diajeng.id - Dalam rutinitas keseharian, percakapan ramah dengan antartetangga, penampakan ruang kerja yang tenang, dan hal-hal wajar dari interaksi sosial lainnya, masih ada pertanyaan yang kadang tebersit di pikiran: mengapa selalu ada saja orang yang menyakiti dan melukai orang lain?
"The banality of evil—kejahatan yang banal”, frasa terkenal dari filsuf politik, penulis, dan penyintas Holocaust, Hannah Arendt, menunjukkan bahwa tindakan jahat bisa jadi dilakukan oleh orang biasa, dalam keadaan biasa, tanpa kebencian yang luar biasa, atau sekadar mengikuti perintah dari atasan saja.
Memahami fenomena ini mengajak kita melihat sisi lain manusia: bahwa orang yang secara moral terlihat “baik-baik saja" pun bisa terseret menjadi pelaku tindakan merugikan.
Ada latar belakang psikologis, sosial, dan struktural yang membentuk perilaku tersebut, mulai dari dorongan untuk patuh pada otoritas, kebutuhan mempertahankan identitas kelompok, hingga pengalaman hidup atau pola pikir yang membatasi empati.
Kenapa Orang Baik Bisa Melakukan Tindakan Jahat?
Dikutip Psych Central, ada beberapa alasan orang-orang yang mungkin kita anggap baik bisa melakukan tindakan kejahatan:
1. Trauma Masa Lalu dan Peristiwa Buruk
Perilaku kita di masa kini sangat mungkin dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dari masa lalu.Menurut psikolog Dr. Rod Mitchell dari Calgary, “Orang baik mungkin bertindak merugikan ketika dipicu oleh trauma yang belum terselesaikan. Seperti bayangan masa lalu, trauma ini dapat sesaat mengaburkan kebaikan hati manusiawi mereka.”
2. Mode Bertahan Hidup
Ketika seseorang hidup dalam keadaan terpojok dan terdesak, seperti kehilangan pekerjaan, mengalami tekanan finansial, dan ketidakpastian masa depan, maka akal sehatnya juga tidak bisa berjalan.Di titik di mana kebutuhan dasar terancam, orang baik bisa tergoda melampaui batas moralnya. Bukan karena mereka berubah menjadi “jahat”, tetapi karena rasa putus asa dapat mengecilkan pertimbangan etis.
3. Kurangnya Kesadaran Diri
Ketika seseorang tidak benar-benar memahami emosi, nilai, atau batasannya sendiri, tindakan impulsif mudah terjadi.Dalam kondisi stres atau kewalahan, kata-kata atau tindakan yang menyakitkan kerap muncul tanpa disadari. Ini tak lain merupakan proyeksi dari rasa terluka yang belum dipahami.
Tanpa jeda untuk merenung, orang baik pun bisa bertindak yang bertentangan dengan keyakinannya sendiri. Alasannya lebih pada kehilangan koneksi dengan diri sendiri, alih-alih kehilangan kompas moral.
4. Kebaikan yang Lebih Besar
Bukan tidak mungkin, keinginan untuk melakukan hal yang benar juga menimbulkan risiko negatif. Ketika seseorang percaya bahwa tujuan mulia layak dicapai dengan cara apa pun, batas-batas moral sangat mungkin menjadi kabur."Kadang-kadang, orang baik melakukan hal yang mereka yakini demi 'kebaikan yang lebih besar', tanpa menyadari konsekuensi buruknya. Kesalahpahaman ini muncul dari kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam mengendalikan atau memprediksi hasil," jelas Dr. Rod Mitchell.
5. Gangguan Kesehatan Mental
Kesehatan mental yang dialami seseorang juga bisa memengaruhi cara ia berpikir dan berhubungan dengan orang lain. Kondisi tertentu, seperti gangguan kepribadian yang menurunkan empati, dapat membuat perilaku seseorang tampak kasar atau manipulatif.Kondisi depresi atau kecemasan misalnya, juga dapat memunculkan perilaku yang salah dipahami sebagai “buruk”, seperti menarik diri atau mengabaikan tanggung jawab. Dalam sejumlah contoh kasus, perilaku tersebut lebih merupakan ekspresi dari beban batin, alih-alih niat melukai atau menyakiti orang lain.
Menurut pakar etika kepemimpinan Craig Johnson melalui laman Psychology Today, dalam banyak kasus koruptor jahat, baik pemimpin ataupun pengikutnya, pada awalnya mereka bukanlah sosok yang jahat.
Namun, ada proses bertahap yang membuat seseorang perlahan melepaskan nalar dan prinsip moralnya. Mereka mulai melihat tindakan buruk sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dapat dijustifikasi atau dibenarkan.
Proses ini biasanya dimulai dari keyakinan bahwa diri kita lebih bermoral dari kenyataannya.
Perasaan bahwa “diriku sendiri adalah orang baik” dapat membuat kita menutup mata terhadap pilihan yang meragukan. Ketika moral mulai tercerabut, kita kerap mencari alasan pembenaran untuk tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.
Salah satunya adalah fokus berlebihan pada hasil akhir.
Johnson menyebut proses ini sebagai “deaktivasi standar moral”, jalur yang sekalinya dinyalakan, akan dapat menggeser jauh batas-batas etis seseorang, hingga perilaku buruk terasa seperti bagian yang normal.
Sebuah penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2014 juga menunjukkan bahwa tindakan buruk lebih mudah terjadi ketika seseorang menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Konteks kelompok mampu menciptakan kerja sama dan pencapaian besar yang tak mungkin dilakukan individu. Di sisi lain, terdapat sisi gelap dari kebersamaan itu: identitas “kita” dan “mereka” dapat membuat orang lebih rela menyakiti pihak luar.
Menurut salah satu anggota peneliti, Rebecca Saxe, dalam konteks kelompok, standar moral pribadi sering kali meredup.
“Sekelompok orang acap kali terlibat dalam tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan standar moral pribadi masing-masing, menyeret orang-orang yang sebenarnya baik menjadi bagian dari ‘massa’ yang melakukan penjarahan, perusakan, bahkan kekerasan fisik," ujar Saxe.
Studi yang dilakukan Saxe dan timnya menunjukkan adanya penurunan aktivitas otak yang terkait dengan refleksi diri ketika seseorang bertindak sebagai bagian dari kelompok. Saat kontak dengan moral pribadi melemah, tindakan yang sebelumnya dianggap salah dapat terasa lebih dapat diterima.
Namun, temuan ini juga mengisyaratkan harapan. Kita diingatkan untuk menyadari bahwa nilai dan keyakinan pribadi bisa menjadi penyangga terhadap “mentalitas massa”. Di tengah dinamika kelompok yang kuat, kesadaran moral diri tetap menjadi perlindungan penting agar kita tidak kehilangan arah.
Editor: Sekar Kinasih