diajeng.id - Pernahkah kamu merasakan kecocokan dengan seseorang ketika baru pertama kali bertemu dan berkenalan?
Tubuhmu seakan-akan mengisyaratkan bahwa orang tersebut "klik" denganmu, bahkan sebelum sempat melakukan obrolan panjang atau pembicaraan mendalam.
Kadang-kadang, keakraban itu bukan datang dari topik obrolan yang sama atau selera musik yang serupa, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih halus: aroma tubuh.
Tanpa sadar, kita bisa merasa nyaman pada orang yang baunya terasa “akrab”, seolah-olah tubuh kita sedang mengenali dirinya lewat indra penciuman.
Studi tentang Kecocokan Aroma di Balik Persahabatan
Fenomena ini, seperti dilaporkan New Scientist, ternyata bukan sekadar feeling atau perasaan.
Penelitian dari Institut Sains Weizmann pada 2022 menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki bau badan mirip lebih mungkin langsung merasa cocok dan berteman.
Inbal Ravreby, peneliti utama studi tersebut, menyebut bahwa dalam perjumpaan pertama, kita sering kali saling “mengendus” tanpa sadar. Misalnya, lewat gerakan sederhana seperti mengusap hidung setelah berjabat tangan.
Dalam eksperimen, Ravreby meneliti 20 pasang sahabat yang mengaku langsung akrab sejak pertemuan pertama.
Saat aroma kaus mereka dianalisis dengan “hidung elektronik”, alat yang mendeteksi komponen kimia pada bau, hasilnya menunjukkan bahwa bau badan para sahabat ini jauh lebih mirip dibandingkan dengan pasangan acak.
Sebelumnya, tim peneliti mencoba melakukan eksperimen berbeda. Mereka merekrut 17 orang yang belum pernah kenal satu sama lain.
Para partisipan diminta untuk mengikuti semacam permainan nonverbal dengan partisipan berjenis kelamin sama.
Hasilnya, mereka yang memiliki aroma tubuh serupa melaporkan kecenderungan “nyambung” dengan cepat.
Temuan ini menunjukkan bahwa manusia, layaknya mamalia, mengandalkan indra penciuman untuk mengenali spesies yang sama dengan dirinya.
Ravreby melanjutkan, temuan dari eksperimennya juga masuk akal karena selama ini riset menunjukkan bagaimana kita cenderung berteman dengan orang-orang yang mirip kita, baik terkait usia, etnis, tingkat pendidikan, agama, penampilan, sampai nilai-nilai yang dianut bahkan tipe kepribadian.
Kecenderungan berteman dengan orang yang mirip ternyata bukan hanya dari lingkungan sosial saja, tetapi juga dipengaruhi aroma tubuh yang berasal dari gen dan mikrobioma kulit.
Menariknya, untuk urusan pasangan romantis, arah kecenderungan ini justru bisa jadi lebih kompleks.
Orang-orang heteroseksual, terutama perempuan, tampaknya lebih tertarik pada lawan jenis yang memiliki aroma tubuh berbeda dari mereka.
Hal ini didukung oleh penelitian lawas dari University of Chicago yang menjadi terobosan menarik tatkala dipublikasikan pada 2002.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Martha McClintock tersebut menemukan bahwa preferensi perempuan terhadap aroma tubuh laki-laki dipengaruhi oleh Antigen Leukosit Manusia (HLA), kumpulan gen yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Dalam studi tersebut, para perempuan diminta mencium kaus yang telah dipakai oleh berbagai laki-laki.
Tujuannya, menurut McClintock, bukan untuk mencari tahu aroma apa yang membuat perempuan tertarik secara seksual pada si laki-laki.
"Sebaliknya, tujuan kami adalah untuk mengetahui bau laki-laki seperti apa yang membuat si perempuan ingin selalu berada di dekatnya," terang McClintock.
Perumpamaannya begini. Kita suka sekali mencium aroma bawang putih, tetapi tentu kita tidak mau mencium aroma ini selama 24 jam nonstop, bukan?
Dari "uji bau" tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa para perempuan lebih menyukai aroma badan laki-laki dengan gen yang tidak sama persis maupun sangat berbeda dari mereka.
"Mereka memilih laki-laki dengan aroma tubuh yang tingkat perbedaannya sedang-sedang saja," kata Carole Ober, dosen Genetika Manusia di University of Chicago.
Adanya perbedaan tersebut diduga berkaitan dengan mekanisme evolusioner umat manusia, yang berupaya menciptakan keberagaman genetika selama berkembang biak dengan menghindari inses agar keturunannya sehat.
Uniknya, preferensi perempuan terhadap aroma tubuh laki-laki ini berkaitan dengan gen yang berasal dari ayah pihak perempuan, alih-alih sang ibu.
Dengan kata lain, pilihan aroma dan mungkin juga preferensi kita pasangan bisa jadi dipengaruhi oleh genetika yang sifatnya turun-menurun antargenerasi.
Dari dua penelitian tersebut, kita bisa melihat satu benang merahnya, bahwa indra penciuman adalah bahasa kuno tubuh yang masih kita gunakan sampai detik ini, meski kadang prosesnya tak kita sadari.
Mungkin, ketika kita merasa “nyaman” dengan seseorang hanya karena baunya terasa pas, itu bukan sekadar kebetulan, tapi cara tubuh memberi tahu kita siapa yang serupa, dan siapa yang seimbang untuk diajak berteman atau bertali kasih.
Editor: Sekar Kinasih