Menuju konten utama

Tak Terjebak di Satu Gaya Pop, Tripov Bebas Jelajahi Genre & Era

Album kedua dari trio pop Tripov, Sugar Coat Inc (2025), berupaya merekam dinamika proses pendewasaan secara manis, berikut lika-liku relasi di dalamnya.

Tak Terjebak di Satu Gaya Pop, Tripov Bebas Jelajahi Genre & Era
Header Diajeng Profil Tripov. tirot.id/Quita

diajeng.id - Trio musik pop Tripov bisa jadi terlahir dari ketidaksengajaan.

Evan Asher, seorang gitaris di Jakarta, awalnya berinisiatif menciptakan demo lagu untuk diajukan kepada penyanyi profesional.

Proyek ini tidak dikerjakan sendirian. Evan ditemani dengan Yoga Bagaspati, pemain bass yang juga sahabatnya sedari masa kuliah musik, dan Jilie Kezia, vokalis yang pernah mengerjakan album gereja bersama Evan.

Di tengah kesunyian era pandemi, ketiganya berhasil menemukan penghiburan melalui proses kreatif bermusik.

Menariknya, ketika akhirnya tercipta tiga demo lagu yang terdengar rapi dan solid, mereka justru dihujani dengan keraguan, jika bukan percikan ilham. Apa sebaiknya lagu-lagu ini dipopulerkan sendiri, alih-alih ditawarkan untuk penyanyi lain?

Pada momen itulah, Evan, Yoga, dan Jilie terketuk dengan realitas bahwa petualangan bermusik mereka baru saja dimulai. Ya, perahu Tripov telah resmi berlayar.

Debut pada 2021, Tripov merilis sejumlah single sarat nuansa beat asyik yang mengundang siapa pun yang mendengarnya untuk ikut berdendang dan bergoyang, seperti Extra, Dance Dance Dance, All Day All Night.

Lagu yang disebut terakhir juga dirilis dalam versi remix bersama EEVNXX (YouTuber Agung Hapsah). Kolaborasi tersebut semakin menggemakan nama Tripov di jagat TikTok.

Kematangan perjalanan kreatif Tripov kian terpancar dari album perdana Honest Opinions (2023).

Kompilasi yang dilengkapi dengan single-single lama ini menunjukkan keluwesan Evan, Yoga, dan Jilie dalam menyelami luasnya samudra genre musik.

Dari pop ceria yang super catchy, R&B, lo-fi santai, sampai folk hangat, semua mampu mereka kuasai dengan cantik dan ciamik.

Kreativitas mereka dalam menyusun lirik yang puitis dan menyentuh, seperti ditemukan pada Round & Round, Rather be Alone, dan Moonlight, juga patut diacungi jempol.

Refleksi Menjadi Dewasa: Sugar Coat Inc

Tahun ini, Tripov kembali unjuk gigi dengan proyek album kedua, Sugar Coat Inc.

Dirilis secara bertahap, setiap single dalam Sugar Coat Inc merekam upaya pencarian jati diri Jilie, Evan, dan Yoga dalam menavigasi lika-liku absurditas dan pahitnya proses bertumbuh dewasa.

Lagu pertama yang rilis April lalu, MIA—merujuk pada “missing in action”— berisi curahan hati akan rasa frustasi dalam perjuangan menjangkau dan memahami “the one”.

Tak lama kemudian, hadir upbeat pop berjudul Twenties yang secara blak-blakan merangkum segudang kegelisahan “quarter life crisis” berikut hantu-hantu tuntutan sosial dan hujan ekspektasi yang datang dari diri sendiri.

Awal Agustus kemarin, Push & Pull menjadi ekspresi akustik teranyar trio pop ini untuk merefleksikan kembali perjumpaan asmara pada jiwa-jiwa muda yang dipenuhi harapan.

Tripov mengakui, Sugar Coat Inc merupakan kerja kreatif mereka yang paling jujur dan personal karena berangkat dari refleksi dan pemaknaan ulang aspek-aspek kehidupan yang tengah, dan sudah, dilalui—terutama terkait relasi dan romansa.

“Intinya, di album ini kita ingin lebih otentik secara perasaan. Kita ingin membungkus momen-momen di hidup menjadi sesuatu yang manis—makanya nama albumnya Sugar Coat Inc,” papar Jilie saat mengisi sesi Arisan Diajeng Tirto pada pada Jumat, 18 Juli 2025 lalu.

Yoga menimpali, di album ini, Tripov bisa dianalogikan pabrik sugarcoat yang berupaya melapisi sisi-sisi pahit kehidupan dengan gula-gula agar terkesan manis.

“Kita orang sarkastis sebenarnya, tapi membalut lagu dengan sesuatu yang fun,” aku Yoga.

Tentu jadi pertanyaan menarik, bagaimana cara mereka dapat mengembangkan sensibility atau perasaan peka dengan baik, sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang begitu kontemplatif, jujur, dan spontan sampai menyentuh hati para pendengarnya?

Terkait ini, jawabannya lekat dengan nyawa Sugar Coat Inc: proses pendewasaan.

Di masa lalu, Evan mengakui, sebagai laki-laki terutama, dirinya pernah disebut lebih mengandalkan logika daripada kepekaan emosional.

“Bukannya tidak mau peka, tapi dari kecil tidak terlatih dan tidak terbiasa,” akunya.

Bagi Evan, kepekaannya mulai terlatih semenjak masa-masa kuliah, kemudian ketika dia dihadapkan pada realitas dunia kerja, dan momen quarter life crisis.

“Di saat itulah baru merasa, oh, sebelum menggunakan logika sebagai laki-laki, kita harus mulai dari empati dulu. Kita harus aware, kenapa orang ini melakukan A, kenapa dia bereaksi B atau C. Lebih hold back, dan memikirkan perasaan dia, alih-alih menilai yang dia lakukan,” lanjut Evan.

Dari situlah, Evan menyebut, dia merasa dapat menulis dari hati dengan lebih baik dalam proses pembuatan album.

Kekayaan Genre, Lintas Masa dan Nuansa

Ketegasan Tripov untuk menolak citra “typical pop band” mustahil dipisahkan dari kenyamanan mereka selama ini dalam menyelami keberagaman genre.

Jilie tegaskan bahwa mereka memperlakukan album Sugar Coat Inc selayaknya sandbox atau playground untuk dieksplorasi.

Setiap proses kreatif, kata Yoga, selalu diawali dengan mendengarkan lagu-lagu yang sudah mereka susun di playlist.

Referensi ini begitu kaya, sebut di antaranya Erykah Badu, Yoasobi, NewJeans, Coldplay, 1975, Whitney Houston.

Mereka pun sama-sama terbuka dengan karya musik lintas zaman, dari era rekaman bossa nova “jadul” Antônio Carlos Jobim, sampai dance pop modern Sabrina Carpenter, timpal Evan.

Dimulai dari situ, mereka menentukan mood atau nuansa yang tepat untuk dikembangkan menjadi komposisi baru.

Proses kreatif yang luwes tersebut tecermin dari Sour Candy yang rilis bulan lalu.

Nomor ini berangkat dari kesan mendalam Evan terhadap sebuah lagu jazz bernuansa samba dan swing. Apa jadinya kalau spirit tersebut dikawinkan dengan tren populer hari ini, Afrobeat dan R&B?

Pada saat itu, mereka juga tengah menikmati Water yang bikin bergoyang dari penyanyi Afrika Selatan, Tyla dan eksperimen jazz Cinnamon Crush dari Jacob Collier.

Akhirnya, terciptalah Sour Candy, serenade cinta yang romantis, seksi, dan penuh intimasi.

Meski kreasi mereka diwarnai dengan berbagai mood, rasa, dan inspirasi lintas genre serta zaman, Yoga tegaskan bahwa mereka teguh memijakkan kaki di ranah musik populer.

Pertimbangan tersebut diambil karena keinginan agar karya-karya mereka, terutama di bagian chorus, dapat dinyanyikan dengan mudah, bahkan dari sekali dengar saja.

“Itu yang membuat kami ‘pop’ meskipun flavour-nya berbeda-beda,” ujar Yoga.

Terlebih itu itu, keputusan untuk menulis seluruh lagu dalam bahasa Inggris didorong oleh aspirasi Tripov untuk memperluas jangkauan pendengarnya.

Dengan begitu, lagu-lagu mereka menjadi lebih “ramah” untuk audiens di luar Tanah Air, setidaknya dimulai untuk penikmat musik di Asia Tenggara.

Keseluruhan 10 nomor dalam Sugar Coat Inc akan dapat dinikmati pada 9 Oktober 2025.

Sampai hari itu tiba, trio ini disibukkan dengan persiapan rilis lagu, promosi, dan sesi latihan untuk pementasan di panggung festival musik Pestapora pada awal September mendatang.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dhita Koesno