Menuju konten utama

Ciri-Ciri Penipuan Lewat WhatsApp dan Cara Menghindarinya

Penipu sering menciptakan pesan yang mendesak, bikin panik, atau malah terlihat untung agar kita segera merespons tanpa sempat memeriksa kebenarannya.

Ciri-Ciri Penipuan Lewat WhatsApp dan Cara Menghindarinya
Header Diajeng Penipuan Daring. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di Indonesia, WhatsApp (WA) bisa dibilang telah menjadi ruang komunikasi paling personal sekaligus paling sosial.

Aplikasi ini dipakai untuk hampir semua hal, dari grup-grup terkait keluarga dan RT, koordinasi sekolah, arisan, pekerjaan, sampai transaksi bisnis atau jual-beli.

Dalam konteks yang begitu luas tersebut, notifikasi WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal terkesan lumrah.

Kalau kamu berbisnis, nomor asing yang menghubungimu bisa jadi berasal dari calon pembeli yang menanyakan stok barang, pelanggan lama yang ingin memesan lagi, atau seseorang yang meminta informasi tentang produk yang kamu jual.

Kalau kamu menggunakan WhatsApp untuk relasi keluarga, pertemanan, dan kerja, nomor asing tersebut mungkin juga datang dari salah satu lingkaran sosial tersebut.

Pendek kata, komunikasi dengan siapa pun via teks WhatsApp cenderung mengalir spontan dengan tingkat kecurigaan rendah dari kita sebagai pengguna aplikasi.

Jenis Modus Penipuan via Teks (WA/DM Instagram/Chat Marketplace)

Penipuan lewat pesan teks kini semakin sering terjadi, baik melalui WhatsApp, DM Instagram, maupun chat di marketplace.

Pesannya biasanya terlihat seperti komunikasi biasa, ada yang mengaku pembeli, kurir, teman lama, sampai pihak layanan pelanggan.

Begitu lumrah dan manusiawinya relasi dengan orang-orang ini, kebanyakan dari kita tidak langsung menyadari bahwa itu adalah upaya penipuan.

Di Indonesia, kebiasaan membalas chat dengan cepat membuat modus ini semakin efektif.

Penipu sering menciptakan pesan yang terasa mendesak, menimbulkan kepanikan, atau justru terlihat menguntungkan agar korban segera merespons tanpa sempat memeriksa kebenarannya.

1. Penipuan Mengaku Anak atau Anggota Keluarga

Modus ini cukup sering terjadi lewat WhatsApp. Penipu mengirim pesan seperti, “Ma, ini nomor baru. HP aku rusak. Tolong kirim uang, ya.”

Biasanya pesan disertai alasan darurat, misalnya membutuhkan uang segera atau tidak bisa mengakses rekening, bahkan mengalami kecelakaan. Penipu memanfaatkan rasa panik dan naluri orang tua yang ingin cepat membantu anaknya.

2. Akun Mengaku Teman atau Kerabat

Dalam modus ini, penipu menggunakan foto profil seseorang yang kita kenal. Foto tersebut biasanya diambil dari media sosial seperti Instagram atau Facebook.

Setelah itu, penipu menghubungi kita dan berpura-pura menjadi teman atau kerabat. Mereka bisa meminta bantuan transfer uang. Ada pula yang mengajak bermitra bisnis yang biasanya mengharuskan kita mengeluarkan sejumlah dana lebih dulu atau menjadikan kita sebagai pihak penerima uang dari kliennya.

Intinya, waspadalah ketika ada kenalan/ teman lama/ atau saudara yang tiba-tiba menghubungi dan mengajak diskusi terkait bisnis atau keuangan.

3. Penipuan Paket atau Resi Pengiriman (Kurir Palsu)

Modus ini sering muncul karena banyak orang berbelanja online. Penipu mengaku sebagai kurir dan mengatakan ada paket yang perlu dikonfirmasi.

Kita biasanya diminta mengklik link pelacakan atau mengunduh file tertentu. Dalam banyak kasus, file tersebut berupa APK yang jika diinstal dapat mencuri data-data pribadi di smartphone kita, termasuk akses SMS dan kode OTP.

Ada pula modus dari pihak ekspedisi yang mengaku telah menghilangkan paket kita. Kemudian mereka berkeinginan mengembalikan biayanya langsung ke rekening pembeli.

Mereka akan mengirimkan gambar kode QRIS dan menyuruh kita memindai langsung dari akun mobile banking pribadi. Apabila dilakukan, uang di rekening kita akan tersedot. Ingat, segala kerugian atau masalah terkait paket pesanan hanya bisa diselesaikan lewat aplikasi e-commerce.

4. Pembeli Palsu untuk UMKM

Modus ini sering menargetkan pelaku usaha UMKM daring atau penjual online. Penipu berpura-pura menjadi pembeli dan memesan barang dalam jumlah besar agar terlihat meyakinkan.

Tidak sedikit penipu yang mengaku berasal dari instansi pemerintahan, biasanya memiliki pangkat militer atau menyebut lembaga negara lainnya.

Setelah itu, mereka mencoba menghindari pembayaran uang muka, meminta barang dikirim lebih dulu, atau mengirim bukti transfer palsu.

Apabila penjual tidak mengecek mutasi rekening, barang bisa saja dikirim tanpa pembayaran yang benar.

5. Penjual Online Palsu

Pada modus ini, penipu berpura-pura menjadi penjual dan menawarkan produk dengan harga yang sangat murah.

Setelah korban tertarik, penipu meminta pembayaran melalui transfer atau dompet digital. Namun, setelah uang dikirim, barang tidak pernah datang.

Waspadalah dengan barang-barang yang dijual jauh lebih murah dari harga pasarannya. Pastikan juga apabila pihak seller punya rekam jejak baik di akun e-commerce atau akun media sosial yang dipakainya untuk berjualan.

6. Undangan atau File APK Berbahaya

Penipu juga sering mengirim file APK dengan judul yang terlihat biasa, seperti undangan pernikahan, foto, atau invoice.

Padahal file tersebut berisi malware. Apabila kamu mengunduh dan mengaktifkannya, aplikasi berbahaya ini dapat membaca SMS, mengambil kode OTP, bahkan mengakses aplikasi perbankan di smartphone kita.

7. Phishing Bank atau Customer Service Palsu

Dalam modus ini, penipu mengaku sebagai pihak bank atau layanan pelanggan dari marketplace dan dompet digital.

Mereka biasanya mengatakan ada masalah dengan akun kita dan meminta data sensitif seperti PIN, OTP, atau kode verifikasi. Ingat, lembaga resmi tidak pernah meminta informasi tersebut melalui chat.

8. Investasi dan Hadiah Palsu

Penipuan ini biasanya datang dalam bentuk pesan kemenangan undian, tawaran investasi dengan keuntungan besar, atau pekerjaan online sederhana.

Korban sering dijanjikan keuntungan cepat, tetapi kemudian diminta menyetor uang untuk melanjutkan program tersebut.

9. Penipuan QRIS atau Bukti Transfer Editan

Modus ini sering menargetkan penjual yang menerima pembayaran daring via QRIS maupun transfer bank. Penipu mengaku sudah melakukan pembayaran dan mengirim atau menunjukkan screenshot bukti transfer.

Padahal gambar tersebut sudah diedit atau hanya menunjukkan transaksi yang masih tertunda. Jika tidak dicek langsung di rekening, penjual bisa tertipu.

10. Takeover WhatsApp (Pembajakan Akun)

Dalam modus ini, penipu mencoba mengambil alih akun WhatsApp kita. Mereka meminta kode OTP dengan berbagai alasan, misalnya mengaku salah kirim kode.

Kalau kita berikan kode tersebut, penipu dapat masuk ke akun WhatsApp kita dan menggunakannya untuk menipu kontak-kontak di dalam daftar pertemanan. Teman-teman kita pun berpotensi menjadi korban penipuan selanjutnya.

Melatih “Scam-Aware Mindset”

Di era komunikasi digital yang serba cepat, melindungi diri dari penipuan tidak hanya dengan mengenali modusnya, tetapi juga dengan membangun cara berpikir yang lebih waspada atau scam-aware mindset.

Pola pikir ini membantu kita tetap tenang saat menerima pesan yang mencurigakan.

Penipu sering memancing emosi agar kira bertindak cepat tanpa berpikir panjang. Oleh karena itu, kebiasaan sederhana seperti berhenti sejenak dan memeriksa informasi bisa membantu mengurangi risiko penipuan.

1. Hindari ambil keputusan saat emosi sedang tinggi

Penipu sering memanfaatkan emosi seperti panik, kasihan, takut, atau justru terlalu senang karena mendapat “kesempatan langka”.

Dalam kondisi seperti ini, kita cenderung mengambil keputusan dengan cepat. Jika menerima pesan yang membuatmu merasa terburu-buru, sebaiknya berhenti sejenak sebelum merespons.

2. Selalu verifikasi lewat kanal lain

Jika seseorang mengaku sebagai teman, keluarga, atau rekan kerja, jangan langsung percaya hanya dari satu pesan.

Cobalah menghubungi orang tersebut melalui cara lain, misalnya telepon langsung, video call, atau menanyakan kepada anggota keluarga lain. Verifikasi sederhana seperti ini sering kali cukup untuk membongkar penipuan.

3. Jangan pernah membagikan data rahasia

Informasi seperti OTP, PIN, password, atau kode verifikasi adalah data pribadi yang tidak boleh dibagikan kepada siapa pun.

Data ini biasanya digunakan untuk mengakses akun keuangan atau aplikasi penting. Kalau ada orang yang minta akses informasi tersebut melalui chat, itu hampir pasti merupakan upaya penipuan.

4. Hindari klik link atau unduh file dari chat pribadi

Banyak penipuan digital dimulai dari tautan atau file yang dikirim lewat pesan. File tersebut bisa berupa undangan, foto, atau dokumen yang terlihat biasa, tetapi sebenarnya berisi malware.

Apabila kamu tidak yakin dengan sumbernya, sebaiknya jangan membuka atau mengunduhnya.

5. Waspadai pesan yang terlalu mendesak atau terlalu bagus

Penipu sering menggunakan dua strategi utama untuk menciptakan rasa mendesak atau menawarkan sesuatu yang terlihat sangat menguntungkan.

Pesan seperti “harus segera”, “kesempatan terbatas”, atau “kamu menang hadiah besar” sebaiknya selalu diperiksa lebih hati-hati.

6. Biasakan memberi jeda sebelum transfer uang

Biasakan untuk mengambil jeda setidaknya 5-10 menit sebelum melakukan transfer. Hitungan menit ini, meski terkesan sebentar, bisa membantu kita berpikir lebih jernih.

Selama jeda itu, kamu bisa mengecek ulang informasi, menanyakan kepada orang lain, atau mempelajari ulang urgensi transaksi.

7. Simpan nomor keluarga penting

Tidak ada salahnya kamu catat nomor telepon anggota keluarga atau orang terdekat dengan rapi di buku, kertas, atau bahkan catatan digital di smartphone.

Strategi tersebut bisa membantu proses verifikasi lebih cepat. Kalau ada pesan yang mengaku berasal dari keluarga dengan nomor baru, kamu bisa langsung menghubungi nomor yang sebelumnya tersimpan di catatan pribadimu untuk memastikan kebenarannya.

8. Manfaatkan fitur keamanan digital

Beberapa fitur keamanan dapat membantu melindungi akunmu. Misalnya mengaktifkan two-step verification di WhatsApp atau mengaktifkan notifikasi transaksi dari bank. Fitur seperti ini membuat aktivitas mencurigakan lebih mudah terdeteksi.

9. Periksa rekening tujuan sebelum transfer

Di Indonesia, kamu juga bisa memeriksa nomor rekening yang mencurigakan melalui situs cekrekening.id. Layanan dari Kominfo ini memungkinkan masyarakat melihat apakah suatu rekening pernah dilaporkan terkait penipuan.

10. Ingat bahwa institusi resmi tidak minta OTP lewat chat

Bank, marketplace, dan layanan resmi lainnya tidak pernah meminta OTP, PIN, atau kode verifikasi melalui pesan pribadi. Kalau permintaan tersebut datang, cuekkan saja. Sudah pasti itu penipuan.

Memang betul, komunikasi digital membuat percakapan terasa lebih dekat dan personal. Akibatnya, banyak pesan terlihat meyakinkan bahkan ketika sebenarnya berasal dari penipu. Tak jarang, pesan yang sepertinya dari orang terdekat pun bisa datang dari akun yang sudah diambil alih.

Penting untuk tetap waspada tanpa harus menjadi paranoid. Biasakan diri untuk mengecek ulang informasi dan tidak perlu buru-buru mengambil keputusan finansial. Diam sejenak dan menahan reaksi bisa jadi penyelamat kita di situasi seperti ini.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih