emosi adalah proses yang kompleks.

Pengaturan emosi membutuhkan banyak keterampilan, termasuk perhatian, perencanaan, perkembangan kognitif, dan perkembangan bahasa.

Anak-anak sering kali menjadi cermin dari energi yang dipancarkan orangtuanya.

Jika kita ingin anak bersemangat, maka kita perlu menghadirkan energi itu lebih dulu dengan suara yang penuh semangat, dengan instruksi yang jelas, bahkan dengan sikap yang tegas dan intens.

Namun, ketika ingin mereka tenang, orang tua juga yang harus lebih dulu menurunkan gelombang. Seorang ibu perlu diam, melembutkan suara, menenangkan gerak tubuh, dan menunjukkan kehadiran yang menenteramkan.

Ini artinya, aku cukup berdiri di samping mereka, atau memberi sentuhan lembut di bahu, agar mereka tahu bahwa aku ada di sini untuknya.

Masih menurut APA, setiap kali anak berhasil menggeser perasaan kesal menuju tenang, sesungguhnya ia sedang berlatih keterampilan hidup yang berharga.

Seiring waktu, tubuh dan pikirannya mulai mengenali ritme itu, hingga perlahan ia mampu menenangkan diri tanpa harus selalu dibantu.

Amukan yang dulu terasa melelahkan akan muncul lebih jarang, mereda lebih cepat, dan pada akhirnya hampir menghilang seiring bertumbuhnya kemampuan regulasi diri mereka.

Dilansir Parents League, psikoterapis Tina Payne Bryson mengungkapkan, saat anak berulang kali dilatih dan didukung orang tua untuk mengendalikan diri setelah mengalami kondisi kacau, otaknya akan belajar untuk melakukannya sendiri.

Maka dari itu, setiap luapan emosi bukanlah sekadar masalah yang harus dihindari, melainkan peluang. Itulah kesempatan berharga bagi anak untuk tumbuh lebih kuat, lebih bijak dalam mengelola perasaan, dan lebih anggun menghadapi kekecewaan.

Artikel lainnya terkait hubungan ibu dan anak juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih