diajeng.id - Bagi kamu perempuan yang telah menikah, pernahkah meminta tolong sesuatu pada suami, tapi hasilnya tidak sesuai harapan?
Padahal, instruksinya jelas, sesederhana membuatkan susu untuk bayi. Hasilnya, susu terlalu panas.
Atau, meminta tolong suami mengambilkan baju anak untuk persiapan anak saat dirawat inap di rumah sakit. Alih-alih pakaian yang nyaman seperti piyama, yang diambil adalah baju pesta atau baju lebaran.
Kedengarannya memang lucu dan bikin geleng-geleng kepala.
Miris memang, karena logika sederhana mendadak hilang kalau sudah urusan domestik. Namun, tepatkah jika respons tersebut dipahami sebagai keluguan laki-laki semata?
Dalam psikologi, perilaku berpura-pura tidak memahami instruksi ini punya nama yang cukup serius, yaitu weaponized incompetence.
Weaponized Incompetence, Trik Halus Hindari Tugas Domestik
Weaponized incompetence, seperti dijelaskan laman Psychology Today, adalah perilaku yang dengan sengaja melakukan sesuatu dengan tidak becus atau "pura-pura tidak bisa".
Tujuannya sederhana, agar terhindar dari tanggung jawab.
Tindakan ini sebenarnya bukan soal kurang keterampilan, melainkan lebih pada strategi.
Ciri utamanya bukan hanya kesalahan satu-dua kali, melainkan berulang, ditandai dengan defensif, menolak bertanggung jawab, atau menghukum secara emosional ketika dampaknya sudah dijelaskan.
Pelaku pun akan memosisikan diri sebagai korban, sementara pasangannya terlihat “cerewet” atau tidak masuk akal.
Contoh Weaponized Incompetence
Biasanya, contoh yang lazim ditemui adalah dalam konteks suami-istri. Pada akhirnya, istrilah yang menanggung beban lebih berat.
Melansir artikel Cleveland Clinic, berikut tiga contoh yang menggambarkan weaponized incompetence yang terjadi di rumah tangga atau di kantor:
1. Istri Meminta Bantuan Suami Melipat Pakaian
Istri: “Pakaian ini kusut sekali setelah kamu lipat. Lain kali, kalau mau lipat lagi, kamu bisa kan lipat lebih rapi?”Suami: “Oh, aku kan memang tidak mahir melipat pakaian. Kamu jauh lebih baik melipatnya. Ya udah, mulai sekarang kamu saja yang lipat pakaiannya.”
2. Lingkungan rumah tangga: Menyiapkan makan malam
Istri: “Nanti kamu bisa masak atau menyiapkan buat makan malam kita? Aku lagi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”Suami: “Tentu saja bisa, tapi ingat gak terakhir aku masak? Panci sampai gosong karena apinya kegedean, dan telur dadarnya keasinan akibat kebanyakan garam. Kamu enggak pernah mengajariku memasak. Apa kamu yakin enggak mau memasak sendiri? Masakanmu selalu lebih enak!”
3. Lingkungan kantor
Karyawan 1: “Ada beberapa kesalahan di laporan yang barusan kamu kirim. Bisakah kamu memeriksa ulang pekerjaanmu lain kali?”Karyawan 2: “Aku memang buruk banget untuk hal-hal yang detail. Beda sama kamu yang selalu menyelesaikan laporan-laporan ini dengan sempurna. Mungkin kamu yang lebih cocok menangani laporan-laporan ini, nanti biar aku yang mengurus hal lain.”
Ketika mencuci piring, suami justru membiarkan piring dan gelas kotor terendam di wastafel selama berhari-hari.
Atau, suami menolak mengganti popok bayi karena "tidak tahu caranya". Lainnya, ada yang menghindari percakapan karena berkaitan dengan tanggung jawab keuangan.
Contoh-contoh di atas memang terkesan tidak berbahaya.
Namun, apabila dilakulan berulang dari waktu ke waktu, bukan tidak mungkin weaponized incompetence menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan rumah tangga atau kemitraan.
Selain itu, jika ada pihak (suami) yang terus-menerus menghindari tugas dan tidak berusaha untuk memperbaikinya, jelas ini akan menambah beban kerja pada pihak yang satunya lagi (istri).
Saran Ahli untuk Menghadapi Weaponized Incompetence
Psikolog Jelena Kecmanovic, PhD melalui laman Washington Post memberikan beberapa saran yang bisa dilakukan perempuan jika suaminya melakukan weaponized incompetence:
1. Ajak diskusi rutin dan terencana
Buat waktu khusus tiap minggu untuk mengobrol tanpa emosi tinggi, bukan saat marah atau sibuk. Tujuan utamanya adalah mengungkapkan perasaan dan beban yang dirasakan, bukan menyalahkan.
2. Analisis pembagian tugas bersama
Setiap pasangan menuliskan semua pekerjaan rumah, kemudian bandingkan hasilnya. Ini membantu meningkatkan kesadaran masing-masing terhadap beban nyata yang tidak setara.
3. Dengarkan perspektif pasangan dengan empati
Saat berbicara tentang tugas yang tidak dilakukan, jangan mengarah ke kritik, tetapi coba pahami apa yang sebenarnya dirasakan suami (misalnya takut salah, merasa tidak cukup pandai). Empati dapat mengurangi defensif dan membuka ruang perubahan.
4. Susun rencana kerja sama yang jelas
Tentukan pembagian tugas secara konkret dan bertahap. Kemudian, jika istri yang biasanya mengerjakan tugas itu, berhenti ikut campur, agar suami benar-benar belajar melakukannya dengan cara dia sendiri.
5. Bangun dukungan dari komunitas
Ikuti komunitas pendukung, lalu carilah contoh pasangan atau kelompok yang berhasil berbagi tugas rumah secara setara. Belajar dari pengalaman orang lain bisa jadi motivasi tambahan.
6. Pertimbangkan terapi jika perlu
Kalau pasangan terus menolak bertanggung jawab, selalu deflektif, atau tidak ada perubahan nyata, dinamika ini bisa lebih dalam daripada sekadar tugas rumah, dan konseling pasangan atau individu mungkin diperlukan.Weaponized incompetence dapat diatasi dengan membangun kesadaran bersama, komunikasi empatik, dan rencana tanggung jawab yang nyata antara kedua pasangan.
Jika masih ingin membaca seputar dinamika rumah tangga lainnya, bisa klik tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih