diajeng.id - Menjaga kewarasan saat anak jatuh sakit bukanlah hal yang mudah, apalagi ketika diagnosis yang disampaikan dokter terdengar cukup mengkhawatirkan.
Saat menulis ini, aku pun masih berada dalam bayang pengalaman itu.
Belum lama berlalu sejak anak bungsuku yang masih bayi didiagnosis bronkopneumonia atau pneumonia bercak sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit selama lima hari.
Di saat-saat itu, aku harus bisa membagi waktu dengan baik, bagaimana merawat anak yang sakit di rumah sakit, mengurus dua anak lain yang masih sekolah, memikirkan urusan rumah tangga, tetap bertanggung jawab pada pekerjaan kantor, termasuk merawat diri sendiri agar tidak runtuh.
Semua terasa seperti tugas yang terus berubah setiap menit. Rasanya ingin teriak saja atau kalau bisa membelah diri menjadi beberapa bagian.
Kita masih harus menjelaskan kondisi kesehatan kepada anak-anak, mengelola jadwal perawatan di tengah kehidupan sehari-hari, membantu anak menghadapi prosedur medis, hingga beradaptasi dengan situasi yang serba tidak pasti.
Beban ini sering kali menempatkan orang tua pada risiko mengalami tingkat stres yang tinggi dan meningkatkan risiko kelelahan emosional maupun gangguan kesehatan mental.
Di tengah itu semua, bagaimana orang tua bisa tetap tenang dan kuat ketika menghadapi anaknya yang sedang sakit?
Menjaga Kewarasan Orang Tua Saat Anak Sedang Sakit
Seiring waktu berjalan, aku pun menyadari satu hal penting, bahwa perjalanan merawat anak yang sakit bukan perlombaan lari sprint yang bisa diselesaikan dengan sekali tenaga.
Prosesnya lebih menyerupai maraton panjang, melelahkan, dan penuh tikungan tak terduga.
Dalam perjalanan sepanjang ini, kekuatan orang tua tidak hanya diuji dari seberapa tangguh kita bertahan, tetapi juga dari seberapa bijak kita merawat diri sendiri.
Laman Psychology Today menulis, menjaga kewarasan bukan berarti selalu kuat tanpa celah, melainkan mampu mengenali batas, menerima bantuan, dan melangkah perlahan tanpa kehilangan arah.
Beberapa langkah sederhana berikut menjadi pengingat bahwa orang tua juga manusia, yang berhak lelah, berhak berhenti sejenak, dan berhak ditopang.
1. Bangun Kesadaran pada Diri Sendiri
Stres sering kali hadir tanpa permisi, seperti sulit tidur, perubahan nafsu makan, atau emosi yang mudah meledak.Sadari jika tanda-tanda tersebut muncul dan luangkan waktu untuk benar-benar “mengecek diri”.
Orang tua dapat lebih peka mengenali tanda-tanda kelelahan sebelum tubuh dan pikiran benar-benar tumbang.
2. Tetap Terhubung dengan Orang Lain
Merawat anak dengan kondisi medis bisa terasa sangat sepi.Padahal, satu pesan singkat atau obrolan ringan dengan orang yang dipercaya dapat menjadi pengingat bahwa kita tidak sendirian.
Terhubung dengan orang yang memiliki pengalaman serupa juga sering membantu memilah mana yang benar-benar mendesak, dan mana yang bisa ditunda tanpa rasa bersalah.
3. Mau Menerima Bantuan
Ada kecenderungan untuk ingin melakukan semuanya sendiri, seolah itu tanda kekuatan. Padahal, menerima bantuan justru adalah hal yang masuk akal. Entah itu bantuan belanja, mengantar anak lain, atau sekadar menemani sebentar, hal-hal kecil tersebut dapat meringankan beban yang terasa sangat berat.
4. Bersiap untuk Beradaptasi
Saat sedang mengasuh anak dengan kondisi medis, rencana sering kali berubah mendadak.Ada hari di mana kita masih bisa menyesuaikan dan terus berjalan, ada pula hari di mana kita harus berhenti total dan mencoba lagi esok hari.
Memberi diri sendiri waktu untuk menata ulang rencana adalah bagian dari bertahan, bukan kegagalan.
5. Membuat Rencana untuk Diri Sendiri
Saat stres meningkat, penting untuk mengetahui apa yang membantu kita bisa kembali bernapas dengan lega, entah itu menulis jurnal, bergerak, berdoa, bernapas perlahan, berbincang dengan orang terdekat, atau mencari bantuan profesional.Pilih yang paling mungkin dilakukan saat ini, dan lakukan dengan konsisten, sekecil apa pun langkahnya.
6. Terus Melangkah
Satu langkah demi satu langkah. Ketika semuanya terasa terlalu besar, pecahlah tanggung jawab menjadi bagian-bagian kecil.Fokuslah pada satu tugas terdekat, lalu selesaikan. Tidak perlu memikirkan semuanya sekaligus. Hari ini cukup hari ini.
Dikutip situs NHS, merawat anak yang sedang sakit juga berarti merawat diri sendiri, tanpa rasa bersalah.
Mengambil jeda untuk makan dengan layak, minum, menghirup udara segar, atau tidur sejenak bukanlah bentuk meninggalkan anak, melainkan cara agar kita bisa tetap hadir dengan utuh.
Kadang-kadang perlu mengingatkan pada diri sendiri: saat kita merawat diri, kita sedang melakukan itu demi anak kita juga.
Membangun rutinitas harian yang sederhana pun dapat membantu menjaga kewarasan.
Datang ke rumah sakit pada waktu yang relatif sama, menjadwalkan waktu istirahat, makan, dan tidur secara teratur dapat mengurangi rasa lelah, kehilangan kendali, dan stres.
Jika terasa sulit, tidak ada salahnya berdiskusi dengan tenaga kesehatan yang merawat anak untuk membantu menyusun ritme harian yang paling memungkinkan.
Apabila berbagi kabar terasa melelahkan, menunjuk satu orang kepercayaan sebagai penghubung informasi dapat sangat meringankan beban emosional.
Di tengah fokus merawat anak, kesehatan orang tua tetap tak boleh terabaikan.
Terutama jika masa perawatan cukup panjang atau jauh dari rumah, memastikan akses layanan kesehatan untuk diri sendiri adalah langkah bijak.
Orang tua yang terjaga kesehatannya akan lebih mampu mendampingi anak melewati masa sulit ini.
Sebagai catatan penting, tidak sedikit pula orang tua yang merasa sangat terbantu dengan dukungan tenaga kesehatan mental, seperti konselor atau terapis.
Jika kelelahan emosional mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau terasa sulit dihadapi sendirian, mencari bantuan profesional adalah langkah yang layak dan berani.
Simak juga artikel menarik lainnya seputar ibu dan anak di sini.
Editor: Sekar Kinasih