Menuju konten utama

Tidur Dulu, Damai Belakangan? Menavigasi Konflik dengan Pasangan

Tidur disebut dapat "mengurangi reaktivitas otak terhadap rangsangan negatif". Bagaimana relevansinya dalam konteks pasangan yang tengah berkonflik?

Tidur Dulu, Damai Belakangan? Menavigasi Konflik dengan Pasangan
Header Diajeng Tidur Marah dengan Pasangan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Apa yang kalian lakukan saat bersitegang dengan pasangan dan masalah belum usai hingga menjelang waktu tidur?

Kadang-kadang, yang terasa masuk akal adalah bergegas masuk ke kamar, berbaring di ranjang, menarik selimut untuk tidur. Percakapan yang belum tuntas pun akan sembunyi dalam kegelapan malam.

Meskipun reaksi tersebut menyisakan sensasi lega, sifatnya hanya sementara. Tentu, biasanya masih ada perasaan mengganjal.

Apakah proses tidur satu malam dapat meredakan api amarah dengan pasangan, atau justru membuatnya semakin berkobar panas di pagi hari berikutnya?

Situasi ini bisa disikapi dengan dua sudut pandang, baik dari sisi positif maupun sisi negatifnya. Ada yang percaya bahwa jeda adalah obat, ada pula yang meyakini bahwa diam semalaman berisiko meningkatkan jarak.

Sebenarnya, bagaimana tubuh, pikiran, dan hubungan merespons keputusan untuk memejamkan mata di tengah emosi yang masih hangat ini?

Sisi Positif Tidur dalam Keadaan Marah

Ada hikmah halus dalan pepatah lama "tidak boleh tidur dalam keadaan marah".

Ungkapan ini lahir dari kerinduan manusia untuk tetap terhubung, sebuah upaya untuk memastikan hubungan tidak terkikis oleh jeda yang terlalu panjang.

Pesan tersebut dapat dipahami sebagai langkah untuk menjaga kedekatan, mencegah luka kecil berubah menjadi jurang, dan mengingatkan bahwa keberadaan pasangan sama-sama penting.

Namun, kalau digenggam terlalu kaku, aturan itu justru menutup ruang bagi kebutuhan yang sangat manusiawi: istirahat, jeda, dan kesempatan meninjau ulang masalah dengan kepala lebih jernih.

Melansir artikel CNN, para ahli mengingatkan bahwa memaksakan penyelesaian masalah saat tubuh lelah dan emosi berkabut acap kali membuat percakapan melompat ke arah yang tidak diinginkan.

Tidur, menurut psikolog klinis di New York City, Dr. Sabrina Romanoff, dapat "mengurangi reaktivitas otak terhadap rangsangan negatif, atau hal-hal yang dipersepsikan negatif, membantu memproses emosi dan memulihkan kemampuan untuk menghadapi masalah secara lebih rasional".

Komitmen untuk membahasnya kembali di waktu yang lebih sehat membantu menjaga rasa aman, sekaligus mengizinkan kedua belah pihak bernapas tanpa merasa diabaikan.

"Otak yang cukup beristirahat akan lebih siap untuk terlibat dalam komunikasi yang bijaksana dan penuh hormat," tambah Romanoff.

Ada kekuatan lembut dalam memilih jeda, bahkan ketika amarah masih berdenyut.

Beberapa pasangan menemukan bahwa "berhenti" sejenak, bahkan sampai terlelap, justru membuka ruang yang lebih waras untuk kembali berbicara.

Temuan Gottman Institute mengungkapkan bahwa tubuh yang tenang membuat bahasa hati lebih jernih. Jeda bukanlah pengabaian, melainkan undangan bagi akal untuk kembali mengambil alih kemudi.

Alih-alih menganggapnya sebagai ketidaknyamanan, beristirahat sejenak ketika kita merasa kewalahan saat bertengkar justru bermanfaat, meskipun itu berarti kita harus tidur.

“Setiap kali pasangan saling membantu, mereka mendanai apa yang kami sebut sebagai 'rekening bank emosional',” tulis John Gottman dalam The Seven Principles for Making Marriage Work (1999).

Ketenangan itu lebih mudah muncul ketika hubungan telah dirawat sejak jauh hari. Kebaikan sehari-hari, respons kecil terhadap kebutuhan pasangan, dan kebiasaan saling hadir menjadi semacam tabungan emosional yang menguatkan.

“Mereka mengumpulkan tabungan yang, seperti uang di bank, dapat berfungsi sebagai penyangga ketika masa-masa sulit, ketika mereka menghadapi stres atau konflik hidup yang besar,” kata Gottman.

Ketika fondasi ini kokoh, tidur dalam keadaan marah tidak membuat keduanya goyah karena ada rasa percaya bahwa percakapan akan berlanjut dengan kepala yang lebih bening.

Pasangan yang memahami kebutuhan masing-masing (siapa yang butuh jeda, siapa yang butuh kepastian) juga lebih mudah bernapas meski konflik belum tuntas sepenuhnya.

Sisi Negatif Tidur dalam Keadaan Marah

Di balik sisi positifnya, ada pula sisi gelap yang patut diwaspadai ketika konflik dibiarkan mengalir ke jam-jam terakhir sebelum tidur.

Penelitian Angela M. Hicks dan Lisa M. Diamond (2011), dikutip dari Psychology Today, menunjukkan bahwa pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama bagaimana kita dulu ditenangkan atau justru diabaikan, berpengaruh pada cara kita mengelola emosi dan konflik saat dewasa.

Dalam relasi dewasa, orang dengan gaya keterikatan anxiety cenderung lebih sensitif terhadap konflik: pertengkaran lebih mudah terbawa hingga waktu tidur, mengganggu kualitas tidur, dan meninggalkan afek negatif keesokan paginya.

Sebaliknya, orang dengan gaya keterikatan avoidance menunjukkan respons emosi yang lebih tumpul setelah konflik. Meski tetap mengalami gangguan tidur, reaktivitas emosional mereka lebih rendah. Ini bukan karena konflik tidak berdampak, melainkan karena kecenderungan menjauh dari emosi yang intens.

Artinya, cara pasangan memproses konflik sangat dipengaruhi oleh gaya keterikatan masing-masing. Pemahaman atas pola ini pun penting untuk membantu mengelola konflik secara lebih sehat.

Terlebih dari itu semua, “conflict hangover” atau sisa-sisa perasaan marah dari malam sebelumnya berpotensi memengaruhi kondisi seluruh hari berikutnya: suasana hati menggelap, respons stres meningkat, dan hubungan terasa lebih rapuh.

Oleh karena itu, beberapa pendekatan dasar menjadi penting: membicarakan konflik di jam yang lebih jernih, menjaga nada agar tidak menusuk, serta memakai taktik kepala dingin saat percakapan mulai memanas.

Ada kalanya satu kalimat sederhana seperti ini cukup membantu, “Kita bisa diskusikan lagi sehabis makan dan istirahat."

Akhirnya, ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan melakukan tidur yang berkualitas, informasi lengkapnya juga dapat dibaca melalui tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih