Menuju konten utama

Drama Kakak-Adik: Mengapa Relasi Antarsaudara Bisa Begitu Rumit?

Hubungan kakak-adik dapat berubah dari pertengkaran lucu masa kecil menjadi konflik serius yang dipicu oleh utang, asmara, hingga warisan.

Drama Kakak-Adik: Mengapa Relasi Antarsaudara Bisa Begitu Rumit?
Header Diajeng Sibling Rivalry. tirto.id/Quita

diajeng.id - Tawa, rahasia masa kecil, dan janji persahabatan sejati...

Bagi banyak orang, momen-momen tersebut ditemukan dalam hubungan dengan saudara kandung atau antara kakak dan adik.

Hubungan kakak-adik merupakan relasi terpanjang dan terhangat yang akan kita miliki seumur hidup.

Namun, realitas tak selalu seindah cerita dongeng.

Akhir-akhir ini, muncul narasi persaudaraan yang hancur, seperti digambarkan dalam film Ipar Adalah Maut (2024) yang juga baru saja dibuat serialnya.

Film bertema pengkhianatan ini mengisahkan bagaimana hubungan pernikahan yang sudah berjalan lama dapat mengalami keretakan akibat perselingkuhan suami dengan adik kandung dari istri sendiri.

Cerita yang konon berdasarkan kisah nyata ini menegaskan bahwa di balik ikatan sedarah yang tak terputus, tersimpan potensi konflik yang kuat.

Pertanyaannya, bagaimana perseteruan antarsaudara atau sibling rivalry bisa berubah dari pertengkaran lucu masa kecil menjadi konflik serius pada usia dewasa?

Dr. Gregory Jantz, pendiri The Center: A Place of Hope menulis, konflik di antara saudara sebenarnya bisa jauh lebih rumit dari sekadar “iri sedikit” atau “berantem kecil waktu kecil”.

Kekerasan antarsaudara bahkan bisa disebut sebagai “kekerasan yang terlupakan”, sebuah bentuk luka yang jarang dianggap serius padahal dampaknya bisa sama dahsyatnya dengan kekerasan dalam relasi lain.

Di sejumlah keluarga, batas antara “persaingan normal” dan perilaku yang menyakiti sering kali samar.

Anak-anak memang bisa bertengkar, berebut perhatian, atau saling memukul dan menjambak karena cemburu gara-gara mainan.

Namun, ketika satu pihak terus-menerus meremehkan, mengancam, atau membuat saudaranya hidup dalam ketakutan, itu bukan lagi sekadar rivalitas masa kecil, melainkan pola yang tidak setara, berulang, dan melukai.

Sayangnya, banyak dari pola ini tidak berhenti saat semua tumbuh dewasa.

Beberapa saudara tetap menunjukkan sikap toksiknya, dari sering memberi kritik tajam yang meruntuhkan harga diri, menghilangkan kepercayaan, memanipulasi emosi, atau bahkan menjadikan hidup sebagai ajang kompetisi tanpa akhir.

Ada yang merasa energinya selalu terkuras setiap kali bertemu saudaranya, ada yang hidup dalam bayang-bayang pengendalian saudaranya, ada pula yang berjarak karena tidak tahan lagi menjadi sasaran merendahkan.

Dalam kasus tertentu, komentar seksual yang tidak pantas atau perilaku menakutkan juga bisa muncul.

Artinya, kedekatan darah tidak otomatis menjamin keamanan emosional.

Ironisnya, hubungan kakak-adik adalah relasi yang tumbuh paling awal dalam hidup kita, tetapi juga salah satu yang rentan retak ketika luka-luka kecil dibiarkan menumpuk.

Sibling rivalry yang dulu terlihat remeh bisa bergeser menjadi ketidakpercayaan, kemarahan menahun, atau jurang emosional yang sulit dijembatani.

Kadang-kadang pemicu pertengkaran antarsaudara adalah hal-hal yang sangat manusiawi: warisan, pasangan, perbandingan dari orang tua, utang, atau rasa tidak pernah cukup dilihat.

Dinamika hubungan kakak-adik juga jadi perhatian para peneliti.

Dalam artikel di Journal of Family Issues (2022) tentang hubungan saudara kandung di usia dewasa, dituliskan bahwa hubungan kakak-adik bisa berakhir atau menjadi sangat jauh. Relasi tersebut tidak dijamin, apalagi selalu suportif.

Penelitian dari Ohio State University pada 2024 menemukan bahwa remaja yang tumbuh dalam keluarga besar cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan mereka yang hanya punya sedikit saudara kandung atau anak tunggal.

Temuan ini muncul konsisten di dua negara berbeda, Amerika Serikat dan Tiongkok, sehingga cukup mengejutkan tim peneliti.

Hasil studi ini menguatkan pandangan bahwa jumlah saudara bukan sekadar angka, melainkan juga berpengaruh pada dinamika psikologis anak.

Salah satu penjelasan yang diajukan adalah teori pengenceran sumber daya: semakin banyak anak, semakin tipis perhatian dan energi orang tua terbagi.

"Bayangkan sumber daya orang tua seperti kue, artinya satu anak mendapatkan jatah semua kue, seluruh perhatian dan sumber daya orang tua."

Begitu disampaikan Doug Downey, penulis utama studi dan profesor sosiologi Ohio State University.

Apabila jarak usia antarsaudara sangat dekat, persaingan untuk mendapatkan perhatian orang tua semakin kuat. Dampaknya pun semakin besar pada kesehatan mental si anak.

"Dengan tambahan saudara kandung lebih banyak, setiap anak akan mendapatkan lebih sedikit sumber daya dan perhatian dari orang tua, yang mungkin berdampak pada kesehatan mental mereka," lanjutnya.

Tentu saja, penelitian ini tidak bermaksud menyimpulkan bahwa memiliki banyak saudara selalu berdampak buruk.

Selama ini, studi-studi lainnya menunjukkan manfaat hidup dengan saudara kandung, seperti keterampilan sosial lebih baik pada masa Taman Kanak-Kanak atau risiko perceraian lebih rendah saat dewasa.

Keseluruhan temuan dari penelitian ini mengingatkan kita bahwa relasi kakak-adik bukanlah ruang yang netral.

Hubungan antarsaudara bisa menjadi sumber dukungan, tapi juga tidak pernah sesederhana “pasti dekat karena sedarah”.

Ada banyak faktor yang membentuk kualitasnya, dari cara mereka dibesarkan, pembagian perhatian, hingga bagaimana persaingan masa kecil berkembang tanpa disadari.

Mungkin itulah yang membuat relasi kakak-adik begitu menarik sekaligus rapuh.

Saudara kandung lahir dari rahim yang sama, tetapi mereka bisa tumbuh ke arah yang sangat berbeda. Semua tergantung bagaimana masing-masing merasa diakui, didengar, dan disayangi di dalam keluarga.

Simak pula artikel terkait hubungan kekeluargaan di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih