Menuju konten utama
GWS

Tidak Ada Brain Rot, Kita Hanya Latah terhadap Media Sosial

Internet dan media sosial tidak melumpuhkan kemampuan kognitif, kita hanya memilih untuk mengandalkan alat bantu yang memungkinkan hal tersebut.

Tidak Ada Brain Rot, Kita Hanya Latah terhadap Media Sosial
Ilustrasi Berkomentar di Media Sosial. Getty Images/iStockphoto

diajeng.id - Sepanjang 2024, brain rot atau brainrot menjadi kosakata paling populer. Frasa yang memiliki arti bebas "pembusukan otak" ini sebetulnya tidak menggambarkan rusaknya otak secara literal, melainkan metafora kemerosotan kondisi mental dan intelektual manusia akibat internet dan media sosial. Sebabnya, masyarakat modern terlampau banyak mengonsumsi konten receh.

Konten-konten yang termasuk dalam kategori receh adalah konten pendek, baik unggahan tulisan, foto, atau video yang tidak mendalam, serta bertujuan sebagai hiburan ringan. Kadang kala, konten-konten tersebut sukar dijelaskan maknanya secara gamblang, namun menjadi penghubung kelucuan anak-anak muda. Misalnya, brain rot "Ballerina Cappucina" atau yang terkenal pada Ramadan tahun lalu: "Tung tung (sembilan kali) sahur". Siapa yang paham arti dan maknanya?

Konten-konten receh tersebut dipandang sebagai candu yang membuat pengguna media sosial betah menatap layar berjam-jam. Akibatnya, seperti anggapan banyak orang: fatal, karena dapat berujung pada "pembusukan otak" yang terjewantahkan dalam penurunan kemampuan konsentrasi dan daya pikir.

Sebagai misal, laporan Laurie Ann Manwell dan kolega dalam International Journal of Mental Health and Addiction (2021). Hasil studinya menerangkan bahwa durasi menatap layar berlebih dapat berdampak negatif pada perkembangan saraf otak, kapasitas pembelajaran, memori, kesehatan mental, hingga peningkatan risiko penurunan kognitif dini. Semua itu merujuk pada kondisi yang lazim kita sebut sebagai brain rot.



Kajian tim dari Fakultas Psikologi Universitas Wilfrid Laurier, Kanada, tersebut mengungkapkan sejumlah gejala umum brain rot, seperti gangguan konsentrasi secara konsisten, sering mengalami disorientasi, kesulitan mengingat hal-hal yang baru terjadi, perubahan kepribadian maupun kemampuan bersosialisasi, hingga penurunan kapasitas penalaran dan mengambil keputusan. Berbagai gejala itu bisa terjadi pada orang dari semua golongan usia.

Brain Rot dan Resistansi terhadap Media Sosial

Jika kita hanya melihat satu arus penelitian, betapa mengerikannya brain rot dalam kajian tersebut. Namun, jika melihat lewat lensa lebih luas, apakah brain rot benar-benar mengubah kognisi seseorang? Jawabannya tidak. Yang demikian hanya bentuk kelatahan manusia terhadap disrupsi yang menimpa kita sehari-hari.

Dalam laporan "menyalahkan ponsel" yang ditulis Lorenzo Cecutti dan kolega di Nature Human Behavior (2021), efek negatif teknologi, termasuk media sosial memang ada, tapi hanya sementara. Pada dasarnya, ia tidak merusak otak dalam jangka panjang.

Ilustrasi Influencer

Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto




Yang ada hanyalah perubahan dalam cara kita memproses informasi, termasuk dalam menikmati hiburan. Sebagai contoh, Cecutti mengkritisi penelitian yang menyatakan bahwa brain rot menyebabkan seseorang lemah ingatan dan mengembangkan ketergantungan terhadap teknologi. Kebanyakan studi tersebut merupakan penelitian yang mengonfirmasi bias terhadap resistansi teknologi.

Alih-alih menerima hasilnya mentah-mentah, Lorenzo Cecutti dan tim dari Universitas Toronto menyoroti metode penelitiannya. Contohnya, ketika partisipan penelitian diberi pertanyaan sulit, mereka secara otomatis mulai memikirkan kata-kata yang berhubungan dengan teknologi (misalnya, kata kunci pencarian Google atau prompting akal imitasi di Gen AI).

Berdasarkan hasil tersebut, penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa individu, secara tidak sadar, mengandalkan teknologi seperti Google untuk mencari jawaban. Selain itu, ketika peserta tahu bahwa informasi bisa dicari kembali nanti, mereka kurang fokus menghafal isi informasinya. Akibatnya, disimpulkan bahwa teknologi melemahkan ingatan manusia. Namun, yang kerap diabaikan, para partisipan tetap ingat di mana informasi itu bisa ditemukan, seperti di folder tertentu atau halaman situs webnya.

Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak langsung membuat kita mudah lupa atau berkurang kemampuan kognitifnya, tapi mengubah cara kita mengingat. Dulu, kita terbiasa menghafal isi (budaya lisan). Sekarang, kita lebih fokus pada letak dan posisi untuk menemukan kembali informasi tersebut.

Ini adalah bentuk adaptasi lumrah, bukan kemunduran kognitif. Mirip-mirip dengan kemunculan awal kalkulator. Orang-orang latah, lantas menyalahkan teknologi, bahwa alat penghitung otomatis akan melemahkan daya kalkulasi manusia. Namun, kita tahu orang-orang kemudian menggunakan kalkulator untuk menghitung konsep yang lebih abstrak dan rumit. Apakah kalkulator "membusukkan" kognisi dan otak manusia? Jawabannya tidak. Sama halnya dengan internet dan media sosial.

Mengomentari hal tersebut, profesor perilaku manusia dan teknologi dari Universitas Oxford, Andrew Przybylski, menyatakan bahwa tidak sedikit orang yang menarik kesimpulan berlebihan dari temuan di atas. Mereka mengatakan bahwa ketergantungan pada teknologi membuat kita kehilangan kemampuan mengingat. Tetapi, ia memperingatkan bahwa kesimpulan seperti itu terlalu tergesa-gesa.

"Dua hal terjadi. Yang pertama adalah munculnya penelitian berkualitas rendah yang menguatkan bias kita terhadap teknologi. Penelitian seperti itu langsung mendapat perhatian media karena sesuai dengan bias yang sudah kita miliki (bias konfirmasi). Sangat mudah menerbitkan penelitian berkualitas rendah yang menunjukkan semacam korelasi, lalu melebih-lebihkannya, karena itu akan menarik perhatian dan mendatangkan pendanaan," ujar Andrew Przybylski sebagaimana dikutip The Guardian.

Efek yang terlihat dalam eksperimen dan penelitian korelatif brain rot hanya bersifat sementara dan terjadi hanya ketika teknologi tersedia. Saat akses ke teknologi tidak ada, orang-orang masih mampu mengingat informasi dengan baik. Artinya, kita bukan kehilangan kemampuan, kita hanya memilih untuk mengandalkan alat bantu yang memungkinkan hal tersebut.

Berdasarkan hal di atas, brain rot merupakan jelmaan baru dari kecemasan lama. Dahulu, filsuf kesohor Jerman, Walter Benjamin, pernah menodong fotografi yang dianggap merusak "aura" karya seni. Atau sutradara revolusioner, Steven Spielberg, menyalahkan ponsel sebagai pemberangus kemampuan imajinasi manusia.

Komik juga pernah disebut perusak moral. Musik rock pernah dianggap liar. Tidak hanya itu, bahkan ketika awal mula tulisan ditemukan, ia dianggap disrupsi di era Yunani kuno oleh filsuf kesohor Plato, yang ia mengingatkan dengan miris, "Jika manusia mempelajari hal ini (cara menulis), hal itu akan membuat mereka pelupa. Manusia akan berhenti melatih ingatan karena bergantung pada tulisan. Manusia tidak lagi mengingat sesuatu dari dalam diri mereka lagi."

Sayangnya, banyak orang lupa, yang "membusukkan otak" bukan internet atau media sosial. Keduanya hanya alat, tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Justru emosi kecemasan berlebihan yang paten menyebabkan kemunduran kognitif. Bukan brain rot, namun kecemasan terhadap brain rot itu sendiri.

===============

Abdul Hadi merupakan akademisi di bidang psikologi, lulusan Magister Psikologi Sosial dan Kesehatan Utrecht University.

Tirto.id membuka peluang bagi para ahli, akademisi, dan peneliti, untuk memublikasikan hasil riset keilmuan. Jika berminat, silakan kirim surel ke mild@tirto.id untuk korespondensi.

Baca juga artikel terkait DAMPAK MEDIA SOSIAL atau tulisan lainnya dari Abdul Hadi

diajeng.id - GWS
Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Irfan Teguh Pribadi