diajeng.id - Nasihat bisa terasa baik, bijaksana, sekaligus menjengkelkan.
Ada kalanya nasihat terasa tulus dan membantu, akan tetapi tak jarang juga membuat kita jengkel.
Ya, memberi nasihat memang tidak hanya bermanfaat bagi penerimanya, ternyata, itu juga bisa membuat sang pemberi merasa berkuasa.
Kalimat seperti, “Menurut aku, kamu harusnya...” terkadang muncul begitu saja dari teman, kolega, bahkan orang asing di media sosial.
Kamu mungkin cuma mau bercerita soal lelah di tempat kerja, lalu tiba-tiba seseorang dengan penuh semangat memberi daftar solusi: meditasi tiap pagi, journaling, atau ganti karier saja sekalian.
Padahal, kamu tidak sedang minta nasihat. Hanya ingin didengarkan.
Menurut penelitian yang hasilnya dipaparkan di Personality and Social Psychology Bulletin (2022), memberi nasihat, terutama yang tidak diminta, berhubungan erat dengan perasaan memiliki kendali atas orang lain.
Dalam empat studi yang melibatkan hampir 700 partisipan, para peneliti menemukan pola yang menarik.
Mereka yang mengingat momen saat memberi nasihat, terutama ketika nasihat itu diminta, melaporkan adanya peningkatan rasa dominasi dan kekuasaan.
Salah satu studi bahkan menunjukkan, orang yang cenderung haus akan pengaruh sosial ternyata juga lebih sering memberi nasihat.
Dalam percobaan yang melibatkan mahasiswa pascasarjana bisnis, mereka yang berorientasi pada kekuasaan lebih banyak menasihati rekan negosiasinya meski tidak selalu diminta.
Temuan ini, seperti dikutip Quartz, bagi sebagian orang, terutama perempuan mungkin tak lagi mengejutkan.
Selama ini, perempuan lebih sering dijadikan sasaran nasihat tak diminta dibanding laki-laki.
Salah satu bentuk paling nyatanya dikenal dengan istilah mansplaining, ketika laki-laki dengan percaya diri menjelaskan sesuatu kepada perempuan, bahkan tanpa benar-benar memahami topiknya.
Memberi nasihat, dengan demikian, bukan tindakan yang sepenuhnya altruistik, tapi juga bukan sepenuhnya dorongan haus kuasa.
Namun, ketika dilakukan berlebihan, nasihat bisa berubah menjadi sikap sok tahu yang mengganggu.
Kenapa Orang Suka Memberi Nasihat Tanpa Diminta?
Seth Meyers, psikolog berlisensi sekaligus penulis dalam laman Psychology Today menyatakan, nasihat yang tak diminta atau unsolicited advice adalah salah satu fakta kehidupan yang kebanyakan dari kita tidak suka tetapi terpaksa menerimanya.
Pertama-tama, orang seperti apa yang cenderung memberikan nasihat yang tak diminta?
Kepribadian yang dikenal sehari-hari sebagai kepribadian "alfa" adalah pemberi nasihat yang paling sering.
Menurutnya, dalam hal gaya berpikir mereka, pemberi nasihat yang tak diminta cenderung kaku secara kognitif.
Mereka biasanya percaya bahwa mereka benar, dan ketika mereka mendekati suatu masalah, mereka sering kesulitan melihat situasi dari berbagai perspektif.
Gaya penutur unsolicited advice ini cenderung muluk. Mereka percaya bahwa dirinya lebih cerdas, istimewa, atau bijaksana daripada orang lain.
"Mereka cenderung menjalani kehidupan sehari-hari dengan pola pikir bahwa dunia akan berjalan jauh lebih lancar jika saja mereka dapat membuat semua keputusan. Yang kurang dari perspektif ini adalah kerendahan hati dan wawasan," lanjutnya.
Seth menyebutkan, orang yang memberi nasihat tanpa diminta melakukannya bukan karena mereka peduli dengan orang yang menerimanya, melainkan karena memberi nasihat memberi mereka rasa kendali dan keteraturan.
Pemberi nasihat memiliki orientasi pemecahan masalah yang dapat bermanfaat jika diterapkan dalam kehidupan mereka sendiri, tetapi tentu saja itu berisiko mengganggu jika diterapkan pada orang lain.
"Ketika seseorang berbagi situasi yang menjengkelkan atau sulit, pemberi nasihat yang tidak diminta (sadar atau tidak sadar) merasa cemas dan kemudian terdorong untuk mengucapkan kata 'seharusnya' agar pemberi nasihat merasa segala sesuatunya teratur, mudah diatur, dan dapat diprediksi," terangnya.
Sulitnya Memberi Nasihat yang Benar-Benar Baik
Laman Psyche menjelaskan, memberi nasihat itu tidak semudah kelihatannya.
Banyak orang datang mencari arahan karena bingung, tetapi jarang yang benar-benar puas hanya dengan diberi tahu harus berbuat apa.
Nasihat yang terlalu banyak, terlalu sering, atau terlalu menggurui justru membuat orang menjauh, meskipun maksud kita baik.
Seorang penulis dalam artikel filsafat populer pernah menulis bahwa kesalahan umum para penasihat adalah berasumsi setiap keluhan butuh solusi.
Kadang-kadang, orang hanya ingin didengarkan.
Ia bahkan mengaku sering belajar menahan diri dan lebih memilih berkata, “Aku tidak akan memberimu nasihat,” agar percakapan terasa lebih jujur dan menenangkan.
Artinya, nasihat yang baik bukan yang membuat penerimanya patuh, tapi yang membantu mereka tetap menjadi pengambil keputusan atas hidupnya sendiri.
Mungkin di situlah letak tantangan memberi nasihat, yakni menemukan keseimbangan antara peduli dan mendominasi, antara membantu dan membiarkan seseorang tumbuh lewat pilihannya sendiri.
Dikutip Psych Central, memberi nasihat saat diminta memang bisa membantu, tetapi nasihat yang tak diminta itu lain cerita.
Memberi nasihat yang tak diminta berulang kali dapat menyebabkan masalah dalam relasi dan hubungan karena dianggap lancang dan tidak sopan sekaligus menunjukkan kesan superioritas.
Dalam beberapa contoh, nasihat yang tak diminta bisa terdengar kritis, alih-alih membantu.
Cara Menyampaikan Nasihat yang Baik
Tidak setiap cerita tentang masalah adalah undangan untuk memberi nasihat.
Orang yang bercerita biasanya hanya ingin dipahami, bukan diarahkan. Maka, langkah paling sederhana dan paling sopan dalam memberi nasihat adalah meminta izin terlebih dahulu.
Masih dilansir Psych Central, beberapa cara halus yang bisa digunakan, misalnya dengan mengucapkan:
1. Aku punya beberapa pandangan yang mungkin bisa membantu. Kamu mau dengar?
Pertanyaan ini memberi ruang bagi orang lain untuk memilih apakah ingin nasihat atau tidak.
2. Apa kamu berkenan dengar saranku?
ini menjadi pertanyaan singkat yang menunjukkan rasa hormat terhadap batasan pribadi.
3. Menurutmu, mana yang lebih bisa membantu, aku beri pendapat atau aku cukup mendengarkan saja?
Cara seperti ini menunjukkan empati dan kesiapan untuk hadir sesuai kebutuhan mereka.
4. Aku pernah mengalami yang mirip. Boleh kuceritakan dulu apa hal-hal yang bisa membantuku?
Kalimat di atas menghindari nada menggurui dengan menawarkan pengalaman, bukan perintah.
5. Apa yang bisa kulakukan buat bantu kamu?
Pertanyaan itu bisa mengalihkan fokus dari memberi nasihat ke memberi dukungan yang nyata.Memang, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun, jika sulit menahan dorongan untuk “menasihati”, ingatlah bahwa nasihat yang tidak diminta sering kali tidak membantu, bahkan bisa terdengar meremehkan.
Kalau tujuan kita benar-benar ingin mendukung seseorang, cara terbaik untuk mengetahuinya bukan dengan langsung memberi tahu apa yang harus dilakukan, melainkan dengan bertanya apa yang mereka butuhkan. Setuju?
Jika masih ingin membaca artikel lain seputar pengendalian diri, baca juga di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih