Menuju konten utama

Adik-Kakak Sering Ribut: Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?

Mengajari anak-anak untuk mengungkapkan sudut pandang, bekerja sama mencari solusi, dan mengatur emosi adalah kunci penting pengasuhan orang tua.

Adik-Kakak Sering Ribut: Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?
Header Diajeng Tips Sibling Rivalry. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ada masa ketika kita merasa kakak atau adik adalah pesaing terbesar: saling berebut perhatian, berebut ruang, bahkan hal-hal sepele seperti mainan atau remote TV.

Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa hubungan antarsaudara sebenarnya adalah salah satu ikatan paling panjang dalam hidup.

Di tengah tawa, konflik kecil, dan cerita yang hanya dimengerti keluarga, tersimpan kesempatan besar untuk membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung.

Sibling goals bukan soal tampil kompak di foto keluarga, tetapi tentang bagaimana kita belajar memahami satu sama lain sebagai individu yang terus berkembang.

Hubungan yang sehat tidak hadir dengan sendirinya, tetapi dibangun perlahan lewat empati, komunikasi, dan kesediaan untuk tumbuh bersama.

Dengan mengenali dinamika unik dalam keluarga, kita bisa menciptakan relasi antarsaudara yang bukan hanya rukun, tetapi juga bermakna.

Susan McHale, dosen perkembangan manusia dan studi keluarga di Penn State University mengatakan, mengabaikan peran saudara kandung dalam pertumbuhan dan kesejahteraan anak adalah sebuah kekeliruan.

"Relasi saudara kandung adalah hubungan paling langgeng bagi kebanyakan orang, dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut. Ini artinya mereka dapat memahami diri kalian dengan cara yang tidak dapat dipahami orang lain."

Begitu kata McHale seperti dilansir American Psychological Association (APA).

Masih mengutip situs APA, Shawn Whiteman, PhD dari Utah State University dalam studinya di Journal of Family Psychology (2018) mendapati bahwa mereka yang memiliki saudara kandung cenderung melaporkan konflik lebih sedikit selama masa dewasa awal.

Studi Whiteman lainnya pada 2019 mengungkapkan, meskipun orang dewasa muda tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan saudaranya setelah mereka meninggalkan rumah orang tua, mereka menganggap pembicaraan yang ada lebih bermakna. Mereka juga merasa lebih memahami saudaranya saat bertumbuh dewasa.

Namun demikian, realitasnya, selalu saja ada dinamika antara relasi antarsaudara kandung. Lalu, apa yang bisa orang tua lakukan terkait ini?

Cara Membangun Hubungan Sehat Antarsaudara

Masih menurut APA, membangun hubungan sehat antarsaudara dimulai dari peran orang tua.

Para peneliti menekankan bahwa hal terpenting adalah menghindari perlakuan yang tampak memihak.

Anak-anak sangat peka terhadap perbedaan sikap orang tua. Mereka tahu, merasa “tidak diutamakan” dapat merusak hubungan baik dengan saudara maupun orang tua.

Karena itu, orang tua perlu menciptakan suasana yang adil: tidak membandingkan anak, tidak menjadikan mereka pesaing, tidak langsung berpihak ketika mereka bertengkar.

Orang tua boleh saja memperlakukan anak secara berbeda sesuai usia atau kebutuhan, tetapi alasannya harus dijelaskan agar tidak dianggap pilih kasih.

Orang tua disarankan untuk proaktif membimbing anak-anak dalam mengelola konflik, alih-alih membiarkan mereka “berkelahi sampai selesai.”

Mengajari anak-anak untuk mengungkapkan sudut pandang, bekerja sama mencari solusi, dan mengatur emosi adalah kunci penting dalam pengasuhan.

Ketika keterampilan ini sudah berkembang, barulah anak dapat diberi ruang untuk menyelesaikan masalah sendiri.

Lebih lanjut situs Greater Good memberikan beberapa tips bagi orang tua untuk menjaga hubungan dengan saudara kandung ketika terjadi konflik atau pertengkaran antarsaudara:

1. Jangan Paksa Minta Maaf dan Memaafkan

Biarkan kata maaf muncul ketika anak siap. Jangan memaksa anak meminta atau menerima maaf. Akui dulu rasa sakitnya, kemudian beri ruang jika mereka belum siap melepaskannya.

2. Mulai dari Hal Kecil

Ajarkan maaf saat konflik masih ringan. Ini membantu anak membangun “otot pengampunan” yang berguna ketika menghadapi masalah yang lebih besar di kemudian hari.

3. Ajarkan Konteks yang Adil

Meminta maaf dan memaafkan tidak berarti membenarkan perilaku yang salah. Tangani pelanggaran dengan adil, terutama jika menyangkut perundungan antarsaudara. Pastikan anak tahu bahwa memaafkan berarti melepaskan sakit hati, bukan menganggap tindakan itu benar.

4. Biarkan Tanpa Syarat

Dua anak mungkin berada di fase berbeda dalam proses memaafkan, dan itu wajar. Anak bisa memaafkan meski saudaranya belum siap meminta maaf. Tindakan kecil seperti senyuman atau ajakan bermain juga merupakan wujud pengampunan.

5. Jadilah Teladan dalam Hal Maaf-Memaafkan

Orang tua yang memendam luka lama cenderung menunjukkan kebiasaan untuk tidak memaafkan. Sebaliknya, mencontohkan sikap saling memaafkan, terutama setelah perceraian, dapat menjadi teladan kuat bagi anak.

6. Praktikkan Maaf Memaafkan dengan Anak Sendiri

Orang tua perlu menghindari mengungkit kesalahan lama anak. Di sisi lain, ketika orang tua melakukan kesalahan pada anak, meminta maaf dengan tulus dapat menjadi pelajaran berharga tentang kerendahan hati dan perbaikan hubungan.

7. Gunakan Cerita sebagai Contoh

Buku dan film dapat menjadi cara efektif untuk menunjukkan contoh maaf memaafkan. Cerita membantu anak melihat bahwa konflik adalah hal wajar, dan setiap orang bisa memilih untuk memaafkan dengan berbagai cara.

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hubungan antarsaudara yang sehat memang bukan terjadi secara otomatis, tetapi ini tumbuh melalui bimbingan, keadilan, dan strategi yang konsisten dari orang tua.

Simak juga artikel menarik lainnya di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih