Menuju konten utama

Cinta Bukan Soal Siapa Lebih Kuat: Memaknai Relasi yang Setara

Relasi yang sehat lahir ketika dua orang sama-sama merasa didengar dan punya ruang menentukan pilihan, bukan dari pembagian kuasa yang kaku.

Cinta Bukan Soal Siapa Lebih Kuat: Memaknai Relasi yang Setara
Header Diajeng Daya Tawar Relasi. tirto.id/Quita

diajeng.id - Selama ini, mungkin cukup lazim kita temukan gambaran suami-istri yang salah satunya terlihat "dominan" dibandingkan pasangannya.

Dominasi tersebut tercermin secara halus tapi nyata, misalnya dalam hal terkait pengambilan keputusan.

Keputusan ini biasanya terkait urusan rumah tangga, pengelolaan keuangan, pilihan sekolah anak, belanja kebutuhan harian maupun barang tersier, hingga penentuan rencana liburan.

Dalam dinamika semacam ini, relasi asmara bukan sekadar ruang berbagi cinta, tapi juga jadi arena negosiasi kuasa yang sering luput kita sadari.

Definisi Power dalam Konteks Relasi

Dalam konteks relasi asmara, menurut penjelasan di situs Kansas City Relationship Institute, kuasa pada dasarnya adalah soal pengaruh.

Siapa yang mampu memberi dan menolak pengaruh akan berperan membentuk emosi maupun perilaku pasangannya.

Dalam hubungan yang sehat, kuasa bersifat saling memengaruhi, melibatkan empati dan batasan tanpa rasa takut.

Namun, relasi menjadi timpang atau tidak seimbang ketika pengaruh secara konsisten hanya mengalir satu arah.

Ketimpangan ini merujuk pada satu pihak yang terbiasa mengendalikan arah hubungan, sedangkan pihak lain lebih sering mengalah, diam, atau menyesuaikan diri demi menjaga kedamaian.

Dinamika kuasa tidak muncul dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh peran gender, ekspektasi budaya, dan pengkondisian sosial yang sudah lama mengakar kuat.

Norma gender tradisional, misalnya, kerap mendorong laki-laki untuk tampil sebagai pengambil keputusan dan pemimpin.

Di sisi lain, perempuan dibiasakan untuk menjaga keharmonisan relasi dan mendahulukan kebutuhan orang lain.

Tanpa disadari, pola ini menciptakan ketidakseimbangan daya tawar yang dianggap “normal”.

Jenis-Jenis Power dalam Relasi

Dalam bentuk apa saja kuasa hadir di relasi asmara?

Kenyataannya, kuasa tidak selalu tampil sebagai kontrol yang terang-terangan.

Kuasa bisa muncul melalui peran sehari-hari, kepribadian, sumber daya, hingga cara seseorang mengekspresikan emosi dan tubuhnya.

Dinukil dari Bayside Psychotherapy, psikoterapis Adam Szmerling menjelaskan beberapa jenis kuasa yang umum hadir dalam hubungan relasi:

1. Kekuasaan Posisi

Kekuasaan ini muncul dari pembagian peran dan tanggung jawab dalam relasi.

Dalam hubungan yang sehat, tugas-tugas rumah tangga, seperti mengelola keuangan, mengurus rumah, atau mengasuh anak, dibagi dua dan dihargai secara setara.

Namun, rasa tidak berdaya dan ketidakpuasan bisa muncul ketika satu pihak selalu menjadi pengambil keputusan, misalnya selalu menentukan rencana, jadwal, atau pilihan keluarga, sementara yang lain hanya mengikuti.

2. Kekuasaan Pribadi

Sebagian orang lebih ekspresif, percaya diri, dan fasih berkomunikasi.

Tanpa disadari, kepribadian yang kuat ini dapat mendominasi percakapan, mulai dari rencana akhir pekan hingga keputusan besar seperti membeli rumah.

Di sini, kuasa bekerja lewat siapa yang lebih sering berbicara dan didengar, sementara suara yang lebih pendiam berisiko terpinggirkan.

3. Kekuasaan Ekonomi/Keuangan

Akses dan kontrol terhadap uang menjadi sumber kuasa yang sangat nyata.

Pihak yang mengelola atau menghasilkan lebih banyak uang sering kali memiliki pengaruh lebih besar dalam pengambilan keputusan.

Tidak jarang, ketimpangan ini memicu stres dan konflik, terutama ketika kebutuhan dan prioritas tidak dibicarakan secara setara.

4. Kekuasaan Koersif

Ini adalah bentuk kuasa yang paling berbahaya.

Kekuasaan koersif melibatkan pola pengendalian, intimidasi, atau ancaman, baik secara emosional, psikologis, maupun perilaku, yang membuat pasangan merasa takut atau terjebak.

Berbeda dari konflik biasa, kuasa ini bertujuan untuk mengambil alih, bukan menyelesaikan masalah.

5. Pengetahuan atau Keahlian

Setiap orang membawa keahlian tertentu dalam hubungan, seperti pengetahuan finansial, teknis, atau pengasuhan.

Masalah muncul ketika keahlian ini dijadikan alat legitimasi untuk menguasai semua keputusan, bukan sebagai kontribusi yang tetap membuka ruang diskusi dan persetujuan bersama.

6. Kekuasaan Emosional

Kuasa emosional terlihat dari siapa yang boleh marah, sedih, atau menarik diri, dan siapa yang harus menenangkan, mengalah, atau memahami.

Bentuknya sering halus, seperti manipulasi perasaan, rasa bersalah, atau pengabaian emosional, namun dampaknya bisa sangat mendalam.

7. Kekuasaan Fisik

Kekuasaan fisik tidak selalu berupa kekerasan langsung.

Ia juga hadir lewat bahasa tubuh yang mengintimidasi, membatasi ruang gerak, menghalangi pintu saat bertengkar, hingga perilaku agresif seperti membanting barang atau mengemudi secara berbahaya.

Semua ini berisiko menciptakan rasa takut dan ketimpangan kuasa.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships (2021) oleh tim peneliti Martin Luther University Halle-Wittenberg (MLU) dan University of Bamberg menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif", yang biasanya dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, pendidikan, atau posisi dalam relasi.

Faktor yang jauh lebih berpengaruh adalah "rasa kuasa subjektif", yaitu sejauh mana masing-masing pihak "merasa memiliki ruang" untuk ikut mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.

“Kedengarannya jadi menyerupai bisnis, akan tetapi kekuasaan juga berperan dalam hubungan romantis. Perasaan mampu ikut menentukan keputusan dalam hubungan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas relasi,” ujar Robert Körner dari Institute of Psychology di MLU.

Dalam studi terhadap pasangan yang hidup bersama, tim peneliti menemukan bahwa pasangan yang paling puas bukanlah yang memiliki pembagian kekuasaan yang seimbang secara objektif, melainkan pasangan yang sama-sama merasa berdaya, meski peran dan wilayah keputusan mereka berbeda.

“Hasil ini mengejutkan, karena banyak penelitian sebelumnya mengasumsikan bahwa keseimbangan kekuasaan yang objektif secara langsung berkaitan dengan kualitas hubungan,” kata Körner.

Temuan ini menegaskan bahwa relasi yang sehat tidak menuntut pembagian kuasa yang identik, melainkan pengalaman psikologis yang setara: kedua pihak sama-sama merasa didengar, memiliki otonomi, dan mampu bernegosiasi tanpa tekanan.

Baca juga artikel lain terkait relasi asmara di sini.

Baca juga artikel terkait RELASI ASMARA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih