Menuju konten utama
Catatan Remaja

Remaja Beda Paham dengan Orang Tua? Kamu Tidak Sendiri

Kita dan orang tua sebenarnya sama-sama sedang belajar menyesuaikan diri. Lalu, bagaimana baiknya kita berkompromi dengan dinamika canggung ini?

Remaja Beda Paham dengan Orang Tua? Kamu Tidak Sendiri
Header diajeng Saran Remaja Konflik Orang Tua. tirto.id/Quita

diajeng.id - Seiring bertumbuh dewasa, kita semua tentu pernah berbeda pendapat dengan orang tua.

Dinamika ini terasa paling kuat sewaktu remaja, saat kita mulai membangun jati diri dan cara pandang yang lebih mandiri.

Meski lumrah, perbedaan pendapat sering kali memicu ketegangan, bahkan membuat suasana di rumah jadi kurang nyaman.

Padahal, konflik bukan berarti hubungan sedang buruk, justru ini bisa menjadi kesempatan untuk saling memahami.

Dengan pendekatan yang tepat, kamu tetap bisa menyampaikan pendapat tanpa memperkeruh situasi, sekaligus menjaga hubungan baik dengan orang tua.

Dilansir situs BBC, berbeda paham atau marah dengan orang tua sering terasa membingungkan, seolah-olah kita sendiri tidak yakin apa atau siapa sebenarnya pemicunya.

Namun begitu, jika melihat ke dalam, ada alasan yang cukup masuk akal.

Otak remaja kita sedang berada dalam tahap perkembangan besar: bagian korteks prefrontal, yang bertugas mengatur logika, kontrol diri, dan pemrosesan sosial, belum sepenuhnya matang.

Di fase ini, dorongan untuk lebih mandiri semakin kuat. Kita mulai ingin menentukan pilihan sendiri, lebih dekat dengan teman sebaya, dan perlahan menjauh dari pola lama yang selama ini ditetapkan keluarga. Tentu wajar apabila perubahan ini menimbulkan gesekan.

Seperti yang diungkapkan psikolog Glenn Mason, "Ini bisa jadi masa yang menantang bagi keluargamu, karena kamu menjadi lebih mandiri, dan orang tua atau pengasuhmu bisa berada dalam persimpangan antara membiarkan kamu pergi dan berusaha melindungi serta menjagamu tetap aman."

Hal ini, lanjut Glenn, bisa membuat kamu frustrasi. Kamu pun kemungkinan besar akan berkomunikasi dengan keluarga dengan emosi membludak.

"Oleh karena itu, responsmu cenderung reaktif, alih-alih berasal dari refleksi, dengan wawasan dan perspektif," jelasnya.

Menurut Glenn, ketegangan kita dan orang tua muncul bukan hanya karena perbedaan pendapat, tapi juga karena kita dan orang tua sama-sama sedang belajar menyesuaikan diri.

Memahami bahwa ini bagian alami dari proses tumbuh dewasa dapat membantu kita melihat konflik bukan sebagai musuh, melainkan sebagai ruang belajar, baik untuk diri sendiri maupun untuk hubungan dengan keluarga.

Kiat Mengatasi Konflik dengan Orangtua

Seperti dikutip Parents, ada beberapa kiat singkat yang bisa membantumu menghadapi konflik dengan orang tua secara lebih tenang dan bijak:

1. Pastikan situasinya aman terlebih dahulu

Sebelum membahas masalah, pastikan tidak ada yang sedang dalam kondisi terlalu marah atau merasa terancam. Keamanan emosional dan fisik adalah landasan percakapan yang sehat.

2. Kenali pemicu pribadi

Perhatikan hal-hal yang mudah membuatmu tersulut, entah itu nada suara tertentu, kata-kata sensitif, atau waktu-waktu ketika kamu sedang lelah. Mengenali pemicu atau hal yang membuatmu kesal bisa membantumu mengantisipasi dan mengelola reaksi.

3. Sadari tanda-tanda tubuh saat emosi naik

Jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, tubuh memanas, atau dada sesak adalah sinyal bahwa konflik mulai memuncak. Semakin cepat kamu menyadarinya, semakin mudah kamu mengendalikan diri.

4. Ambil jeda sebelum situasi "memanas"

Jika suasana semakin "panas" atau sarat ketegangan, mundurlah sejenak. Percakapan akan menjadi lebih produktif saat situasi masih dingin, bukan panas. Pergilah ke ruangan lain, tarik napas, dengarkan musik, atau lakukan sesuatu yang membuat pikiranmu kembali jernih.

5. Temukan strategi self-care paling cocok untukmu

Tidak ada cara yang sama untuk semua orang. Ada yang lebih lega setelah menulis jurnal, menggambar, mendengarkan musik, membaca, atau berolahraga.

Yang terpenting, kenali aktivitas yang membuatmu tenang agar kamu bisa kembali berbicara dengan kepala dingin.

Penting bagimu untuk memberi ruang bagi diri sendiri setelah konflik terjadi.

Pertengkaran, menurut laman Childline, bahkan yang terjadi dengan nuansa sopan dan hormat sekalipun, bisa membuat emosi memuncak dan sudut pandang kita menjadi kabur.

Dengan mengambil jeda untuk merenung, kamu bisa lebih memahami apa yang sebenarnya membuatmu marah, apa yang kamu rasakan, dan bagaimana cara mengekspresikannya dengan lebih baik di lain waktu.

Refleksi ini bukan hanya tentang mencari kesalahan, tapi tentang mengenali kebutuhan dan batasan diri.

Kalau kamu menyadari ada hal yang kamu lakukan secara berlebihan, minta maaf adalah langkah dewasa yang bisa memperbaiki kepercayaan dan hubungan.

Namun, ingat, pertengkaran tetap harus berada di batas yang aman.

Kekerasan, ancaman, atau pelecehan tidak pernah dapat diterima. Kamu berhak merasa aman di rumah.

Apabila situasi terasa tak terkendali, mencari bantuan atau bercerita kepada pihak tepercaya adalah langkah yang sepenuhnya valid dilakukan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih