Menuju konten utama

Tumbuh Tanpa Cinta Orang Tua & Luka Masa Kecil yang Membekas

Rasa sakitnya mungkin masih terasa kuat sampai sekarang. Namun, pengalaman itu bukanlah akhir dari kisah hidupmu.

Tumbuh Tanpa Cinta Orang Tua & Luka Masa Kecil yang Membekas
Header Diajeng Anak yang tidak dicintai ortu. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Tidak semua anak lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang penuh kasih dan perhatian.

Ada pula mereka yang sedari kecil merasa tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, entah karena orang tua sibuk dan tangki emosionalnya terbatas, atau bahkan bersikap menolak dan dingin terhadap kebutuhan emosional anaknya.

Rasa tidak dicintai itu bisa meninggalkan kenangan masa kecil yang samar, menggerus rasa aman, harga diri, atau kepercayaan, bahkan membentuk bagaimana kita melihat diri sendiri dan menjalani kehidupan kelak sebagai orang dewasa.

Apa saja dampak dari pengalaman masa kecil sedih yang menyedihkan seperti itu? Bagaimana kita dapat memulihkan diri dari luka yang lama terpendam di dalam jiwa sedari usia muda?

Dampak Masa Kecil yang Tidak Dicintai Orang Tua

Dilansir Psych Central, pengalaman tumbuh tanpa rasa dicintai dapat berpengaruh besar terhadap kehidupan seseorang sebagai orang dewasa.

Rasa tidak dicintai, ditolak, atau diabaikan oleh orang tua bisa membuat kita berkembang dengan gaya keterikatan yang insecure, yakni takut dekat atau sulit mempercayai orang lain di kemudian hari.

Rasa tidak aman demikian memengaruhi cara kita berkomunikasi, mengatur emosi, merespons konflik, bahkan membentuk ekspektasi kita terhadap hubungan dekat.

Anak yang kurang cinta dari orang tua juga cenderung memiliki inteligensi emosional yang kurang berkembang, karena mereka jarang mendapatkan contoh atau bimbingan dalam memahami dan mengekspresikan emosi secara sehat.

Selanjutnya, rasa diri yang terdistorsi atau rendah diri sering muncul. Anak pun mulai percaya bahwa mereka tidak pantas dicintai atau kurang berharga.

Selain itu, seperti dijelaskan VeryWell Mind, ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, mereka berisiko mengalami masalah kepercayaan dan kesulitan menetapkan batasan yang sehat.

Mereka berpotensi memilih relasi yang tidak sehat karena kebiasaan lama yang dipelajari sejak kecil.

Kondisi tersebut dapat memicu isolasi, rasa takut gagal, sensitivitas emosional berlebihan, dan bahkan munculnya gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau kecanduan.

Studi yang terbit di Journal of Child & Adolescent Trauma (2019) juga menyoroti bagaimana pengabaian emosional oleh orang tua, terlepas dari niat baik atau tidak, bisa membuat anak merasa tidak penting, diabaikan, atau tidak layak dicintai.

Ketika kebutuhan emosional tersebut terus diabaikan, dampaknya tidak berhenti saat masa kanak-kanak. Cara kita membentuk pola hubungan, menciptakan rasa aman, dan memandang dunia sebagai orang dewasa akan tetap dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman itu.

Dampak yang Terbawa Hingga Dewasa

Menurut laman Sweet Institute, melewati masa kanak-kanak tanpa cinta orang tua sering kali membuat seseorang dewasa terlihat normal di luar, tetapi mengalami kesulitan yang mendalam secara emosional.

Misalnya, banyak orang dewasa dengan pengalaman seperti ini merasa kosong atau numb, merasa sulit terhubung secara emosional dengan orang lain, atau justru terlalu bergantung pada validasi dari orang lain karena tidak pernah merasakan validasi saat kecil.

Beberapa orang membutuhkan pembuktian terus-menerus bahwa mereka layak dicintai, sedangkan yang lain malah menarik diri dan hidup mandiri sampai batas yang ekstrem karena takut terluka lagi.

Rasa takut akan penolakan atau pengabaian sering membuat pola keterikatan seperti clinginess, ketergantungan emosional, atau sebaliknya, menghindari hubungan dalam bentuk apa pun.

Strategi Praktis Memulihkan Diri dari Luka Masa Kecil

Meski pengalaman masa kecil yang tidak dicintai sangat mendalam, pemulihan emosional tentu saja sangat mungkin dilakukan. Tidak dalam sekejap, pastinya. Namun, prosesnya berlangsung secara bertahap melalui kesadaran dan dukungan, termasuk pendampingan profesional.

Berikut beberapa pendekatan praktis yang dapat membantu:

1. Reconnect dengan Inner Child (Anak Batin)

Langkah pertama pemulihan adalah mengakui luka masa kecil tersebut, memeluk dan berbicara dengan “anak kecil di dalam diri”. Visualisasi dan latihan batin sangat membantu menghubungkan kembali dengan emosi yang pernah terabaikan.

Kita bisa membayangkan diri sebagai anak kecil yang dulu tidak mendapatkan cinta. Kemudian coba sampaikan kata-kata yang dulu tak pernah didengar, bahwa kita layak dicintai, dihargai, dan diperhatikan.

2. Mengidentifikasi dan Mengakui Emosi

Banyak orang yang tumbuh tanpa cinta orang tua kesulitan mengenali atau menamai perasaan mereka.

Meluangkan waktu setiap hari untuk mengecek apa yang dirasakan bisa jadi latihan sederhana dan penting untuk membangun kembali keterhubungan emosional dengan diri sendiri.

3. Menumbuhkan Self-Compassion (Rasa Sayang pada Diri Sendiri)

Belajar memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang seharusnya diberikan orang tua sejak kecil adalah praktik yang kuat dalam proses penyembuhan.

Yang bisa dilakukan di antaranya adalah berbicara pada diri sendiri dengan bahasa yang penuh kasih, mengizinkan rasa sedih untuk muncul tanpa penghakiman, dan membangun dialog batin yang mendukung.

4. Membangun Relasi yang Mendukung

Mencari hubungan yang sehat, seperti ditulis Psych Central, entah melalui terapi, kelompok dukungan, atau hubungan interpersonal yang aman, dapat memberikan pengalaman emosional yang mungkin tidak pernah kita rasakan sebelumnya.

Hubungan baru ini bisa menjadi “pengalaman korektif” yang mengajarkan rasa aman, kepercayaan, dan cinta yang sejati.

5. Terapi Profesional

Pendampingan dari terapis profesional yang memahami luka emosional masa kecil dapat membantu mempercepat dan memandu proses penyembuhan.

Pendekatan seperti terapi psikodinamik, EMDR, atau terapi interpersonal dapat membantu memproses pengalaman masa lalu dan mengubah pola yang sudah terbentuk lama.

Menjadi anak yang tidak dicintai bukanlah pilihan. Bekas lukanya sampai sekarang mungkin terasa sangat, sangat berat. Namun begitu, pengalaman itu bukanlah akhir dari kisah hidupmu.

Dengan memahami dampaknya secara jujur, menerima luka masa lalu tanpa menyalahkan diri sendiri, serta mengambil langkah-langkah pemulihan emosional secara konsisten, kita dapat menemukan damai, keterhubungan, dan cinta yang sejati, bahkan pada usia dewasa sekalipun.

Simak juga artikel seputar orang tua dan anak di sini.

Baca juga artikel terkait ANAK DAN ORANG TUA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih