Menuju konten utama

Tren Global Bergeser: Apa Bayi Perempuan Kini Lebih Diidamkan?

Apa yang bisa dipetik dari laporan terbaru The Economist tentang pergeseran preferensi orang tua tentang jenis kelamin bayi?

Tren Global Bergeser: Apa Bayi Perempuan Kini Lebih Diidamkan?
Header diajeng Preferensi Memiliki Anak Perempuan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Preferensi orang tua terhadap anak laki-laki telah mengakar sejak berabad-abad lamanya.

Jenis kelamin bayi menjadi aspek yang krusial bagi orang tua dalam memutuskan untuk mempertahankan bayi mereka atau tidak.

Di masa lalu, pada masyarakat Arab pra-Islam misalnya, pembunuhan terhadap bayi perempuan lumrah terjadi karena mereka diyakini sebagai aib.

Praktik serupa ditemui di masyarakat India. Anak perempuan dianggap sebagai beban finansial keluarga karena tuntutan tradisi untuk menyiapkan mahar yang mahal pada pernikahannya kelak.

Di berbagai komunitas masyarakat, anak laki-laki kerap digadang-gadang untuk mewarisi marga dan garis keturunan, meneruskan usaha dan bisnis keluarga, hingga menjadi jaminan di masa depan.

Secara historis, statistik menunjukkan bahwa rasio jumlah kelahiran anak laki-laki konsisten melebihi anak perempuan.

Rata-rata, ada sekitar 105 hingga 106 anak laki-laki yang lahir untuk setiap 100 anak perempuan di seluruh dunia.

Bayi Perempuan Cantik

Bayi Perempuan Cantik. foto/IStokcphoto

Pada 1990, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi Amartya Sen memperkirakan 100 juta perempuan “hilang” dalam statistik rasio kelahiran di kawasan Asia, Afrika Utara, dan dataran Cina.

Fenomena jutaan perempuan yang “hilang” tersebut diulas lebih jauh dalam laporan baru dari The Economist, rilis bulan Juni lalu, bertajuk “More and more parents around the world prefer girls to boys”.

The Economist memperkirakan, sejak 1980, sekitar 50 juta bayi perempuan tidak dilahirkan akibat praktik seleksi jenis kelamin dengan bantuan teknologi ultrasound (USG) yang biayanya semakin terjangkau, seiring orang tua di banyak negara mulai punya anak lebih sedikit.

Pada tahun 2000, diperkirakan terdapat 1,7 juta lebih banyak kelahiran anak laki-laki daripada yang seharusnya terjadi secara alami.

Estimasi tahun 2015 menyebut kelebihan kelahiran anak laki-laki masih berada di atas 1 juta jiwa.

Menariknya, tahun ini, preferensi global terhadap gender laki-laki diperkirakan akan segera bergeser.

Pada 2025, berdasarkan estimasi The Economist, kelebihan kelahiran anak laki-laki berpotensi turun drastis menjadi 200.000.

Seiring memudarnya obsesi terhadap kelahiran bayi laki-laki, sekitar 7 juta bayi perempuan diperkirakan 'selamat' dari seleksi jenis kelamin selama 25 tahun terakhir.

Jumlahnya pun diperkirakan akan terus bertambah.

Pergeseran bias gender kelahiran bayi terlihat menjanjikan, baik di negara maju maupun negara berkembang.

Negara-negara yang dulu memiliki rasio kelahiran timpang, seperti Korea Selatan—pada 1990 memiliki rasio 116 kelahiran anak laki-laki untuk setiap 100 anak perempuan—kini memiliki distribusi yang hampir merata.

Menurut badan statistik Korea Selatan, perbandingan jumlah perempuan di Negeri Ginseng yang merasa “perlu” memiliki anak laki-laki pada 1985 dan 2003 telah menurun drastis, yakni dari 48 persen menjadi 6 persen saja.

Temuan mirip ditemukan di Jepang.

Japanese National Fertility Survey pada 1982 menyebutkan, sebesar 48,5 persen pasangan menikah yang hanya menginginkan satu anak menunjukkan preferensi terhadap anak perempuan.

Dua dekade kemudian, persentasenya meningkat jadi 75 persen.

Di India dan daratan Cina, yang masyarakatnya cenderung memiliki bias kuat terhadap anak laki-laki, ditemukan pula penurunan kelebihan kelahiran anak laki-laki.

Di Cina, yang menerapkan aturan “one-child policy” selama lebih dari tiga dekade (1979-2015), rasio kelahiran anak laki-laki telah turun dari angka 117 pada dekade 2000-an menjadi 111 pada tahun 2023.

Di India, rasionya melandai jadi 107 anak laki-laki pada 2023, dari 109 pada 2010.

Di Bangladesh, perempuan yang belum menikah menunjukkan keinginan akan anak laki-laki yang sama besarnya dengan keinginan untuk mengandung anak perempuan.

Apabila mereka sudah memiliki anak laki-laki, keinginan untuk memiliki anak perempuan akan meningkat. Begitu pula sebaliknya.

Ilustrasi bayi perempuan

Ilustrasi - Bayi Perempuan. FOTO/iStockphoto

Kendati demikian, di sebagian besar negara, hasil jajak pendapat tidak mesti mencerminkan rasio tingkat kelahiran.

Meskipun survei menunjukkan kecenderungan terhadap anak perempuan, anak laki-laki masih memimpin jumlah populasi kelahiran bayi.

Menariknya, bukti-bukti pergeseran preferensi terhadap anak perempuan daripada laki-laki mulai terlihat jelas melalui prosedur bayi tabung dan meningkatnya popularitas bayi perempuan yang diadopsi.

Keluarga kaya dari negara-negara yang belum melegalkan praktik fertilisasi in-vitro (IVF) dilaporkan rela datang ke New York dan mengeluarkan biaya hingga 20 ribu dolar, atau sekitar Rp325 juta, demi bisa memilih jenis kelamin bayi yang akan dikandung.

Studi tahun 2009 oleh Abbie Goldberg dari Clark University juga menunjukkan adanya kecenderungan pasangan heteroseksual dan lesbian di AS untuk mengadopsi anak perempuan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Yolanda Florencia Herawati

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Yolanda Florencia Herawati
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih