diajeng.id - Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) diselenggarakan pertama kali sebagai pilot program di JNM Bloc pada 2024.
Kala itu, tim kreatif di baliknya tengah mencoba membangun fondasi sekaligus meraba-raba arah terbaik bagi sebuah festival penerbitan artistik berbasis komunitas.
Mereka hanya membuka 10 meja bagi eksibitor penerbit dan pegiat penerbitan artistik untuk memamerkan dan menjual kreasinya. Namun, siapa sangka, mereka disambut dengan antusiasme luar biasa dari 1.000 pengunjung.
Berbekal optimisme tersebut, YKABF edisi pertama resmi diluncurkan pada 2025 dengan menghadirkan 30 eksibitor. Sekitar 2.000 orang datang untuk memeriahkan festival tersebut.
Pada tahun ini, YKABF kembali hadir dengan 43 eksibitor, termasuk yang berasal dari negeri jiran Vietnam, Malaysia, Cina, dan Taiwan. Acara berlangsung selama tiga hari pada 8-10 Mei di Langgeng Art Space dengan tiket masuk daily pass seharga Rp35 ribu.
YKABF 2026 mengangkat tema “booound”, sebuah metafora untuk segala hal yang mengikat atau menyatukan komunitas, seniman, pegiat penerbitan, dan pelaku seni kreatif, sekaligus menggambarkan titik temu antara material fisik buku dan kebersamaan yang cair di dalam skena penerbitan mandiri.

YKABF berbeda dari pameran buku pada umumnya yang cenderung berfokus pada transaksi jual-beli praktis.
“Di YKABF, fokusnya lebih pada interaksi langsung antara calon pembaca atau calon pembeli dengan pembuat [buku dan publikasi cetak kreatif],” terang Director YKABF Syafiatudina atau akrab disapa Dina pada hari terakhir festival, Minggu (10/5).
Setiap meja dijaga langsung oleh para pencipta buku, zine, dan produk penerbitan kreatif lainnya, maupun pihak-pihak yang bekerja untuk mendistribusikan.
Salah satu eksibitor adalah Cut Print Studio, sebuah kolektif seni grafis dan studio sablon dari Bantul. Mereka membawakan karya seni cetak yang dibuat melalui proses sablon manual.
“Kami ingin menampilkan keragaman bentuk seni di YKABF dan salah satu yang akan selalu kami terima dengan senang hati adalah teman-teman street artists, karena perpindahan medium dari dinding dan jalanan ke penerbitan itu sangat menarik untuk diamati dan juga punya banyak penikmat,” terang Dina terkait keunikan Cut Print Studio.

Sementara itu, Tàu Hũ Ky Collective, sebuah kolektif kreasi Do-It-Yourself dan publikasi zine dari Saigon, Vietnam memamerkan sejumlah karya seni cetak dengan risograf, mesin sablon digital untuk mencetak dokumen dalam jumlah besar secara cepat dan efisien.
“Risograf adalah salah satu teknik printing yang kami gunakan di Vietnam. Mesin ini sebenarnya banyak dipakai di Asia Tenggara untuk mencetak dokumen secara praktis, tapi kami memakainya untuk tujuan artistik dan dengan desain yang cantik karena tekstur hasil cetakannya bagus,” terang Nam Nguyen, salah satu seniman Tàu Hũ Ky.
Nam juga menunjukkan zine buatannya, Risograph Obscura, berisi ilustrasi ciamik dan penjelasan menarik tentang cara kerja risograf.

YKABF tidak sekadar mewadahi para pegiat penerbitan artistik dan penerbit mandiri, tetapi juga menyediakan ruang untuk berkomunitas dan berbagi ilmu.
Make-Your-Tiny-Zine adalah pojok aktivasi dari YKABF. Setelah menyaksikan berbagai kreasi penerbitan, beberapa pengunjung bisa jadi tertarik membuatnya. Maka siapa pun dipersilakan untuk membuat zine dengan alat tulis dan kertas lipat 8 yang telah disediakan.
Dina menerangkan, zine hasil kreasi sendiri tersebut bisa disumbangkan ke arsip YKABF. Tahun ini, YKABF meluncurkan Yogyakarta Art Book Club sebagai wadah komunitas penggerak YKABF.
“Di luar festival tiga hari ini, kami berharap bisa meneruskan proses-prosesnya melalui kegiatan Yogyakarta Art Book Club,” terang Dina.
Salah satunya adalah Mobile Library (Perpustakan Keliling), yang memungkinkan klub tersebut bergabung dalam berbagai acara kreatif untuk memperkenalkan koleksi buku tentang penerbitan mandiri atau zine serta menampilkan arsip-arsip zine dari pengunjung YKABF.

Selain itu, ada pula program special showcase bertajuk Junk-to-Journals: Between Undoing and Rewriting Ephemera dari Ika Vantiani, seniman yang aktif mengolah dan memodifikasi material kertas menjadi kreasi jurnal yang bersifat menyembuhkan dan membebaskan.
YKABF 2026 turut dimeriahkan dengan berbagai sesi lokakarya, peluncuran buku, bincang-bincang, dan masterclass yang melibatkan pegiat penerbitan artistik, termasuk penulis dan ilustrator.
Dina tidak menampik, saat ini kita semua tengah dihadapkan dengan ekonomi yang lesu, situasi sosio-politik rentan, belum lagi masifnya digitalisasi produksi dan distribusi pengetahuan serta kehadiran AI yang mulai mengancam para pekerja kreatif.
Namun begitu, menurut Dina, antusiasme dan dorongan manusia untuk berkarya tetap ada. Tetap tinggi.
Dina menjelaskan, “Justru, melalui perhelatan seperti ini, kami melihat sentuhan manusia dan kompleksitas material tetap penting. Itu tidak bisa tergantikan atau disederhanakan dengan pola atau struktur yang sudah dipelajari oleh AI. Semakin kompleks, semakin berlapis, semakin bercabang suatu karya, terasa semakin manusiawi dan semakin dia bisa ‘bicara’ mengenai isu-isu penting dalam kehidupan kita.”
“Mungkin, mesin juga belum sebagus itu, dan mungkin tidak akan bisa menggantikan karya seni, karena interaksi antarmanusia itulah yang juga menguatkannnya,” pungkas Dina.
Editor: Dwi Ayuningtyas