diajeng.id - Sebuah survei besar yang dipublikasikan tahun 2025 lalu oleh Good Housekeeping di Inggris Raya menunjukkan bahwa keinginan perempuan untuk berganti arah karier bukanlah hal yang langka.
Bahkan, 62 persen perempuan menyatakan ingin mengubah jalur karier mereka, dengan sebagian besar terbuka untuk berpindah ke bidang yang benar-benar baru.
Alasan utamanya pun bukan sekadar gaji.
Survei ini menyebutkan, jawaban paling populer adalah keinginan untuk menyeimbangkan porsi kerja dan menikmati hidup lebih baik (45 persen), lalu diikuti oleh keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna (43 persen), serta tertarik menghadapi tantangan baru (40 persen).
Usia juga bukan penghalang perempuan ingin berganti haluan karier untuk lebih sukses, karena sekitar 23 perempuan perempuan melakukannya antara usia 45 dan 60 tahun.
Namun, sebelum benar-benar melangkah jauh, laman The Glass Female menyebutkan, ada satu tahap penting yang sering terlewat: mengajukan pertanyaan jujur pada diri sendiri.
Pikirkan dan tanyakan pada dirimu, apakah ketidakpuasan yang kamu rasakan ini bersifat sementara, atau sudah menjadi pola yang konsisten?
Merasa stagnan, mendambakan tantangan baru, atau terus-menerus bergumul dengan intuisi yang mengatakan “ada yang tidak tepat” kerap menjadi sinyal awal. Meski begitu, sinyal tersebut perlu dibaca dengan hati-hati.
Kadang-kadang, yang kita butuhkan hanyalah pekerjaan baru di bidang yang sama; di lain waktu, hidup justru mengajak kita mempertimbangkan arah karier yang benar-benar berbeda.
Kejelasan ini hanya bisa muncul ketika kita memberi ruang untuk refleksi, sebelum menyusun langkah konkret berikutnya.
Tips Berganti Haluan Karier untuk Perempuan Usia 30 Tahun ke Atas
Bagi perempuan di usia 30-an dan 40-an, keinginan untuk berganti haluan karier bukanlah tanda kegagalan, melainkan sinyal kedewasaan dan kejujuran pada diri sendiri.
Pada fase hidup ini, perubahan bukan lagi soal pembuktian, melainkan tentang keselarasan.
Dalam blog Womanhood Unwrapped, disebutkan ada beberapa langkah yang bisa menjadi pegangan awal sebelum mengambil keputusan besar.
Pertama, klarifikasi akar ketidakbahagiaan.
Apakah rasa lelah itu datang dari tekanan industri, kurangnya tantangan, perubahan kebutuhan keluarga, atau hasrat lama yang tak pernah diberi ruang?Kejujuran pada diri sendiri adalah fondasi terpenting, tanpa perlu menyenangkan siapa pun selain diri sendiri.
Kedua, terhubung kembali dengan diri yang autentik.
Di usia 40-an, kita bukan lagi menebak-nebak siapa diri kita.Refleksi mendalam, dibantu tes kepribadian atau bakat karier, dapat membantu memastikan bahwa arah baru yang dipilih benar-benar selaras dengan nilai, minat, dan cara hidup yang diinginkan.
Ketiga, bersikap sebagai peneliti atas kemungkinan baru.
Mengobrol dengan orang-orang yang telah lebih dulu menempuh jalur serupa, baik kembali bersekolah maupun membangun bisnis, sering membuka gambaran realistis tentang tantangan dan peluang yang sebelumnya tak terpikirkan.
Keempat, rencanakan masa transisi dengan sadar.
Perubahan yang matang jarang terjadi secara impulsif.Menyusun rencana, baik untuk karier pribadi maupun usaha baru, membantu proses peralihan terasa lebih aman, terarah, dan penuh percaya diri.
Kelima, siapkan diri menghadapi umpan balik.
Di usia 40-an, keraguan dari sekitar hampir tak terelakkan.Namun, banyak perempuan menemukan bahwa justru lewat keberanian menghadapi ketidakpastian inilah, mereka meraih kehidupan kerja yang lebih bermakna dan seimbang.
Tips Tambahan Saat Ingin Merubah Karier
Selain refleksi besar dan perencanaan matang, perubahan karier sering kali justru ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Seperti dilansir situs Work Well Womaniya, peralihan tidak selalu menuntut lompatan drastis, tetapi keberanian untuk mulai, meski dari langkah yang sangat sederhana.
1. Luangkan waktu singkat tapi rutin
Ini bisa dicoba bahkan hanya 15 menit sehari, untuk mendekatkan diri pada arah baru yang diinginkan.Konsistensi kecil ini bukan hanya membangun keterampilan, tetapi juga kepercayaan diri bahwa perubahan benar-benar sedang berlangsung.
Misalnya, jika ingin menjadi penulis, maka menulislah selama 15 menit setiap pagi. Apabila bercita-cita menjadi fotografer, kamu dapat berlatih komposisi selama 15 menit dengan ponsel.
Minat berprofesi di bidang desain? Maka tontonlah satu tutorial dan terapkan satu teknik. Sementara bagi yang ingin serius berkarier terkait analisis data, dapat berlatih satu rumus Excel atau konsep Python.
Konsistensi merupakan hal penting, lalu tingkatkan durasinya, dari 15 menit itu menjadi 30 menit, lalu satu jam.
Yang lebih penting kamu, kamu perlu membuktikan kepada diri sendiri setiap hari bahwa kamu serius dengan mimpi ini.
2. Bangun komunitas pendukung
Berada di sekitar orang-orang yang sedang menempuh jalan serupa bisa membantu meredam perasaan sendirian. Kebersamaan dengan mereka juga akan menambah perspektif realistis, sekaligus mengingatkan bahwa keraguan adalah bagian normal dari proses.
3. Mulailah membagikan karya dan mencoba proyek-proyek kecil, meski belum sempurna
Pengalaman nyata, bukan kesiapan ideal, yang perlahan membentuk identitas profesional baru. Belajar satu hal setiap hari, melacak kemajuan sekecil apa pun, dan memberi ruang bagi waktu kreatif adalah cara menjaga momentum tetap hidup.
4. Berhentilah menunggu merasa “siap sepenuhnya”
Banyak perempuan menemukan bahwa kejelasan justru muncul setelah mereka melangkah, bukan sebelumnya.Merayakan kemenangan kecil dan belajar dari mereka yang telah lebih dulu berhasil dapat menjadi pengingat bahwa perubahan karier adalah perjalanan, bukan keputusan sekali jadi.
Editor: Sekar Kinasih