diajeng.id - Jika memulai bisnis sendirian terasa berat, mungkin sebagian dari kita akan mempertimbangkan untuk mewujudkannya bersama orang lain yang satu visi dan tepercaya. Dalam hal ini, sosok tersebut adalah teman baik atau sahabat yang kita kenal sejak kecil atau zaman sekolah.
Perusahaan media digital asal Amerika Serikat, The Skimm, misalnya, didirikan oleh Danielle Weisberg dan Carly Zakin yang pertama berjumpa saat ikut program pelajar di Roma, Italia sampai akhirnya mereka jadi teman indekos ketika sama-sama berkarier sebagai pekerja media di New York.
Jenama fesyen global berbasis di Sydney, MESHKI, didirikan oleh Natalie Khoei dan Shadi Kord yang bersahabat sejak menempuh studi arsitektur bersama di Australia.
Begitu pula jenama Love, Bonito asal Singapura, lahir dari pertemanan sejak remaja antara Rachel Lim dan kakak-beradik Viola dan Velda Tan.
Dengan segudang informasi personal yang kita pupuk bertahun-tahun dari sosok sahabat tersayang, perasaan kita lebih tenang dan lega untuk mulai menjajaki tahap baru hubungan sebagai partner bisnis.
Artinya, kita siap dengan realitas bahwa pembicaraan sehari-hari tidak akan lagi terbatas pada curahan hati tentang keluarga atau asmara dan hiburan terkait artis kesukaan, rencana jalan-jalan, atau kafe baru yang mau dicoba.
Sebagai partner bisnis, obrolan akan beririsan pula dengan uang, untung-rugi, utang-piutang, dan berbagai topik keuangan yang pada dasarnya mengundang ketidaknyamanan dan risiko perselisihan.
Risiko Membangun Bisnis dengan Sahabat
“Berbisnis bersama teman bisa memperkuat tim dan hubungan pertemanan, atau justru menghancurkan keduanya,” kata pakar manajemen bisnis Noam Wasserman dikutip dari artikel BBC tahun 2020 silam.
Wasserman menjelaskan, kita memang relatif lebih percaya diri ketika membangun bisnis dengan teman. Namun begitu, ada kemungkinan kita kurang paham dengan pengalaman sahabat kita di ranah profesional.
“Kita berasumsi kita kenal satu sama lain, tapi apa kalian pernah melihat sahabat kalian di konteks kerja dan bagaimana sikapnya di situ?” tanya Wasserman.
Belum lagi ketika kita menghadapi masalah dalam bisnis.
Dalam relasi pertemanan secara umum, kata Wasserman, kita suka menghindari topik obrolan yang sarat ketegangan (meski itu diperlukan) karena takut dengan risiko pertemanan hancur. Nah, apabila ini terjadi dalam relasi bisnis, dampaknya membahayakan.
“Karena kita menghindari diskusi tentang skenario buruk dan bagaimana cara menghindarinya, kita justru meningkatkan peluang skenario buruk itu terjadi,” jelas Wasserman.
Dalam buku The Founder's Dilemmas (2012), Wasserman menceritakan riset yang pernah dia lakukan pada pada 10.000 start-up di bidang teknologi dan sains. Sekitar 40 persen di antaranya ternyata didirikan oleh tim yang sudah lebih dulu bersahabat.
Dalam observasinya, Wasserman mendapati bahwa bisnis atau usaha yang dibangun oleh sesama teman memiliki kecenderungan untuk berjalan kurang mulus.
Sementara itu, struktur bisnis yang lebih stabil justru dibangun oleh sekumpulan orang yang tidak saling kenal, dibandingkan oleh mereka dalam relasi rekan kerja, saudara, atau teman.
Alasannya terdengar sepele: orang-orang yang tidak terlalu saling kenal atau tidak punya ikatan sebelumnya cenderung tidak punya ekspektasi tinggi terhadap satu sama lain.
Pendek kata, jika pun bisnis yang dirintis bersama mengalami kegagalan, tidak ada pertemanan atau relasi persaudaran yang ikut dikorbankan.
Tips Memulai Bisnis dengan Sahabat
Memulai bisnis dengan teman memang mengandung risiko, akan tetapi bukan berarti usaha tersebut sia-sia atau tidak layak diperjuangkan.
Berikut beberapa cara pandang dan prinsip yang bisa dipertimbangkan sebagai bekal untuk membangun bisnis dengan sahabat:
1. Relasi Lama sebagai Fondasi Rasa Percaya
Relasi pertemanan yang sudah dibangun sedari lama dapat kita perlakukan sebagai aset atau fondasi rasa percaya untuk menjajaki kerja sama lebih kompleks dalam bisnis.“Fondasi ini diperlukan untuk berkolaborasi, menyampaikan ideasi, dan mewujudkan visi kolaboratif kalian terkait bisnis,” kata terapis hubungan Shontel Cargill dikutip dari Refinery29.
Ketika kita sudah sepakat bahwa rasa percaya tersebut adalah aset berharga alih-alih penghambat, segala dinamika dan gesekan selama bekerja dapat diatasi dengan kepala dingin sehingga mendorong lahirnya solusi-solusi yang efektif.
Dari kepercayaan itu pula, kita akan semakin terbiasa dengan komunikasi yang terbuka satu sama lain. Tidak ada tekanan untuk menutup-nutupi atau menyembunyikan fakta, sepahit apa pun itu, karena kedua semua pihak setuju untuk saling percaya dan fokus berkompromi demi pemecahan masalah.
2. Sama-Sama Mau Keluar Modal Uang
Menurut salah satu pendiri app developer ArtTouch, Eric N. Shapiro, tidak ada istilahnya “modal keringat” saja di dalam tim yang memutuskan untuk membangun bisnis bersama.Apabila sudah sepakat untuk membangun bisnis bersama, semua pihak perlu mengeluarkan modal finansial. Tanpa kesediaan semua pihak untuk mengeluarkan uang dari dompet masing-masing, masalah berpotensi muncul.
“Misalnya, co-founder yang mengeluarkan modal di awal usaha mungkin merasa dirinya lebih peduli atau lebih berkontribusi pada perusahaan dibandingkan co-founder lain, meskipun belum tentu begitu. Atau, kalau start-up mereka akhirnya sukses, co-founder yang membiayai sejak awal bisa merasa lebih pantas mendapat imbalan lebih banyak daripada kesepakatan awal yang sudah dibuat bersama,” tulis Shapiro di laman QZ.
3. Kesepakatan Legal yang Jelas
Meskipun sudah ada batasan terang terkait porsi tanggung jawab kerja dan keterbukaan tentang besaran modal yang dikeluarkan, relasi sesama co-founder tetap rentan dengan gesekan kontrol dan miskomunikasi.Sekuat apa pun kepercayaan yang melandasi, akan selalu ada kecenderungan untuk meremehkan atau menyepelekan kerja yang sudah dilakukan co-founder lain.
Dalam rangka mencegah kerugian pada setiap pihak dan melindungi masa depan bisnis bersama, pastikan untuk membuat kesepakatan atau perjanjian usaha yang disahkan secara hukum.
Diskusikan poin-poin yang relevan dan dokumentasikan semuanya secara jelas di hadapan notaris agar di kemudian hari segala perselisihan dapat diselesaikan dengan adil dan sesuai kesepakatan.
4. Tetapkan Batasan Teman dan Partner Bisnis
Ketika kita sudah memutuskan terjun ke dunia bisnis bersama, nyaris mustahil untuk memisahkan hubungan sebagai teman atau sebagai partner bisnis.Kembali melansir Refinery29, strategi pembagian waktu yang ketat diterapkan oleh Nina Zilka dan David Krause, duo sahabat sejak zaman kuliah di balik bisnis produk kecantikan inklusif Alder New York.
Mereka memastikan bahwa semua diskusi atau pertemuan tentang pekerjaan dilakukan pada jam kerja.
“Segala hal di luar jam tersebut adalah ‘waktu teman’, bahkan kalau kami mengobrol tentang kerjaan, kami membicarakannya sebagai teman,” terang Krause.
Mirip dengan Zilka dan Krause, duo pendiri platform bisnis AppDirect, Dan Saks dan Nicolas Desmarais, selalu mengagendakan waktu bersama untuk piknik atau bersenang-senang sebagai bentuk penegasan tentang eksistensi hubungan pertemanan mereka di luar bisnis.
“Kami juga meluangkan waktu untuk beraktivitas di akhir pekan, seperti brunch bersama keluarga, hiking atau jalan-jalan santai, agar bisa ambil jarak sejenak dari aspek kerja sehari-hari,” tulis Saks di laman Entreprenur.
Editor: Dwi Ayuningtyas