Menuju konten utama
Merayakan Kerja Ibu

Anak-Anak sebagai Sumber Kekuatan: Kisah Nur & Siti, Ibu Pekerja

Di balik kesibukan sehari-hari, Nur dan Siti menemukan kekuatan terbesar pada anak-anak, yang mendorong mereka terus berkarya dan hadir sebagai ibu.

Anak-Anak sebagai Sumber Kekuatan: Kisah Nur & Siti, Ibu Pekerja
Nur (berkerudung cokelat) menjalani hari-harinya di Sleman, Yogyakarta dengan berjualan gorengan, bakmi, dan sayur pecel, sementara Siti (berkerudung biru) berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan minuman probiotik Yakult di kawasan Depok, Jawa Barat. tirto.id/Nadya

diajeng.id - Jarum jam belum menunjukkan waktu pukul empat dini hari ketika dapur di rumah Nur (39) sudah terasa hangat oleh asap tipis yang mengepul dari panci.

Perempuan asal Klaten yang sudah delapan tahun tinggal di kawasan Sleman timur ini merebus bakmi, mengukus sayur, memotong tahu dan tempe, meracik adonan tepung.

Begitulah persiapan untuk paket komplet menu sarapan bakmi, pecel, dan gorengan yang setiap pagi dijualnya di depan rumah.

Sekitar satu jam kemudian, kedua anak perempuan Nur yang berusia 7 tahun dan 13 tahun bangun tidur. Nur akan menghangatkan lauk pauk yang sudah disiapkan sejak semalam.

Suami Nur, yang sehari-hari bekerja sebagai staf operator mesin di pabrik tisu dekat rumah, turut membantu persiapan istrinya. Apabila tidak sedang shift pagi, sang suami ikut mendampingi Nur menyiapkan gorengan sampai melayani pembeli.

Sekitar pukul enam pagi, meja untuk jualan dan kompor gas akan dikeluarkan ke teras. Pembeli mulai berdatangan.

Kadang-kadang, sekitar pukul tujuh, Nur meninggalkan dagangannya sebentar untuk mengantar si bungsu ke sekolah yang jaraknya beberapa menit dengan sepeda motor.

Para pembeli sudah paham. Beberapa akan menunggu Nur kembali, sementara pelanggan lainnya yang sudah akrab dengan Nur akan mengambil sejumlah gorengan dan menyisipkan lembaran uang di bawah kertas bungkus di meja dagangan.

Setelah siang, Nur akan mengalihkan konsentrasi untuk membereskan rumah dan dapur, termasuk mencuci piring dan pakaian.

Rutinitas di atas sudah berlangsung selama hampir lima tahun, persisnya sejak awal pandemi COVID-19. Sebelum itu, Nur sempat berjualan pakaian.

Di tengah aktivitasnya bekerja dan mengurus rumah, Nur tentu merasa lelah.

“Kalau badan terasa tidak enak, ya sudah libur dulu,” tutur Nur sembari tertawa.

Dia menegaskan, keputusan berjualan merupakan bentuk dukungannya untuk suami dan rumah tangga bersama.

“Saya senang jualan, untuk menambah kegiatan dari rumah,” tukasnya mantap.

Nur menambahkan, sedari muda ia memang sudah rutin berjualan sayur dan segala olahannya. Kebiasaan berjualan ini pun terus berlangsung sampai kelak menikah dan punya anak.

Nur sungguh bersyukur menjadi ibu yang juga diberkahi kekuatan untuk membantu suami.

Beberapa waktu lalu, suami Nur mengalami patah kaki akibat kecelakaan sepeda motor. Selama suami dalam masa pemulihan dan istirahat dari tugas kerja pabrik, Nur tetap bersemangat menekuni kesibukannya. Anak-anak menjadi sumber kekuatan Nur.

“Ada anak-anak, bikin semangat bekerja. Kalau saya sakit, anak-anak yang memerhatikan. Anak-anak juga membantu saya jualan. Pokoknya, mereka jadi semangat hidup saya,” papar Nur.

Nur berharap anak-anaknya paham bagaimana Nur dan suami sudah rekoso (bekerja keras) dalam membesarkan mereka selama ini.

“Semoga anak-anak belajar yang benar, memanfaatkan fasilitas dari orang tua yang masih sehat, orang tua yang masih bisa ngragati [menghidupi]. Semoga anak-anak punya hidup lebih baik,” demikian harap Nur.

Di kawasan Depok, Jawa Barat, Siti (38) sudah tujuh tahun bekerja sebagai mitra PT Yakult Indonesia Persada yang memasok minuman probiotik Yakult ke rumah pelanggan sembari memberikan edukasi tentang bakteri probiotik.

Anak Siti ada dua, yang pertama sudah duduk di bangku kelas 1 SMK dan yang kedua masih kelas 5 SD.

Sehari-hari, Siti bangun jam setengah lima untuk masak dan menyiapkan makanan untuk anak sulung yang tinggal bersamanya.

Kemudian, persis jam delapan pagi, Siti mulai menjual minuman Yakult ke rumah-rumah pelanggan, aktivitas yang juga menjadi ruang sosialisasi baginya.

Selesai berjualan sekitar pukul 12 siang, Siti pergi ke kantor untuk menulis laporan penjualan. Setelah itu, Siti melanjutkan berjualan sampai sekitar setengah enam sore.

Di tengah kesibukan bekerja, Siti tidak menampik merindukan anak keduanya yang sejak usia tiga tahun tinggal di kampung halaman bersama orang tua Siti.

“Ketemunya setahun sekali saja. Kalau kangen, video call seminggu ada kali tiga kali.”

Siti bercerita, dari awal menikah sampai memiliki anak pertama, dia aktif bekerja.

Ia pernah menjadi karyawan di minimarket selama tiga tahun, sampai kemudian memutuskan resign dan fokus kerja sebagai ibu rumah tangga di rumah.

“Dulu, saya ibu rumah tangga biasa. Tidak pernah keluar rumah, tidak pernah mengenal orang. Lalu saya ingin mendukung ekonomi keluarga dengan minta izin suami. Alhamdulillah, diizinkan,” lanjut Siti.

Dari ketekunan bekerja sebagai Yakult Lady, Siti dapat mewujudkan cita-cita membantu renovasi rumahnya di kampung.

“Alhamdulillah. Itu sebuah kebanggaan saya.”

Di tengah kesibukan bekerja, Siti selalu berusaha hadir untuk anaknya.

Ketika ada agenda rapat wali murid di sekolah, Siti akan berusaha memperbanyak penjualan produk pada sore hari. Dengan begitu, pagi berikutnya dia bisa menghadiri acara sekolah anak. Pengaturan jam kerja Siti relatif lebih luwes daripada suami yang hanya mendapatkan jatah pulang ke rumah seminggu sekali.

Siti berdoa, anak-anaknya senantiasa diberikan kemudahan dalam usaha dan rezekinya.

“Pokoknya, doa Bunda selalu ada untuk anak,” ujar Siti sambil tersenyum.

Dari pengalamannya bekerja selama ini, Siti ingin mengajarkan kepada anak-anaknya, terutama si sulung, agar disiplin. “Pertama disiplin waktu, kedua disiplin keuangan. Jadi biar dia tahu cara menghemat, mencari uang.”

“Dia melihat Bunda-nya selama ini bekerja keras, melihat saya waktu hujan ya kehujanan, waktunya panas ya kepanasan, tapi tetap jalan karena sudah tugas bekerja. Jadi, anak belajar menghargai semua perjuangan Bunda-nya seperti apa,” pungkas Siti.

Pengalaman Nur dan Siti memperlihatkan bagaimana kerja keras dan kasih sayang berjalan beriringan dalam keseharian ibu pekerja.

Di balik rutinitas yang melelahkan dan menantang, tecermin ketekunan, pengorbanan, dan cinta yang terus mereka curahkan demi anak dan keluarga.

Kisah mereka mengingatkan bahwa kerja-kerja ibu layak dihargai dan dirayakan, bukan hanya pada hari peringatan, tapi setiap hari, atas peran penting mereka dalam mendukung rumah tangga sekaligus merawat harapan tentang masa depan anak-anaknya.

Terima kasih, Ibu.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dhita Koesno