diajeng.id - Relasi romantis anak muda di sekitar saat ini sering diwarnai dengan percakapan soal effort, kehadiran emosional, dan komitmen.
Realitasnya, jatuh cinta adalah proses yang lebih kompleks daripada sekadar rasa suka atau sayang.
Saat kamu jatuh cinta, otakmu akan mengaktifkan sistem penghargaan dan keterikatan yang berhubungan dengan perasaan senang, motivasi, dan kebutuhan untuk senantiasa terhubung secara sosial.
Dopamin atau “hormon kebahagiaan” di otak bakal membuat cintamu ke pasangan jadi menggebu-gebu, seiring oksitosin menciptakan rasa aman dan kelekatan jangka panjang.
Di samping itu, cara mengekspresikan cinta ternyata tidak selalu seragam pada setiap orang, terutama antara laki-laki dan perempuan, meski tujuannya sama.
Riset di jurnal Folia Sociologica (2022) bilang bahwa perempuan lebih sering ungkapkan cinta melalui komunikasi verbal, perhatian emosional, dan kehadiran afektif. Pada laki-laki, ekspresi lebih banyak ditunjukkan dengan membantu, melindungi, atau memberi solusi.
Perbedaan ini bukan tentang siapa yang lebih mencintai, tapi bagaimana cinta dipelajari dan disuarakan.
Di luar itu, intensitas perasaan bukanlah satu-satunya faktor yang membuat cinta bertahan, tapi juga kualitas respons emosional antarpasangan.
Studi yang dimuat di Frontiers in Psychology (2015) menekankan pentingnya kemampuan kita untuk hadir, memahami, dan merespons kebutuhan emosional pasangan secara konsisten.
Pasangan yang merasa benar-benar “dilihat dan didengar” cenderung punya hubungan yang lebih memuaskan, karena sejatinya, cinta adalah praktik sehari-hari, alih-alih sekadar perasaan spontan yang datang lalu pergi.
Riset ini juga menegaskan bahwa konflik dan ketidaksempurnaan bukan tanda hubungan gagal.
Justru, hubungan romantis yang sehat ditandai dengan kemampuan kita untuk tetap bertahan dalam ketegangan, berdialog saat berbeda pandangan, dan tidak menarik diri ketika hubungan terasa tidak nyaman.
Cinta yang dewasa memang tidak selalu terasa manis. Kadang ia hadir dalam bentuk kesabaran, kompromi, dan keinginan untuk bertumbuh bersama. Di konteks ini, mencintai berarti bersedia tetap bertahan bahkan saat perasaan sedang tidak berada di versi terbaiknya.
Menariknya, penelitian di atas mengingatkan bahwa cara kita mencintai pasangan sangat berkaitan dengan pemahaman diri.
Mereka yang paham kebutuhan emosionalnya, tahu boundaries atau batasan, menyadari luka yang dimiliki, dan bisa mengelola konflik dengan sehat, cenderung lebih mampu membangun relasi yang aman.
Kerangka berpikir inilah yang terasa relevan buat penyanyi Idgitaf (24).
Beberapa waktu lalu, pemilik nama lengkap Brigitta Sriulina Br Meliala atau kerap disapa Gita ini merilis single terbaru, Sedia Aku Sebelum Hujan, sebuah serenade cinta untuk mengawali album keduanya yang akan mengudara pada 2026.
Alih-alih merayakan cinta sebagai euforia semata, melalui Sedia Aku Sebelum Hujan, Gita berbicara tentang kesiapannya untuk menjadi sosok yang dapat selalu diandalkan oleh orang yang dikasihinya, tentang cinta sebagai komitmen, risiko, dan keberanian mengenali cara dirinya mencintai.
“Ada aku sebelum apapun terjadi pada orang yang aku sayang. Aku sudah bisa hadir di hidup mereka,” tuturnya saat berjumpa dengan Diajeng Tirto pada akhir Oktober lalu.
Gita memaknai hujan sebagai persoalan dan tantangan yang perlu dicari solusinya dan dijalani prosesnya.
“Hujan juga sebagai terpaan yang membuat kita memikirkan ulang apakah kita mantap untuk lanjut dengan keputusan kita, apakah mau mundur, apakah tahan dulu. Itu semua, menurutku, yang terjadi di bawah hujan.”
Gita mengingatkan bahwa lagunya bukan sekadar ekspresi syukur atas nikmat jatuh cinta yang saat ini sedang dialaminya.
Perempuan yang konsisten mengecat rambutnya dengan warna pine green ini belakangan cukup gencar menyuarakan semangat untuk “mencintai secara ugal-ugalan”.
Bagi Gita, proses mencintai erat kaitannya dengan keberanian untuk menerima risiko.
“Cinta itu komitmen, dan aku siap berkompromi. Dalam mencintai, memang harus ada sesuatu yang kita ‘rugi’, tapi kita juga ‘untung’ karena sudah merasa fulfilled dicintai. Pastikan partner kita pantas mendapatkan cinta kita, dan memberikan cintanya kembali ke kita,” tegas Gita.
Meski romansa antarkekasih menjadi narasi paling disorot pada era modern, Gita sadar betul bahwa selain dengan kekasih, ada banyak bentuk cinta di dalam hidup yang penting untuk direngkuh, sebut di antaranya dari lingkaran support system seperti kakak dan keluarga, teman-teman, hingga tim kerja.
“Cinta sahabat dan pasangan itu berbeda, dan pastinya memberikan warna yang baru ke hidup kita. Yang kita tadinya mungkin ngerasa nggak butuh, tapi ternyata kita butuh. Kita craving berbagai bentuk cinta seperti itu,” tukasnya.
Apabila menilik album Gita pada 2023 lalu, Mengudara, isinya lebih banyak mengulas tentang refleksi diri.
Kali ini, pada album kedua, Gita ingin lebih banyak mengungkapkan self-discovery.
“Harapannya,” lanjut Gita, “apapun yang aku sedang jalani sekarang bukan sesuatu kebetulan, bukan sekadar permainan cinta-cintaan. Tapi aku menemukan diriku juga di perjalanan ini, dan aku juga ditolong oleh orang-orang di sekitarku.”
Kalau kamu, bagaimana cara mengekspresikan cintamu ke kekasih?
Editor: Dhita Koesno