Menuju konten utama

Patungan 50/50: Tanda Relasi Setara atau Malah Berujung Konflik?

Sekilas, persoalan siapa yang membayar berapa memang terdengar seperti prinsip finansial yang praktis untuk sebuah relasi. Namun, ada permasalahannya.

Patungan 50/50: Tanda Relasi Setara atau Malah Berujung Konflik?
Header Diajeng Pengeluaran 50 50. foto/istockphoto

diajeng.id - Pembagian pengeluaran keuangan selama ini selalu jadi topik hangat dalam relasi asmara, baik yang masih berpacaran atau sudah menikah.

Ada yang sepakat bahwa baik pihak laki-laki dan perempuan, terutama yang sama-sama bekerja, untuk membagi pengeluaran sama besar.

Semisal untuk sekali berkencan perlu keluar anggaran Rp500 ribu, maka masing-masing berkontribusi Rp250 ribu.

Terkait urusan rumah tangga pada pasangan menikah yang dua-duanya bekerja, juga begitu. Misalnya, pihak A mengeluarkan anggaran yang sama besar dengan pihak B untuk urusan yang berbeda: makan, uang sekolah anak, kursus anak, dan sebagainya.

Faktanya, kadang-kadang, setiap pasangan memiliki tingkat pendapatan berbeda. Di sinilah masalah mulai muncul.

Cerita Gagal Pasangan Membagi Pengeluaran 50/50

Kisah tentang membagi pengeluaran 50/50 dengan pasangannya diceritakan oleh Juliet Del Rio di The Financial Diet pada 2019 silam. Contoh nyata pembagian biaya yang "setara" ternyata bisa merusak sebuah hubungan.

Juliet yang berprofesi sebagai penulis menyampaikan, gajinya per tahun kala itu sekitar 31 ribu dolar. Dia tinggal bersama pasangannya, seorang insinyur, dengan penghasilan hampir dua kali lipatnya, yakni 55 ribu dolar per tahun.

Merasa mempunyai otonomi sebagai perempuan mandiri, Juliet ingin mempertahankan hubungan dengan membagi biaya seluruh biaya pengeluaran mereka selama tinggal bersama.

Salah satunya, biaya sewa apartemen. Mereka memutuskan membagi sama rata biaya sewa bulanannya. Masing-masing membayar sekitar 780 dolar.

Namun, bukannya relasi menjadi sehat, prinsip biaya hidup 50/50 demikian malah memperumit situasi. Pasalnya, mereka memasukkan biaya cicilan utang pendidikan di kewajiban keuangan masing-masing.

Kekasih Juliet harus membayar angsuran biaya sekolah lebih besar daripada Juliet, yaitu 700 dolar, sementara utang pendidikan Juliet hanya 200 dolar. Maka, sang kekasih mengusulkan agar Juliet menanggung seluruh biaya belanja rutin bulanan, sekitar 400 dolar, agar total pengeluaran mereka "terlihat" sama setiap bulan.

Akibatnya, Juliet hampir tidak bisa menabung, sedangkan tabungan pasangannya semakin membukit.

"Meskipun aku menikmati perasaan mampu mandiri dan menutupi semua tagihanku, sementara pasanganku menutupi tagihannya, pada akhir setiap bulan, aku pun hampir tidak memiliki uang tersisa," tulis Juliet.

Juliet pun merasa dirinya hanya dimanfaatkan secara finansial oleh kekasihnya, yang kini sudah jadi mantan.

Baginya, pembagian 50/50 dapat berfungsi jika kedua belah pihak memiliki gaji yang tidak terpaut jauh, tetapi jika tidak, maka akan ada satu pihak yang membangun kekayaannya sendiri di atas pihak lainnya.

Mengapa 50/50 Sering Kali Tidak Adil?

Pakar keuangan Lacey Filipich melalui laman Nine.com menjelaskan bahwa kita harus membedakan antara kesetaraan (equality) dan ekuitas atau keadilan (equity).

"Equality adalah memperlakukan semua orang sama, sementara equity memberikan semua orang kesempatan secara adil. Equity cenderung menjadi tujuan yang lebih baik dan berkelanjutan dalam hubungan secara khusus, dan itu artinya membagi biaya secara proporsional dengan pendapatan yang juga cenderung lebih adil," kata Filipich.

Filipich pun menyarankan agar pihak yang berpenghasilan lebih besar yang memulai diskusi ini agar pasangan yang berpenghasilan lebih kecil tidak merasa rendah diri.

Tanpa penyesuaian ini, pasangan dengan gaji kecil mungkin terpaksa menguras tabungannya hanya untuk menjaga gengsi "setara," yang pada akhirnya merusak kesehatan finansial mereka secara jangka panjang.

Menuju Relasi yang Lebih Sehat dan Adil

Lalu bagaimana cara menjaga relasi tetap sehat tanpa terjebak dalam jebakan pembagian 50/50? Berikut adalah beberapa langkah praktis berdasarkan saran para ahli, tertarik untuk mengikuti?

1. Tentukan Pengeluaran Bersama vs Pengeluaran Pribadi

Langkah pertama adalah memisahkan mana biaya yang menjadi tanggung jawab bersama (seperti sewa rumah dan listrik) dan mana yang merupakan keinginan pribadi.

Pertimbangkan untuk melakukan "kencan uang" (money dates) secara rutin guna membahas hal ini secara transparan.

2. Persentase Berdasarkan Besar Pendapatan

Tori Dunlap dari Her First $100K menyarankan pembagian berdasarkan persentase pendapatan.

Rumusnya simpel. Pertama, jumlahkan dulu pendapatanmu dan pasangan. Setelah itu, bagi pendapatanmu dengan total tersebut. Persentase yang muncul dapat dijadikan acuan untuk menentukan porsi pengeluaranmu.

Misalnya, jika satu pihak menanggung 60 persen dan yang lain 40 persen dari total tagihan, beban yang dirasakan oleh kedua belah pihak akan terasa lebih seimbang secara psikologis dan finansial.

3. Gunakan Rekening Bersama untuk Tagihan

Membuka rekening bersama khusus untuk pengeluaran rumah tangga bisa mempermudah proses ini. Masing-masing menyetor sesuai persentase yang disepakati, akan tetapi tetap memiliki rekening pribadi untuk menjaga kemandirian finansial.

4. Fleksibilitas dan Komunikasi

Tulisan Angie Hernandez berjudul "Why Going 50/50 In Your Relationship is Not Sustainable" di situs Belonging Counseling menekankan bahwa sistem 50/50 cenderung tidak berkelanjutan lantaran manusia pada dasarnya sangat kompleks dan memiliki kebutuhan yang berubah-ubah.

Menurut Hernandez, kunci dari hubungan yang langgeng bukanlah angka persis 50 persen, melainkan tiga keterampilan: reframing (mengubah fokus dari kesetaraan ke ekuitas), komunikasi yang terus-menerus, dan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan kondisi pasangan.

Sekilas, persoalan siapa yang membayar berapa memang terdengar seperti prinsip finansial yang praktis untuk sebuah relasi.

Padahal, yang lebih menentukan adalah apakah kesepakatan tersebut membuat kedua pihak sama-sama merasa dihargai, didukung, dan diperlakukan dengan adil.

Fokuslah pada gambaran besar, apa kamu dan pasanganmu sama-sama melakukan yang terbaik dengan apa yang kalian miliki? Kalau jawabannya iya, maka itulah keadilan yang hakiki.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELASI ASMARA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih