Menuju konten utama

Adenomiosis dan Program Hamil: Kapan Perlu Penanganan Khusus?

Adenomiosis terjadi ketika jaringan yang seharusnya melapisi bagian dalam rahim (endometrium) tumbuh masuk ke dalam otot rahim.

Adenomiosis dan Program Hamil: Kapan Perlu Penanganan Khusus?
Header Diajeng Adenomiosis. foto/istockphoto

diajeng.id - Banyak perempuan mengenal endometriosis sebagai salah satu penyebab nyeri menstruasi dan gangguan kesuburan. Namun, ada kondisi lain yang sering muncul bersamaan dan tidak kalah penting untuk dikenali, yaitu adenomiosis.

Meski begitu, masih banyak perempuan yang belum memahami kondisi ini karena gejalanya mirip dengan gangguan reproduksi lain.

Kalau kamu pernah mengalami nyeri menstruasi hebat, perdarahan menstruasi berlebihan, perut terasa penuh, hingga kesulitan hamil, bisa jadi penyebab itu semua berasal dari permasalahan gangguan hormon yang disebut adenomiosis.

Dalam webinar "Endometriosis dan Program Hamil" yang dibawakan oleh dr. Nogi E. Prasetiyo, Sabtu (16/5/2026), dijelaskan bahwa adenomiosis terjadi ketika jaringan yang seharusnya melapisi bagian dalam rahim (endometrium) tumbuh masuk ke dalam otot rahim.

Kondisi tersebut dapat memicu peradangan kronis dan mengubah struktur maupun fungsi rahim secara keseluruhan. Akibatnya, rahim tidak hanya menjadi lebih sensitif dan nyeri, tetapi juga dapat mengalami gangguan dalam proses implantasi embrio.

"Adenomiosis ini bukan sekadar menyebabkan rahim menebal, tetapi juga bisa mengganggu lingkungan mikro rahim dan menurunkan peluang kehamilan, baik secara alami maupun melalui program bayi tabung (IVF)," tegas dr. Nogi.

Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan inflamasi, mengganggu kontraksi rahim, serta menurunkan kemampuan embrio untuk menempel dengan baik.

Akibatnya, risiko keguguran dan kegagalan implantasi dapat meningkat, terutama pada pasien yang menjalani IVF atau transfer embrio.

Maka dari itu, pada beberapa kasus pasiesn, diperlukan terapi hormonal terlebih dahulu sebelum program IVF dilakukan.

Bagaimana Adenomiosis Mengganggu Implantasi Embrio?

Menurut penjelasan dr. Nogi, adenomiosis dapat memengaruhi proses kehamilan melalui beberapa mekanisme sekaligus.

"Salah satunya adalah gangguan pada junctional zone, yaitu area penting di rahim yang berperan dalam pergerakan sperma dan embrio. Ketika area ini menebal, proses transportasi embrio dapat terganggu," sebutnya.

Selain itu, kontraksi otot rahim pada pasien adenomiosis cenderung lebih aktif atau hiperperistaltik. Kondisi ini membuat rahim menjadi kurang stabil untuk proses penempelan embrio.

Adenomiosis juga memicu peningkatan zat inflamasi dan perubahan reseptivitas endometrium, sehingga lingkungan rahim menjadi kurang optimal untuk mempertahankan kehamilan.

Adenomiosis dapat bersifat fokal maupun difus, kata dr. Nogi.

Pada adenomiosis fokal atau adenomioma, kelainan hanya berada di area tertentu. Dampaknya terhadap kesuburan biasanya lebih ringan, meski tetap perlu diperhatikan bila ukurannya besar atau menonjol ke rongga rahim.

Sementara pada adenomiosis difus, jaringan menyebar lebih luas di dinding rahim sehingga pengaruhnya terhadap implantasi dan risiko keguguran cenderung lebih besar.

Penanganan setiap pasien pun perlu disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing.

Kapan Adenomiosis Memerlukan Terapi Sebelum Promil?

Pada pasien yang menjalani program hamil, terutama IVF atau frozen embryo transfer (FET), dokter dapat mempertimbangkan terapi hormonal terlebih dahulu untuk menekan inflamasi dan memperbaiki kondisi rahim.

Ada beberapa terapi yang dibahas dalam webina tersebut, antara lain gienogest atau pil hormonal kombinasi, GnRH agonist, hingga LNG-IUS pada kondisi tertentu.

Tujuan utama terapi ini adalah menciptakan lingkungan rahim yang lebih optimal sebelum embrio ditransfer.

Pada kasus adenomioma fokal berukuran besar dan mengganggu rongga rahim, tindakan operasi juga dapat dipertimbangkan secara selektif.

Adenomiosis merupakan kondisi yang dapat memengaruhi kualitas hidup sekaligus peluang kehamilan perempuan. Meski sering dianggap hanya sebagai “rahim menebal”, kondisi ini sebenarnya dapat mengganggu implantasi embrio dan meningkatkan risiko keguguran bila tidak ditangani dengan tepat.

Melalui diagnosis yang akurat, terapi yang sesuai, dan pendekatan yang personal, peluang keberhasilan program hamil tetap dapat dioptimalkan.

"Yang terpenting, perempuan perlu lebih peka terhadap gejala nyeri haid berat atau gangguan menstruasi yang terus berulang dan tidak menganggapnya sebagai hal normal semata," tukas dr. Nogi.

Cek artikel lainnya tentang kehamilan di tautan berikut.

Baca juga artikel terkait MASALAH KESUBURAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih