Menuju konten utama

Mengapa Selera Parfum Kita Berbeda?

Gen juga ikut andil memengaruhi preferensi kita terhadap aroma. Di satu sisi, bau khas makanan seperti vanila dan buah persik disukai banyak orang.

Mengapa Selera Parfum Kita Berbeda?
Header Diajeng Aroma wangi. foto/IStockphoto

diajeng.id - Mengapa air hujan yang pertama kali jatuh ke tanah kering, aromanya bisa terasa sedap sampai memberikan efek tenang?

Namun, ketika mencium bau durian, tak sedikit orang justru menutup hidungnya dan mengaku kepala jadi pening.

Ternyata, selera orang terhadap bau-bauan bukan sekadar soal suka atau tidak suka.

Otak, melalui indera penciuman hidung, menyimpan banyak cerita tentang ingatan, emosi, dan bahkan warisan genetik yang memengaruhi cara kita merasakan dunia lewat semesta aroma.

Kemampuan mengendus inilah yang membantu kita mengenali lingkungan, mengingat sesuatu, bahkan melindungi diri dari bahaya.

Itu sebabnya pula, ketika mencium sesuatu, ada yang bisa membuat kita tersenyum, bernostalgia, atau justru merasa mual.

Mengutip artikel di jurnal Food Quality and Preference (2021), indera penciuman kita memiliki sifat kompleks yang dipengaruhi oleh genetika dan faktor lingkungan.

Menariknya, setiap orang memiliki alur penciuman yang unik. Tubuh manusia sendiri memiliki 400 lebih gen OR (reseptor olfaktorius) yang bekerja untuk mengenali berbagai aroma.

Gen-gen ini bisa sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain, sehingga wajar kalau reaksi setiap orang terhadap bau-bauan juga berbeda.

Sampai hari ini, peneliti masih terus mempelajari cara kerja indera penciuman untuk memahami bagaimana molekul-molekul bau bisa menjadi informasi atau persepsi tertentu.

Riset tentang indera penciuman juga penting untuk membuka wawasan ke dunia medis, karena gangguan penciuman ternyata bisa jadi tanda awal penyakit seperti Parkinson, Alzheimer, bahkan infeksi COVID-19.

Gen Bisa Menentukan Aroma yang Disukai

Melansir dari NBC News, sebuah studi di International Journal of Cosmetic Science (2011) mencoba menelusuri bagaimana gen memengaruhi aroma parfum yang kita sukai.

Ternyata, hal ini berkaitan sekelompok gen yang disebut gen MHC (kompleks histokompatibilitas utama). MHC diketahui berperan dalam ketertarikan kita terhadap aroma tubuh orang lain.

Menariknya, kebanyakan dari kita cenderung lebih tertarik pada aroma orang yang memiliki gen MHC berbeda dari milik kita sendiri.

Studi yang dipimpin August Hämmerli dari Swiss Federal Institute of Technology di Zürich ini menduga bahwa MHC kemungkinan juga menentukan preferensi kita terhadap aroma tertentu.

Mereka melibatkan 116 peserta, baik laki-laki maupun perempuan, yang diminta mencium 10 aroma berbeda seperti cedar, mawar, kayu manis, hingga lumut. Pengujian ini diulang dengan berbagai konsentrasi dan kondisi berbeda.

Hasilnya, nilai aroma tertinggi adalah tolu balsam, yang berasal dari pohon balsam Amerika Selatan dan menyerupai vanili.

Nilai aroma terendah adalah vetiver, yang berasal dari rumput di India dan konon memiliki aroma "kayu" atau "tanah".

Pada setiap aroma, tingkat preferensi peserta ternyata bervariasi tergantung pada set gen MHC masing-masing.

"Masih sulit untuk menciptakan parfum yang sempurna untuk seseorang berdasarkan informasi terbatas ini," kata Hämmerli. "Namun, semakin banyak aroma dan orang yang diteliti, semakin banyak pola yang mulai muncul."

Penelitian lain dari Swedia pada 2022 juga menunjukkan bahwa kita cenderung menyukai bau yang mengindikasikan sesuatu yang bisa dimakan, termasuk vanila, dan buah persik.

Awalnya, tim peneliti ingin mencari tahu apakah orang-orang di penjuru dunia memiliki persepsi yang sama terkait aroma atau tipe bau-bauan.

“Secara tradisional, ini dianggap sebagai budaya, tetapi kami dapat menunjukkan bahwa budaya tidak terlalu berpengaruh terhadap bau-bauan,” kata Artin Arshamian, peneliti neurosains di Karolinska Institutet dikutip dari situs resmi universitas.

Penelitian tersebut melibatkan 235 individu dari berbagai belahan dunia. Mereka diminta mengurutkan berbagai aroma dari yang sensasinya menyenangkan hingga yang paling tidak menyenangkan.

Hasilnya, meskipun ditemukan perbedaan individu, terdapat kesamaan global dalam menilai aroma tertentu.

Perbedaan ini sebagian besar dijelaskan oleh struktur molekul aroma (41 persen) dan preferensi pribadi (54 persen).

"Preferensi pribadi dapat disebabkan oleh proses pembelajaran, tetapi bisa juga merupakan hasil dari susunan genetik kita," kata Arshamian.

Dalam studi ini, vanila menempati posisi teratas sebagai aroma paling disukai, diikuti etil butirat atau aroma buah persik.

Sementara asam isovalerat, yang biasa ditemukan pada keju, susu kedelai, jus apel, hingga keringat kaki mendapat peringkat terendah.

Menurut Arshamian, salah satu kemungkinan manusia menganggap beberapa bau lebih menyenangkan adalah karena faktor evolusi.

Aroma-aroma tertentu mungkin memberikan sinyal akan sesuatu yang aman, bisa dimakan, atau menenangkan. Tanpa kita sadari, pengetahuan itu membantu leluhur kita bertahan hidup sejak dulu.

"Sekarang kita tahu bahwa ada persepsi [bau] universal yang didorong oleh struktur molekuler dan itu menjelaskan mengapa kita menyukai atau tidak menyukai bau tertentu," kata Arshamian.

"Langkah selanjutnya adalah mempelajari alasannya dengan menghubungkan pengetahuan ini dengan apa yang terjadi di otak ketika kita mencium [bau] tertentu."

Baca juga artikel terkait PARFUM atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih