Menuju konten utama

Tren Romantisasi Cerita Mafia: Mengapa Kita Perlu Waspada?

Selain menyebarkan persepsi yang keliru tentang mafia, tren ini juga memopulerkan hubungan romansa laki-laki dan perempuan tidak sehat.

Tren Romantisasi Cerita Mafia: Mengapa Kita Perlu Waspada?
Header Diajeng Romantisasi Mafia. tirto.id/Quita

diajeng.id - “Are you lost, babygirl?”

Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu dialog paling cringe dalam semesta sinema.

Kegelian tersebut masih dipadukan dengan cerita yang tidak masuk akal sekaligus meromantisasi kriminalitas.

Tokoh utama laki-laki bernama Massimo adalah mafia, sekaligus penculik, dan juga seorang stalker alias penguntit.

Pada salah satu adegan, karakter utama perempuan, Laura, berupaya meminta bantuan kepada polisi karena ia baru saja diculik. Tentu saja, demi kepraktisan plot, bantuan tidak pernah datang.

Jalan cerita film erotis thriller berjudul 365 Days (2020) di atas menjadi problematis bukan hanya karena Massimo adalah penjahat, tetapi karena framing yang disusun.

Massimo digambarkan sebagai laki-laki seksi, luar biasa kaya, dan jatuh cinta mati dengan Laura.

Pembingkaian narasi tersebut mengaburkan segala red flag yang ada pada diri Massimo. Daftar kejahatannya meliputi: mengunci Laura di ruangan, menyentuh tubuhnya tanpa izin, membunuh beberapa orang, hingga meracuni Laura dengan obat tertentu.

Pendek kata, 365 Days menampilkan bentuk hubungan abusif dengan kehidupan mafia sebagai pusat cerita.

Film besutan sutradara Polandia Barbara Białowąs ini tidak sendirian dalam meromantisasi mafia demi cerita romansa.

Nyatanya, jagat media sosial TikTok penuh dengan tren video editan mafia yang dicitrakan dengan jas hitam, rambut rapi, dan tampan.

Persepsi yang keliru juga membuat mafia dipandang sebagai sosok pelindung yang akan melakukan apapun demi orang yang dicintai.

Tentu saja cara pandang ini melepaskan mafia dari konteks sosial, politik, dan ekonomi suatu negara.

Bagi sejumlah penggemar kisah-kisah fantasi yang dipopulerkan di media sosial, karakter mafia menjadi simbol maskulinitas yang penuh gairah. Padahal, mafia lekat dengan tindak kriminalitas dan kekerasan.

“Mafia bukan hanya bentuk kriminalitas, tapi juga wujud sesuatu yang penuh kuasa, terorganisasi dengan baik, serta berbahaya. Tujuan objektifnya adalah mengumpulkan keuntungan ekonomi dan kuasa. Penggunaan kekerasan dan pembunuhan tidak terhindarkan jika langkah itu dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pendek kata, penyalahgunaan kekuasaan,”

Begitu tulis Antonio Nicaso melalui buku La mafia spiegata ai ragazzi (The Mafia Explained to Kids) (2011).

Nicaso adalah profesor yang meneliti tentang kejahatan terorganisasi. Ia mendalami seluk beluk mafia Calabria di Italia, yang meski tidak sementereng mafia Sisilia, sindikat organisasinya sangat kuat.

Penelitian Nicaso yang telah berjalan bertahun-tahun membantu memahami bahwa mafia bukanlah organisasi main-main. Sayangnya, pemahaman tentang kerja mafia tidak sama di negara-negara lain.

Penelitian Dana Renga yang tertuang di artikel "Why Italian Cinema Is Statring to Glamorize the Mafia" (2020) bisa jadi petunjuk mengapa tema mafia kerap diromantisasi.

Menurut Renga, pengetahuan soal mafia yang sangat kurang di masyarakat bisa jadi salah satu sebab. Hal ini terjadi utamanya di Amerika Serikat.

Di sana, mafia dipandang sebagai sisa-sisa peninggalan masa lalu, alih-alih sebuah ancaman yang sangat dekat.

"Mafia yang dicitrakan begitu glamor dalam benak masyarakat Amerika mungkin disebabkan oleh fakta bahwa organisasi ini tidak pernah mencapai kekuasaan yang besar di negara ini," tulis Dana dalam tulisan yang terbit di The Conversation tersebut.

Ketidaktahuan mengenai sepak terjang mafia terlihat dalam semakin populernya cerita mengenai tokoh organisasi kejahatan ini di kalangan pecinta buku di TikTok atau istilahnya BookTokers. Sejak itu tren mafia aestethic maupun mafia family bermunculan di mana-mana.

Romantisasi ini sudah berada di tingkat meresahkan.

Blogger Chiara Palmeri yang tinggal di Sisilia dalam artikel di situs Dub menjabarkan kengerian yang dilakukan oleh mafia sebagai pengingat bagi mereka yang masih memuja para mafia.

"Guiseppe di Matteo. Kamu pasti tidak tahu siapa dia, dan tidak mungkin juga kamu bakal berjumpa dengannya. Pada usia 14 tahun, tubuh Guiseppe dilelehkan dengan cairan asam setelah ayahnya bekerja sama dengan jajaran pemimpin anti-mafia. Dia diculik pada usia 12 tahun dan jadi tawanan selama 779 hari."

Begitu Chiara mengisahkan teror yang pernah jadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Bos mafia di dunia nyata tidak berkeliaran melindungi perempuan yang ia cintai.

Justru, tegas Chiara, mereka beroperasi dengan mengancam para pemilik bisnis untuk memberikan upeti dalam jumlah yang besar.

"Uang mereka berasal dari orang-orang miskin yang harus membayar jumlah tertentu agar bisa hidup karena para bos mafia sungguhan, yang harusnya kamu takuti alih-alih romantisasi, tidak akan segan membunuh,” tambahnya.

Pengalaman yang tidak menyenangkan juga dialami oleh seorang jurnalis asal Italia bernama Chiara Puccia.

Ayah dan paman buyutnya adalah polisi.

Menurut Chiara dalam tulisannya di Mav Newspaper, sang paman buyut nyaris dibunuh oleh mafia saat mengawal Giovanni Falcone, seorang hakim yang dicalonkan sebagai jaksa agung antimafia pada 1992, yang akhirnya tewas saat tengah berjuang.

Saat ini, demografi penikmat konten romantisasi mafia sebagian besar adalah perempuan.

Tidak hanya mewarisi persepsi yang keliru tentang mafia, tren ini berisiko membuat standar baru tentang hubungan romansa laki-laki dan perempuan.

Meromantisasi sesuatu hal yang tidak diketahui dan tidak repot-repot kita cari tahu memiliki implikasi panjang.

Maka, kalau saat ini kamu masih menikmati konten-konten mafia romantis, mungkin sudah tiba saatnya untuk lebih kritis membaca fenomenanya dan mengurangi konsumsinya perlahan-lahan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih