Menuju konten utama
Kekerasan terhadap Perempuan

Mengapa Beberapa Laki-Laki Sulit Menerima Penolakan Cinta?

Aksi kekerasan terhadap perempuan di UIN Suska Riau kembali memantik pertanyaan tentang kaitan ego laki-laki dan upaya memproses kekecewaan.

Mengapa Beberapa Laki-Laki Sulit Menerima Penolakan Cinta?
Header Diajeng Ego Laki-Laki Ditolak Cinta. tirto.id/Quita

diajeng.id - Penafian: Artikel ini memuat deskripsi beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yang mungkin terasa sensitif bagi sebagian pembaca. Redaksi menyarankan pembaca untuk berhati-hati sebelum membaca artikel ini.

"Semalem pas ibadah, gua berdoa ke Tuhan supaya lo ga lolos ke universitas negeri mana pun.”

Kalimat di atas terucap jelas di ujung telepon dari mulut laki-laki berusia 26 tahun yang tidak terima dengan keputusan Nana untuk mengakhiri hubungan.

Kala itu, Nana yang masih berusia 18 tahun meminta putus karena tidak merasakan kecocokan lagi sekaligus tidak yakin dengan masa depan relasi mereka. Nana juga ingin mengerucutkan fokus konsentrasinya pada persiapan seleksi ujian masuk perguruan tinggi.

Sekian waktu dan bahkan tahun berlalu setelah sang mantan kekasih melontarkan kemarahannya pada Nana, laki-laki tersebut masih saja berusaha menjangkau Nana: menelepon, mendatangi rumah orang tuanya, mengirim surel berisi keinginannya agar Tuhan mempertemukannya kembali dengan Nana di surga.

Di lain waktu, seorang mahasiswa laki-laki yang baru Nana kenal beberapa bulan di kampus tiba-tiba menyatakan perasaan cinta dan mengajaknya menikah saat itu juga. Nana terkejut, lalu menolak dengan halus.

Reaksi laki-laki tersebut sungguh di luar dugaan.

Di tengah kemarahannya, terlontar pengakuan, “Selama ini saya selalu penasaran sama kamu karena kamu tertutup sekali. Jadi saya hack akun Facebook-mu. Saya sudah dapat foto-fotomu di situ, saya tahu semua rahasiamu.”

Nana semakin terperanjat. Ia teringat beberapa hari lalu menemukan notifikasi tentang upaya login mencurigakan di akun Facebook-nya.

Tidak nyaman karena merasa privasinya sudah dilanggar, Nana memutuskan untuk mendeaktivasi semua akun medsos yang pernah dimilikinya.

Kejadian-kejadian tersebut sudah berlalu satu dekade lebih. Namun begitu, Nana mengaku, sensasi diteror dan dikejar-kejar masih saja menghantuinya sampai sekarang.

Pengalaman Nana terkait kekerasan verbal dalam bentuk ancaman dan intimidasi tersebut mungkin tergolong “ringan” dibandingkan dengan pengalaman traumatis perempuan-perempuan lainnya dalam menghadapi laki-laki yang sulit menerima penolakan atau fakta tentang kandasnya relasi mereka.

Apabila kejadian serupa ditempatkan pada konteks era digital masa kini, kita akan banyak menyaksikannya dalam bentuk kasus penyebaran konten intim tanpa izin atau non-consensual intimate image (NCII), yang termasuk kekerasan berbasis gender online (KBGO).

Ada laki-laki asal Banyumas yang menyebarkan foto-foto telanjang mantan kekasihnya ke media sosial, bahkan mengirimkan versi cetak ke rumah korban, agar korban bersedia menemuinya sebelum meminta putus.

Di Tapin, Kalimantan Selatan, polisi menangkap pemuda yang melakukan hal serupa karena ingin mengajak mantan pacarnya yang sudah menikah untuk kencan lagi dengannya.

Pada kasus lainnya, kekerasan bersifat fisik. Akhir Februari lalu, kita dikejutkan dengan berita mahasiswa laki-laki yang membacok mahasiswi di UIN Suska Riau. Sekali lagi, motifnya diduga berkaitan dengan asmara: pelaku tidak terima relasi dengan korban merenggang.

Pembunuhan atau femisida menjadi bentuk pelampiasan paling ekstrem, seperti dilakukan oleh laki-laki di Jakarta Utara karena tidak terima hubungan asmaranya berakhir dan baru-baru ini, suami siri di Depok membunuh istrinya sebab sakit hati setelah diusir dari rumah korban lantaran tidak punya pekerjaan.

Selain itu, reaksi yang sampai merugikan orang lain juga terdokumentasikan.

Pada 2014 lalu, Elliot Rodgers di Amerika Serikat membunuh 6 orang dan melukai 13 orang setelah merilis manifesto setebal 137 halaman berisi kemarahannya pada perempuan yang menolak cintanya.

Cerita-cerita di atas tentu tidak bermaksud menggeneralisasi semua laki-laki sebagai pelaku kekerasan setelah mengalami kekecewaan karena cintanya ditolak.

Di satu sisi, kita semua perlu mengakui bahwa tren peningkatan angka Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) selama satu dekade terakhir adalah alarm tanda bahaya yang mustahil diabaikan.

Sebagaimana ditunjukkan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 dari Komnas Perempuan, nyaris 90 persen dari 376.529 laporan KBGtP di Indonesia sepanjang tahun lalu terjadi dalam ranah personal.

Artinya, seperti dialami Nana dan perempuan-perempuan lainnya, kekerasan terjadi dalam konteks hubungan saling kenal, dari kenalan kasual, pertemanan, pacaran, keluarga, hingga ikatan perkawinan.

Maraknya pemberitaan tentang kekerasan berbasis gender di dalam relasi ini pun memantik pertanyaan yang menggelitik.

Mengapa ada kecenderungan pada beberapa laki-laki untuk menggunakan unsur-unsur pemaksaan, kekerasan, dan berbagai cara destruktif lainnya agar perempuan mau menjalin relasi atau menuruti kemauannya?

Apa yang membuat sejumlah laki-laki kesulitan untuk menerima penolakan dan memproses rasa kecewa secara sehat dan konstruktif?

Beberapa studi sudah mencoba mencari jawabannya.

Konsep rejection sensitivity (sensitivitas terhadap penolakan) dari Downey, Feldman, dan Ayduk di jurnal Personal Relationships (2005) merupakan salah satu penjelasan yang selama ini kerap menjadi rujukan dalam studi-studi psikologi terkait kekerasan dalam relasi, termasuk femisida.

Rejection sensitivity adalah kecenderungan seseorang untuk takut ditolak, cepat menganggap tindakan orang lain sebagai penolakan, dan bereaksi sangat emosional saat merasa ditolak.

Dalam riset terhadap 217 mahasiswa laki-laki ini, tim peneliti berusaha mengukur, di antaranya, kecenderungan rejection sensitivity, seberapa besar mereka berinvestasi dalam hubungan romantis, dan perilaku kekerasan dalam relasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki rejection sensitivity dan berinvestasi besar pada relasi asmaranya cenderung berisiko melakukan kekerasan dalam hubungan, karena mereka sangat khawatir kehilangan atau ditolak oleh pasangannya.

Sebaliknya, mahasiswa dengan rejection sensitivity tetapi tidak terlalu banyak mengerahkan energi untuk hubungan romantisnya memiliki kecenderungan lebih rendah untuk melakukan kekerasan dalam hubungan. Meski begitu, kondisi mereka lebih erat dikaitkan dengan jumlah hubungan romantis dan teman dekat lebih sedikit, kecemasan sosial, dan dorongan menutup diri.

Sederhananya, agresi sering kali muncul dari interpretasi penolakan yang berlebihan.

Perilaku pasangan yang ambigu atau biasa saja, misalnya terlambat membalas pesan, ingin lebih mandiri, atau terlihat kurang perhatian, berpotensi dianggap sebagai penolakan oleh orang yang memiliki rejection sensitivity tinggi.

Perasaan ditolak ini kemudian bisa memicu kemarahan dan perilaku agresif pada sebagian orang.

Ada pula penjelasan lain terkait masculine honour atau kehormatan maskulin.

Masculine honour merujuk pada keyakinan yang mendikte laki-laki untuk merespons ancaman atau penghinaan secara agresif. Tujuannya tak lain untuk menciptakan dan mempertahankan reputasi maskulin yang mereka kehendaki.

Menurut tim peneliti Kansas State University di jurnal Personality and Individual Differences (2018), beberapa orang mendukung atau menganggap agresi sebagai respons pantas terhadap penolakan romantis karena mereka menganut keyakinan tentang masculine honour yang telah terinternalisasi di dalam diri.

Diskursus kekerasan dalam relasi oleh laki-laki ini mungkin juga membuat kita mempertanyakan ulang stereotip bahwa perempuan lebih emosional daripada laki-laki.

Studi di Nature pada 2021 lalu menegaskan bahwa pandangan umum yang dikaitkan dengan dinamika hormonal dan pengalaman biologis perempuan itu tak lebih dari mitos belaka.

Dalam penelitian yang melibatkan 142 responden laki-laki dan perempuan selama 75 hari, ditemukan bahwa stabilitas dan fluktuasi emosi pada laki-laki dan perempuan “secara jelas, konsisten, dan tidak diragukan lagi, lebih mirip alih-alih berbeda”.

Demikian disampaikan Adriene Beltz, dosen psikologi di University of Michigan sekaligus penulis utama studi tersebut, dikutip dari Today.

Di balik itu, kita tidak bisa menampik bahwa ekspektasi sosial dan kuatnya budaya patriarki di berbagai kultur masyarakat berperan besar dalam membentuk cara laki-laki mengelola emosi, yang kerap membuat mereka berusaha menyembunyikan dan menahan emosinya.

Akibatnya, beberapa laki-laki jadi kesulitan memproses berbagai emosi, terutama yang berkaitan dengan perasaan negatif seperti malu, kecewa, marah.

Tidak sedikit yang kemudian menjadi “kebal” alias mati rasa pada perasaannya sendiri sehingga sulit mengekspresikan isi hatinya.

Atau, sebaliknya, seperti kebanyakan kasus kekerasan dalam relasi, mereka meluapkan kekecewaan dalam bentuk agresi yang berdampak buruk pada masa depannya sendiri sekaligus menyakiti orang-orang di sekitarnya.

Emosi, baik negatif maupun positif, adalah bagian integral dari hidup manusia, apa pun gendernya. Kita perlu belajar memprosesnya secara sehat.

Edukasi dari keluarga dan lingkungan sekolah adalah kunci. Sudah seharusnya kita menormalisasikan diskusi terbuka tentang emosi dengan anak laki-laki kita, semuda mungkin usianya.

Apa yang kamu rasakan? Apa cara paling enak untuk mengekspresikan rasa kecewamu? Menangis, tentu saja boleh! Apa perasaanmu jadi lebih baik setelah menangis? Aktivitas lain apa saja yang bisa membuat hatimu merasa lebih lega?

Tentu saja, hidup kita semua akan selalu diwarnai dengan guratan kekecewaan dan luka.

Harapan-harapan kita pernah ditolak. Kepercayaan diri kita pernah diremukkan. Kebaikan dan ketulusan kita tak selalu dibalas setimpal.

Ada cinta bertepuk sebelah tangan. Ada orang tua pilih kasih dan berperilaku toxic. Ada atasan yang eksploitatif di tempat kerja.

Pertanyaannya, perlukah rasa kecewa yang lahir dari semua itu dimuntahkan dalam bentuk kekerasan?

Jika ada satu hal yang pasti dalam hidup ini, itu adalah kenyataan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Perasaan, suara hati, dan pilihan orang lain berada di semesta yang nyaris mustahil kita kontrol, sekeras apa pun kita mencoba.

Akan lebih masuk akal untuk mengerahkan energi pada hal-hal yang masih berada dalam jangkauan kita.

Rawat tubuh dengan berolahraga. Temukan hobi baru. Eksplorasi pekerjaan atau keterampilan yang memberi makna. Lakukan hal-hal yang membuat hidup terasa lebih utuh tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penerimaan orang lain.

Manusia rata-rata bisa hidup sampai usia 70-an tahun. Pendek kata, perjalanan kita masih panjang. Hidup ini pun terlalu berharga untuk dihabiskan dengan memelihara amarah dan kekecewaan karena penolakan.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dhita Koesno