Menuju konten utama
Lebaran 2026

Yang Tahun Ini Bertahan di Tanah Perantauan

Mudik memang menjadi tradisi yang penuh makna. Namun, tidak semua orang selalu dapat pulang kampung setiap Lebaran karena kondisi dan keadaan tertentu.

Yang Tahun Ini Bertahan di Tanah Perantauan
Header Diajeng Yang Bertahan di Tanah Perantauan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Libur panjang Lebaran kerap menjadi momentum mudik bagi kaum muda maupun keluarga yang hidup merantau, jauh dari rumah orang tua atau sanak saudara.

Namun, tahun ini jumlah pemudik diperkirakan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebab yang diduga melatarbelakanginya adalah turunnya daya beli masyarakat.

Menahan Kerinduan Demi Prioritas Keluarga

Bagi Nanda (41), keputusan untuk tidak mudik tahun ini berkaitan erat dengan prioritas kebutuhan keluarga.

Nanda berasal dari Aceh, sementara suaminya berasal dari Lampung. Saat ini mereka tinggal di Depok, Jawa Barat.

Menurut Nanda, tahun ini ada sejumlah kebutuhan pendidikan anak-anak yang harus diprioritaskan.

"Kami tidak mudik karena pertimbangan keuangan, anak-anak tahun ini butuh buat biaya sekolah, anak pertama mulai masuk bimbingan belajar, anak kedua mau masuk SMP, dan anak ke-3 juga akan masuk SD. Selain itu, kami juga baru saja pulang kampung pada libur tahun baru lalu," cerita Nanda kepada Diajeng.

Nanda menegaskan bahwa keputusannya untuk tidak mudik sama sekali bukan karena ada masalah dengan keluarga di kampung halaman. Hubungan dengan keluarga tetap baik-baik saja.

Meski demikian, ada sedikit rasa sedih yang ia rasakan.

Bagi Nanda, mudik bukan hanya soal sampai di kampung halaman, tetapi juga tentang perjalanan dan momen berkumpul dengan keluarga besar yang selalu dirindukan.

"Kalau tidak ada halangan, semoga bisa mudik pada Lebaran tahun depan," ucapnya.

Sementara itu, ketika ditanya apa yang akan dilakukan ketika berada di perantauan saat libur Lebaran, ia mengaku lebih memilih menikmati waktu libur bersama suami dan anak-anak di tempat mereka tinggal sekarang.

Menunda Mudik ke Momen Lain

Cerita berbeda datang dari Bekti Suprapti (35). Ia berasal dari Way Jepara, Lampung Timur, dan saat ini bekerja di Yogyakarta.

Bekti terakhir kali mudik pada Lebaran tahun lalu.

Tahun ini, ia dan suaminya memutuskan untuk tidak pulang kampung karena berencana mudik pada momen lain, yakni saat Idul Adha yang bertepatan dengan acara keluarga di kampung halaman. Keputusan tersebut sekaligus menjadi cara untuk berhemat.

Bekti menegaskan bahwa hubungannya dengan keluarga di kampung tetap baik dan harmonis. Namun, ia mengakui tetap merasakan kesedihan karena tidak bisa pulang saat Lebaran tahun ini. Perasaan itu biasanya semakin terasa ketika mendengar lantunan takbir di malam hari raya.

"Yang paling dirindukan itu bisa berkumpul, bersenda gurau bersama keluarga tersayang, dan sekedar makan bersama sambil sedikit bercerita tentang masa kecil," kata Bekti.

Sambil menunggu kesempatan mudik saat Idul Adha nanti, Bekti menghabiskan libur Lebaran di kota perantauan dengan mengunjungi kerabat terdekat

"Biasanya kami habiskan waktu libur Lebaran di kota rantau dengan mengunjungi sanak saudara terdekat, dan mengunjungi tempat wisata atau sekedar berkeliling kulineran," tukasnya.

Makna Lebaran yang Berubah

Andina (39) memiliki cerita yang sedikit berbeda.

Kampung halamannya berada di Yogyakarta, tempat ayahnya kini tinggal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih sering merayakan Lebaran di Jakarta bersama keluarga suami.

Andina mengaku sudah lebih dari tujuh tahun tidak mudik saat Lebaran. Terakhir kali ia pulang ke Yogyakarta pada 2018, itupun hanya untuk perjalanan singkat.

Menurut Andina, banyak hal yang membuat tradisi mudik tidak lagi menjadi prioritas utama.

"Semenjak ibu tiada, saya tidak terlalu memperjuangkan untuk berlebaran di rumah orang tua di Jogja karena bapak juga sudah ada keluarga baru. Selain itu, soal keuangan juga berpengaruh banyak sehingga mudik di hari Lebaran tidak terlalu menjadi prioritas kami, karena harus memikirkan biaya yang besar untuk 5 orang di saat peak season," kisah Andina.

Berbeda dengan sebagian perantau lain, Andina mengaku tidak terlalu merasa sedih karena tidak mudik. Baginya, makna Lebaran memang sudah berubah sejak ia berkeluarga.

"Mungkin kalau bisa kembali ke masa lalu momen yang dirindukan adalah saat kumpul keluarga besar di hari kedua Lebaran. Kemudian jalan-jalan rekreasi ke wisata sekitar sambil melihat hiruk pikuk Lebaran orang-orang," jelasnya.

Alih-alih pulang saat Lebaran, Andina tetap mengagendakan mudik setidaknya sekali dalam setahun untuk mengunjungi ayahnya sekaligus berlibur bersama keluarga.

Karena anak-anaknya menjalani homeschooling, waktu perjalanan mereka lebih fleksibel.

Biasanya mereka memilih bepergian di luar musim liburan besar agar biaya lebih terjangkau dan perjalanan terasa lebih nyaman.

Selama Lebaran di Jakarta, Andina tetap menikmati suasana hari raya dengan cara yang sederhana: mengunjungi kerabat yang tinggal di kota yang sama, menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, atau sesekali berjalan-jalan menikmati suasana Jakarta yang lebih lengang.

Lebaran yang Tetap Berarti

Bagi banyak perantau, mudik memang menjadi tradisi yang penuh makna. Namun, seperti dialami Nanda, Bekti, dan Andina, tidak semua orang selalu dapat pulang kampung setiap Lebaran.

Ada pertimbangan ekonomi, rencana keluarga, hingga perubahan situasi hidup yang membuat keputusan tersebut perlu disesuaikan.

Nyatanya, tidak ada aturan yang mewajibkan kita untuk mudik setiap tahun. Bagi sebagian orang, pulang kampung bisa menunggu waktu yang lebih tepat, ketika kondisi keuangan lebih longgar, ketika agenda keluarga memungkinkan, atau ketika perjalanan terasa lebih nyaman dilakukan.

Yang terpenting, makna Lebaran tidak semata-mata terletak pada perjalanan pulang ke kampung halaman, tetapi pada kebersamaan dengan orang-orang terdekat dan kemampuan untuk merayakan hari raya dengan cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.

Artikel menarik lainnya seputar Lebaran juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih