diajeng.id - Kadang-kadang, perjalanan cinta bisa dianalogikan seperti cuaca yang berubah tanpa perlu meminta izin.
Pada satu waktu, kita bisa memuja seseorang sepenuh hati. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba saja, kita bisa merasa jengkel, kesal, atau marah kepada orang yang kita cintai.
Di antara dua titik itu, antara hangat dan gerah, terselip ruang belajar: tentang memahami diri, memahami orang lain, dan menerima bahwa keintiman bukanlah garis lurus yang rapi, melainkan riak-riak kecil yang membentuk alirannya sendiri.
Memang betul, tidak semua gejolak bisa dianggap wajar. Ada saat di mana perasaan tak nyaman berubah menjadi sinyal yang perlu diperhatikan, ketika kelelahan emosional menumpuk dan hati meminta jeda.
Di balik itu semua, ada kalanya cinta pun perlu diurai.
Alih-alih untuk mempertanyakan atau meragukan ikatan cinta, langkah tersebut merupakan strategi agar kita tahu kapan harus merawat hubungan, kapan harus merenggangkan barisan, dan kapan harus berhenti berjalan terlalu jauh dari diri sendiri.
Seperti salah satu pengalaman yang pernah dipublikasikan Vox, seorang perempuan bernama Leigh memulai hubungannya dengan rasa ragu. Kekasihnya, Thomas, berhati baik dan bersikap lembut.
Di satu sisi, perhatian yang Thomas berikan membuat Leigh bingung apakah itu menimbulkan kenyamanan atau justru mengganggunya.
Ketika Leigh akhirnya merasa yakin, justru Thomas yang berubah menjauh. Thomas kadang-kadang menghilang, lalu kembali saat merasa Leigh menarik diri. Pola tarik-ulur itu berlangsung lebih dari dua tahun.
Fenomena seperti ini ternyata bukan hal yang tidak lazim.
Tidak sedikit relasi yang memuat sisi terang dan sisi kusut sekaligus.
Sebuah riset tahun 2019 menunjukkan bahwa hampir setengah dari hubungan dalam hidup kita bersifat ambivalen, termasuk hubungan romantis.
Perasaan campur aduk ini bahkan bisa berdampak pada tubuh, meningkatkan stres dan tekanan
darah. Meski begitu, ambivalensi tak selalu berarti hubungan berada di tepi jurang.
Dalam konteks hubungan yang sehat, dinamika ini bisa menjadi dorongan untuk berkomunikasi dan memperkuat kedekatan.
Laman Psychology Today menuliskan, banyak orang mencintai pasangannya sekaligus kadang-kadang merasa tidak tahan dengannya, dan itu bukan hal yang mengherankan.
Ketidaksukaan bisa muncul karena dua hal. Pertama, masalah besar yang tak bisa diubah seperti watak yang keras atau nilai moral yang berbenturan. Kedua, hal-hal sepele yang menjengkelkan sehari-hari.
Terkait kasus pertama, mengakhiri hubungan bisa menjadi pilihan realistis. Pada kasus kedua, kita boleh optimis bahwa masih ada ruang untuk berubah dan berbenah bersama.
Kuncinya adalah memisahkan sifat seseorang dari perilakunya. Kemudian, tentukan mana kebiasaan pasangan yang bisa dibiarkan apa adanya dan mana yang perlu dibicarakan atau dikompromikan.
Jika gangguan kecil mulai terasa besar, sebaiknya pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Apalagi, ketika perubahan benar-benar dibutuhkan, segera komunikasikan secara langsung. Jelaskan apa yang kamu harapkan dari pasangan tanpa maksud menyalahkan. Buat kesepakatan yang masuk akal. Alih-alih menyoroti kekurangan pasangan, ingatkan juga hal-hal baik yang dimiliki pasangan.
Cara pasangan bertengkar dan berdamai sering kali menentukan apakah hubungan itu akan melemah atau justru tumbuh kembali.
Menukil artikel lainnya dari Psychology Today, sebenarnya ada banyak orang yang sadar bahwa dirinya mencintai seseorang sekaligus kadang-kadang membencinya.
Alih-alih bentuk inkonsistensi logika, situasi ini lebih tepat dilihat sebagai tantangan psikologis: dua emosi kuat yang tidak selalu berjalan berdampingan.
Ketika kita mencintai seseorang, perasaan itu mencakup berbagai sisi yang dimiliki orang yang kita cintai. Di sisi lain, perasaan benci biasanya terarah pada satu aspek yang kita anggap menyakitkan atau bermasalah pada orang tersebut.
Penting diingat, emosi punya banyak bentuk dan tingkatan. Rasa cinta dan benci pun tidak selalu bertolak belakang seperti yang sering digambarkan.
Dalam praktiknya, hubungan cinta–benci terjadi karena fokus perasaan kita bergeser. Ketika kita melihat kebaikan pasangan, cinta terasa penuh; ketika mengingat luka atau penghinaan, benci muncul.
Dalam kondisi ekstrem, kebencian justru menjadi saluran emosi ketika komunikasi sehat sudah buntu. Inilah yang berpotensi mengarah pada tindakan berbahaya.
Maka dari itu, memahami dinamika cinta dan benci bukan untuk membenarkan hubungan buruk, melainkan agar kita lebih peka kapan perasaan wajar berubah menjadi alarm bahwa sesuatu harus diubah atau dihentikan.
Menurut laman Greater Good, kekuatan sebuah hubungan tidak diukur dari seberapa jarang kamu dan pasanganmu bertengkar, tetapi dari seberapa dalam kamu merasa dipahami oleh pasangan setelah badai kecil itu lewat.
Konflik tidak otomatis melemahkan cinta. Yang merusak justru ketika satu sama lain merasa tak didengar.
Dengan saling memahami, pertengkaran bisa dilirik sebatas riak yang tidak akan mampu mengubah kedalaman dasar hubungan.
Ada beberapa cara untuk mempertahankan keseimbangan cinta.
Bukalah ruang untuk perspektif pasangan. Jauhkan diri dari kritik yang terlalu tajam dan sikap defensif. Dalam konteks tertentu, cobalah berbaik sangka pada pasangan. Ingat kembali kualitas pasangan yang membuatmu memilihnya sedari awal.
Anggaplah diri kalian sebagai satu tim yang sedang mencari jalan keluar, alih-alih dua petarung yang ingin saling mengalahkan.
Tentu, menjalankan ini tak selalu mudah, apalagi ketika ritme emosi sedang tidak sinkron.
Pada waktu itu, tarik napas dalam-dalam. Ingat kembali bahwa tujuanmu adalah memahami pasangan dan hubungan kalian, alih-alih menjadi "yang paling benar" dalam dinamika relasi ini.
Dengan begitu, cinta mendapat kesempatan lebih besar untuk tetap melaju ke segala arah yang menantangnya.
Artikel seputar percintaan lainnya juga bisa dibaca melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih