Menuju konten utama

Mengapa Ada Orang yang Denial, dan Bagaimana Menyikapinya

Orang yang denial sebenarnya paham masalah yang terjadi, tetapi tidak berdaya untuk menghadapinya sehingga memilih untuk menolak realitas.

Mengapa Ada Orang yang Denial, dan Bagaimana Menyikapinya
Header Diajeng Orang Denial. foto/istockphoto

diajeng.id - Kamu pernah bicara dengan orang yang selalu menyangkal fakta dan logika sebab-akibat?

Kamu sudah memaparkan secara logis bagaimana isu dan masalah bermunculan. Namun, semua disangkalnya.

Pendeknya, orang tersebut menolak menerima kenyataan dan terus-menerus menyalahkan situasi atau keadaan.

Dalam psikologi, penolakan demikian dikenal dengan istilah denial atau penyangkalan.

Apa sebenarnya yang menyebabkan orang terus-terusan denial? Apa saja tanda-tandanya? Apa yang bisa kita lakukan pada orang yang selalu denial tanpa sampai memicu konflik?

Apa Itu Denial?

Denial merupakan mekanisme ketika seseorang menolak atau menyangkal untuk mengakui kenyataan yang membuat dirinya terancam, menjadi tidak nyaman, atau merasa tersakiti.

Penyangkalan bisa terjadi dalam banyak konteks, mulai dari hubungan personal, pekerjaan, hingga masalah kesehatan.

Pemicunya, menurut laman Harvard Medical Shool, sangat beragam.

Penyangkalan bisa dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengalami pelecehan atau kekerasan, baik mental, emosional, fisik, verbal, seksual, finansial, atau bentuk lainnya. Korban mungkin kesulitan mengakui bahwa dirinya telah menjadi korban dan kenyataan itu terasa terlalu berat untuk diterima.

Selain itu, penyangkalan sering muncul ketika seseorang menerima diagnosis atas kondisi medis tertentu. Ada perasaan cemas, takut, atau orang ini belum siap menerima hasil pemeriksaan itu.

Tak hanya itu, masalah kesehatan mental juga bisa membuat seseorang menjadi denial.

Di luar konteks kekerasan atau kesehatan yang faktor penyebabnya jauh lebih kompleks dan melibatkan hal-hal di luar kontrol, penyangkalan juga dilakukan oleh orang-orang yang sulit mengakui atau menerima konsekuensi atas perilakunya diri sendiri.

Ini misalnya ditemukan pada orang yang mengonsumsi alkohol atau penyalahgunaan zat secara berlebihan.

Selain itu, orang yang memiliki masalah dalam keluarga atau gaya hidup yang merugikan kesehatan juga bisa termasuk dalam kelompok yang cenderung mudah menyangkal.

Tanda-Tanda Orang Denial

Ada sejumlah tanda atau gejala yang sering ditunjukkan oleh orang-orang denial.

Salah satunya, mereka menghindar untuk membicarakan masalah yang sedang terjadi. Mereka merasa tindakan dan perilakunya selalu benar atau tidak pernah melakukan kesalahan.

Orang yang denial juga kerap menyalahkan orang lain atau hal-hal eksternal sebagai penyebab dari masalah.

Dilansir VeryWell Mind, orang denial biasanya akan terus melanjutkan perilaku penyangkalan meskipun ada konsekuensi negatif yang diterimanya. Di satu sisi, mereka selalu berjanji untuk mengatasi masalahnya di kemudian hari, lalu menghindar memikirkan masalah yang ada.

Selain tanda-tanda di atas, orang yang denial sebenarnya memahami bahwa ada masalah yang harus dihadapi.

Namun, kebanyakan dari mereka merasa tidak berdaya untuk menghadapinya sehingga memilih untuk menolak saran, bantuan, atau kekhawatiran dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menghadapi Orang Denial?

Menghadapi orang selalu denial perlu kesabaran dan empati.

Alih-alih meminta mereka untuk mau menerima kenyataan, sebaiknya cobalah untuk memahami apa yang sedang mereka hadapi dan alami dalam hidup. Cari tahu alasan yang membuat mreka sulit untuk mengakui fakta yang sebenarnya.

Seperti dijelaskan di atas, penyangkalan sering kali menjadi cara bagi seseorang untuk melindungi dirinya dari ketakutan, rasa sakit, atau hidup yang belum siap mereka hadapi.

Saat berbicara atau berinteraksi dengan mereka, Psych Central menekankan agar kamu bisa bersikap lembut terhadap mereka, tidak menghakimi, dan mau menjadi pendengar yang baik. Dengarkanlah sudut pandangnya tanpa harus memojokkan mereka.

Timothy Yen, psikolog di Dublin, California menyebutkan, pada konteks tertentu, orang-orang yang denial bisa jadi mempunyai "sisi positif". Sebab, mereka masih memiliki semangat juang dan keinginan untuk mempertahankan diri.

“Otak kita dirancang untuk menjaga kelangsungan hidup. Jadi, ketika situasi yang menyakitkan berpotensi menimbulkan penderitaan emosional, otak akan mencari berbagai cara untuk menjauhkan pengalaman tersebut dari kesadaran individu," kata Yen.

Jika kamu mau menyampaikan kekhawatiranmu pada orang yang denial, sebaiknya gunakan kalimat yang berfokus pada perasaan, alih-alih tuduhan atau penghakiman.

Yang terpenting, tetaplah bersikap lembut meski mereka melakukan penolakan atau marah.

Beberapa kalimat yang bisa disampaikan, seperti:

"Aku takut kalau kamu sedang dalam keadaan lelah dan capek, lalu menyetir kendaraan pulang sendiri."

"Aku khawatir badanmu semakin sakit kalau kamu tidak minum obatmu secara rutin."

"Aku sedih waktu melihat kamu menyiapkan meja untuk ayah kita yang sudah meninggal."

"Aku sedih karena enggak tahu gimana harus mendukungmu saat kamu berperilaku seperti ini."

Sulit untuk mengubah pikiran orang yang denial. Yang bisa kita upayakan bersama adalah membangun ruang yang aman agar mereka siap menerima kenyataan dengan caranya sendiri.

Simak juga artikel lainnya terkait relasi di sini.

Baca juga artikel terkait TIMELESS atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih