Menuju konten utama

Anak Bukan Proyek Prestasi: Soal Tekanan & Ekspektasi Orang Tua

Menekan anak-anak dan mengukur segala usahanya dengan angka dan valuasi berisiko menghambat mereka dalam mengenali diri serta mengeksplorasi dunia.

Anak Bukan Proyek Prestasi: Soal Tekanan & Ekspektasi Orang Tua
Header Parental Pressure. foto/Quita

diajeng.id - "Kamu harus pintar matematika, ya! Usahakan nilainya dapat sepuluh."

"Pokoknya, anak Bunda wajib juara di segala bidang."

"Jangan sampai kalah di lomba sepatu roda besok, ya!"

Terdengar tidak asing, bukan? Bagi sebagian orang tua di sekitar kita, kalimat-kalimat di atas mungkin dimaknai sebagai mantra yang berlaku pada anak-anak mereka.

Lazim bagi orang tua untuk mendorong, jika bukan menekan, anak-anaknya agar mencapai standar tertentu. Seolah-olah, nilai dan gelar adalah satu-satunya mata uang kesuksesan atau tolok ukur keberhasilan.

Namun begitu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa semua tuntutan ini sepadan dengan konsekuensi dan apapun yang kelak dituai? Apa risikonya jika kita terus-menerus mengukur usaha anak dalam angka dan valuasi?

Menukil laman Relational Psych, parental pressure atau tekanan orang tua terhadap anak, terkait prestasi akademik, kegiatan ekstrakurikuler, standar sosial, penampilan, sampai relasi sosialnya, acap kali lahir dari niat yang mulia: ingin anak tumbuh bahagia, aman, dan berhasil.

Di sisi lain, tanpa disadari, dorongan tersebut bisa berubah menjadi tekanan atau beban bagi anak sehingga mereka kesulitan mengenali diri dan mengeksplorasi dunia dengan bebas.

Yang dituntut bukan lagi proses, melainkan hasil. Alih-alih pertumbuhan, yang diharapkan adalah pencapaian.

Tekanan ini tidak selalu hadir secara keras atau terang-terangan. Kadang-kadang, ia datang melalui komentar spontan sambil lalu, ekspektasi yang kaku, atau respons kecewa saat langkah anak tidak sesuai harapan orang tua.

Sejumlah alasan melatarbelakangi kuatnya tuntutan orang tua terhadap anak. Ada orang tua yang terdorong oleh mimpi lamanya sendiri yang belum tercapai. Ada orang tua yang ingin memperbaiki pengalaman masa kecilnya. Ada pula yang takut anaknya tertinggal.

Apa pun alasannya, intensi yang baik tidak selalu berujung pada dampak yang baik.

Bagi anak, tuntutan yang terus-menerus bisa menjadi penjara sunyi. Mereka mungkin mulai merasa dirinya tidak cukup baik atau pintar, bahkan bisa jadi kehilangan kegembiraan saat belajar dan bermain.

Yang menyedihkan, beberapa anak mungkin sampai menarik diri dari pergaulan. Sebagian lain melampiaskannya lewat kemarahan. Tidak sedikit yang justru semakin kesulitan berprestasi karena tekanan yang membebani.

Namun, gejala atau pertanda yang sudah ditunjukkan itu sering luput dari perhatian orang tua.

Disadari maupun tidak, sebagian orang tua mungkin banyak melontarkan kritik tajam, membentak, bereaksi berlebihan saat anak-anaknya gagal, atau menunjukkan kasih sayang yang terasa bersyarat.

Orang tua yang terlalu sering mengintervensi kegiatan anak, misalnya dalam hal mengerjakan tugas, menyelesaikan konflik, mengambil alih keputusan, bisa membuat anak merasa hidupnya bukan miliknya sendiri.

Padahal, mendorong anak tidak harus berarti menekan.

Kita bisa mengapresiasi usaha mereka, bukan sekadar mengukurnya lewat angka. Kita bisa mendengarkan perspektif mereka, memberi ruang untuk memilih, dan menetapkan batasan secara bersama.

Tentu saja orang tua berhak dan boleh berekspektasi terhadap anak, tapi penting untuk tetap prioritaskan sisi humanis. Coba lakukan dengan lembut, lebih terbuka, dan fokus pada pertumbuhan mereka.

Jikalau suatu waktu anak menolak dorongan kita, mungkin itu sinyal bahwa mereka merasa kewalahan.

Pola asuh yang kita lakukan terhadap anak acap kali bukan hanya cerminan kasih sayang, tetapi juga jejak masa lalu diri kita sendiri yang belum selesai.

Mengutip pandangan Dr. Gabor Maté lewat siniar Authentic Parenting pada 2022 lalu, Maté mengingatkan bahwa trauma masa kecil, yang mungkin kita pikir sudah lama berlalu, bisa turut membentuk cara kita merespons anak hari ini.

Trauma, kata Maté, bukan sekadar peristiwa buruk yang pernah terjadi, tetapi apa yang berubah di dalam diri kita akibat peristiwa itu: rasa tidak aman, ketakutan kehilangan kendali, atau kebutuhan berlebihan untuk merasa cukup.

Dalam pengasuhan, luka-luka lama orang tua bisa muncul dalam bentuk ketidaksabaran, ketegangan, atau menghindari situasi tertentu karena memicu rasa tidak nyaman.

Tidak sedikit orang tua yang kemudian memutuskan menjauh secara emosional karena tidak siap berhadapan dengan perasaan anak. Orang tua lainnya bisa jadi sangat mengontrol anak demi menghindari rasa takut yang tak mereka sadari akar sumbernya.

Padahal, ketika kita berani mengecek atau memeriksa dari mana reaksi itu datang, kita bisa lebih hadir dan terhubung. Dengan begitu, kita dapat memberikan stabilitas yang dibutuhkan anak untuk tumbuh.

Menurut Maté, anak-anak sesungguhnya membutuhkan empat hal mendasar di hidupnya: hubungan keterikatan yang aman, ruang untuk beristirahat dari tuntutan emosional orang tua, kebebasan merasakan semua emosinya, dan kesempatan bermain secara spontan.

Maté juga menekankan dua kebutuhan biologis anak yang tak dapat dipisahkan: keterikatan dengan orang lain dan keaslian diri.

Anak tidak bisa bertahan tanpa hubungan yang aman. Di sisi lain, mereka perlu kesempatan untuk menjadi diri mereka sepenuhnya.

Mereka berhak merasa marah, sedih, gembira, penasaran, tanpa merasa takut bahwa perasaannya akan ditolak atau tidak divalidasi.

Meski begitu, kita sering tidak sadar bahwa tekanan yang kita berikan untuk anak menempatkan dua kebutuhan di atas dalam posisi saling bertentangan.

Anak ingin jujur tentang apa yang ia rasakan, tetapi ia juga ingin tetap dicintai. Ketika cinta terasa bersyarat pada prestasi atau perilaku tertentu, anak mungkin memilih untuk mengorbankan keaslian atau jati dirinya demi menjaga keterikatan dengan orang tua.

Di sinilah, tekanan menjadi beban yang merampas ruang anak untuk tumbuh.

Pada akhirnya, seperti kata Maté, masa lalu memang tidak bisa diubah. Yang bisa berubah adalah hubungan kita dengan diri kita pada hari ini.

Semakin kita mengenali luka-luka yang kita bawa, semakin kita dapat menghentikan siklus tekanan yang tak perlu, semakin lebar pintu yang kita buka bagi anak untuk berkembang dengan sehat, aman, dan apa adanya.

Artikel lain terkait hubungan anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih