diajeng.id - Setiap orang tentu memiliki karakter yang berbeda-beda untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Ada yang nyaman berbelanja barang sesuai dengan jumlah yang diperlukan pada kurun waktu tertentu. Di sisi lainnya, ada yang lebih suka membeli grosir atau dalam kuantitas lebih besar.
Nah, pada kelompok kedua ini, sekilas biaya yang ditanggung memang terkesan lebih banyak di awal. Namun, apabila diakumulasikan dalam durasi waktu yang lama, mereka berargumen, biayanya akan lebih ekonomis.
Pada artikel kali ini, Diajeng akan membahas tentang seluk beluk buying in bulk (belanja grosir), mulai dari alasan kenapa orang memilih belanja grosir, hingga tips efektif saat berbelanja sistem grosir.
Kenapa Belanja Grosir Bisa Lebih Murah?
Belanja dalam jumlah besar, seperti disebutkan dalam Reel Paper, sering terlihat mahal di awal karena total harganya besar. Menariknya, jika dihitung per item, harganya akan jadi lebih murah. Ada beberapa alasan kenapa ini bisa terjadi:
1. Perusahaan Ingin Menjual Lebih Banyak
Produsen bersedia mengambil keuntungan lebih kecil per produk asalkan jumlah penjualannya lebih besar. Dengan sistem grosir, mereka tetap untung karena volume penjualan tinggi.
2. Produksi Jadi Lebih Efisien (Skala Ekonomi)
Saat barang diproduksi dalam jumlah besar sekaligus, biaya per unit menjadi lebih rendah. Waktu, tenaga kerja, dan bahan yang digunakan lebih efisien. Penghematan ini bisa diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga grosir.
3. Kemasan Lebih Hemat dan Praktis
Kemasan menyumbang sekitar 10% dari harga produk. Jika barang dijual dalam ukuran besar atau satu paket, kemasan yang dibutuhkan lebih sedikit. Artinya biaya produksi turun, dan harga pun bisa lebih murah. Bonusnya, limbah kemasan juga berkurang.
4. Biaya Distribusi Lebih Rendah
Mengirim banyak produk satuan ke berbagai toko membutuhkan biaya bahan bakar, tenaga kerja, dan waktu. Jika barang dikirim dan dijual dalam jumlah besar, proses distribusinya lebih sederhana dan murah.
5. Mengurangi Biaya Ritel
Harga di toko biasanya sudah termasuk biaya sewa, listrik, gaji pegawai, dan keuntungan toko. Saat membeli grosir (terutama langsung dari distributor atau toko khusus grosir), sebagian biaya tambahan ini bisa ditekan.
6. Meminimalisir Belanja di Toko
Belanja grosir juga membuat kita tidak perlu sering ke toko, sehingga bensin jadi lebih hemat dan kecil kemungkinan tergoda membeli barang impulsif. Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang sering terjadi inilah yang biasanya membuat belanja jadi membengkak.
Produk yang Masuk Akal Dibeli Grosiran
Tidak semua barang cocok dibeli dalam jumlah besar.
Menurut situs Eat This, kuncinya adalah memilih produk yang tahan lama, sering digunakan, dan minim risiko terbuang.
Berikut beberapa yang masuk akal, dan cukup relevan dengan kebutuhan rumah tangga di Indonesia:
1. Kacang-kacangan
Seperti kacang merah, kacang hijau, atau lentil. Bahan kering ini tahan lama, serbaguna untuk sup, tumisan, atau campuran menu lain, serta kaya protein nabati dan serat. Cocok untuk stok dapur jangka panjang.
2. Bubuk protein (untuk yang rutin konsumsi)
Bagi yang aktif olahraga atau butuh tambahan asupan protein, membeli ukuran besar lebih hemat dan praktis. Umur simpannya cukup lama, asal digunakan secara rutin.
3. Ayam dan ikan beku
Harga protein hewani biasanya sering naik-turun. Membeli versi beku dalam jumlah lebih banyak bisa lebih hemat dan mengurangi risiko cepat basi dibandingkan membeli produk segar terlalu banyak sekaligus.
4. Biji chia
Chia seed kini semakin populer di kalangan yang peduli kesehatan. Ukurannya kecil, tahan lama, dan biasanya lebih murah jika dibeli dalam kemasan besar.
5. Kacang-kacangan untuk camilan (seperti almond, kacang mete, pistachio)
Cocok untuk camilan sehat yang tidak cepat rusak. Membeli dalam jumlah besar biasanya jauh lebih ekonomis dibandingkan kemasan kecil.
6. Buah dan sayur beku
Masalah umum di rumah tangga adalah sayur layu dan buah busuk sebelum sempat diolah. Versi beku bisa bertahan hingga berbulan-bulan dan membantu mengurangi food waste.
7. Keju kemasan
Karena dikemas satuan, keju kemasan stik/string lebih tahan lama dibanding keju parut terbuka. Praktis untuk stok camilan anak atau bekal.
8. Produk beku siap olah berbasis sayuran
Contohnya muffin sayur beku atau olahan serupa. Tahan lama, praktis, dan tetap bernilai gizi.
Terkait kebutuhan nonmakanan, barang seperti tisu, sabun mandi, sabun cuci piring, deterjen, pasta gigi, popok, dan air mineral galon juga masuk kategori yang aman dibeli dalam jumlah besar karena tidak cepat rusak dan sudah pasti terpakai.
Yang terpenting selalu ingat, ketika membeli barang grosiran, pilihlah barang yang sering digunakan, tahan simpan, dan pasti habis sebelum masa kedaluwarsa agar strategi hemat ini benar-benar terasa manfaatnya.
Tips Belanja Grosir yang Efektif
Lantas, bagaimana agar belanja grosir bisa lebih efektif? Simak beberapa tipsnya seperti dinukil Food to Live berikut ini:
1. Ketahui Kapasitas Penyimpanan
Sebelum membeli dalam jumlah besar, pastikan untuk punya ruang yang cukup, baik di dapur, lemari es, maupun freezer. Penyimpanan yang tepat, seperti wadah kedap udara dapat membantu menjaga kualitas barang grosir tetap prima.
2. Rencanakan Pembelian dengan Cermat
Tidak semua barang cocok dibeli grosiran, terutama yang cepat busuk. Fokuskan pada kebutuhan pokok yang sering dipakai seperti beras, pasta, kacang-kacangan, dan bahan kering lainnya. Buat daftar belanja berdasarkan kebutuhan, agar tidak membeli barang yang berujung mubazir.
3. Periksa Kualitas dan Tanggal Kedaluwarsa
Walau harganya lebih murah per unit, pastikan produk yang dibeli dalam jumlah besar memiliki kualitas baik dan tanggal kedaluwarsa yang jauh agar tidak cepat rusak.
Dengan begitu, strategi belanja grosir yang dilakukan bisa benar-benar menghemat waktu, uang, dan sumber daya kita secara signifikan.
Simak juga artikel seputar belanja di sini.
Editor: Sekar Kinasih