diajeng.id - Siapa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar frasa “cool girl—cewek keren”?
Apakah gadis tomboy yang blak-blakan, suka olahraga, dan merokok cerutu seperti Robin Scherbatsky dari sitcom How I Met Your Mother (2005-2014)?
Ataukah gadis populer dan cerdas berambut pirang yang suka pakaian serba pink seperti Elle Woods dari Legally Blond (2001)?
Keduanya sama-sama karakter perempuan kuat, independen, dan ambisius, akan tetapi hanya satu dari mereka yang dirayakan sebagai seorang “cool girl” dalam gemerlap potret media.
“Cool girl” biasanya digambarkan dalam cerita di film atau serial televisi sebagai seorang yang tidak seperti perempuan lain pada umumnya.
Karakter “cool girl” sangatlah santai. Gaya tertawanya lepas, bebas. Tidak pernah sungkan untuk meluapkan kata-kata kasar. Suka makan apa saja, tetapi tubuhnya tetap kurus. Minatnya terletak pada aktivitas olahraga, otomotif, atau kegiatan stereotipikal maskulin lainnya yang membuatnya cenderung mudah diterima di tongkrongan laki-laki.
Namun, di balik itu semua—dan ini yang terpenting—dia cantik rupawan.
Semua teman laki-lakinya mungkin mengejek sifatnya yang tomboy. Mereka mungkin juga menganggapnya setara dengan mereka, atau istilahnya, “one of the boys”.
Menariknya, pada waktu sama, mereka diam-diam tergila-gila padanya.
Penggambaran tersebut sangat sesuai dengan tokoh Robin (diperankan oleh Cobie Smulders) yang berkali-kali disebut “hot” dan diperebutkan oleh Ted dan Barney–dua tokoh protagonis laki-laki di dalam serial.
Mereka terpikat dengan kepribadian Robin yang dianggap berbeda dengan perempuan-perempuan pada umumnya.
“Dia minum scotch? Bisa mengutip dialog dari film Ghostbusters?” demikian respons takjub tokoh laki-laki lainnya, Marshall, terkait kualitas Robin yang maskulin.
Robin juga tidak punya banyak teman perempuan. Dia pikir, menjalin pertemanan dengan perempuan itu merepotkan karena mereka cengeng dan suka merengek.
Sebaliknya, karakter Elle Woods (diperankan oleh Reese Witherspoon) dalam film Legally Blonde (2001) adalah personifikasi dari karakter super feminin yang kerap dianggap lebih inferior daripada kalangan “cool girl”.
Elle menyukai segala hal yang berwarna pink, rutin merawat diri di salon kecantikan, dramatis, dan punya segudang teman perempuan.
Gara-gara itulah, Elle disangka hanya seorang gadis pirang cantik yang bodoh.
Elle ditinggalkan oleh pacarnya karena dianggap “terlalu pirang”. Sang mantan kekasih, yang memiliki aspirasi di bidang hukum dan politik, memilih untuk “menikahi Jackie, alih-alih Marilyn”.
Pendek kata, Elle dituding sebagai gadis pesta yang hobinya sekadar bersenang-senang seperti citra artis Marilyn Monroe—kontras dari figur Jacqueline Kennedy yang citranya intelektual dan elite sehingga lebih cocok untuk menjadi pendamping suami pejabat.
Ketika Elle menyadari seperti apa tipe perempuan yang akan dinikahi mantan pacarnya, ia berusaha untuk menjadi seperti itu dan memutuskan belajar keras sampai diterima di Harvard Law School.
“Dialah “cool girl—gadis keren”. Gadis keren itu seksi. Gadis keren itu menarik. Gadis keren itu menyenangkan. Gadis keren tidak pernah marah pada kekasihnya. Dia hanya tersenyum malu-malu, penuh kasih, dan membiarkan laki-laki melakukan apapun yang mereka mau... Dia menyukai apapun yang disukai kekasihnya.”
Penggalan monolog ikonik dari film Gone Girl (2014) yang diucapkan oleh karakter Amy Dunne (diperankan aktris Rosamund Pike) inilah yang pertama kali mengukuhkan istilah “cool girl” bagi karakter-karakter perempuan seperti Robin.
Meskipun telah eksis berdekade-dekade lamanya, trope ini bisa dibilang belum resmi lahir sampai akhirnya Gillian Flynn mengkritiknya dengan tajam dalam buku psychological thriller populer yang diadaptasi menjadi film dengan judul sama tersebut.
Kepada media Vulture, Flynn menyebut bahwa dirinya mulai menyadari betapa bermasalahnya trope ini ketika menonton karakter Mary Jensen (diperankan oleh aktris Cameron Diaz) dalam film komedi romantis There’s Something About Mary (1998).
Dengan paras rupawan, tokoh Mary bekerja sebagai dokter, bermain golf setiap pagi, suka makan hamburger, minum bir, dan menginginkan laki-laki yang dapat mengajaknya berkencan menonton pertandingan sepak bola.
“Wow, dialah “cool girl”! Dan kemudian aku berpikir, ‘Oh benar saja. Dia diciptakan oleh laki-laki,” tutur Flynn.
Namun, yang patut dipertanyakan adalah ketika perempuan berpura-pura untuk menjadi “cool girl” agar disukai oleh laki-laki.
Kita mungkin lebih mengenal “pick-me”—istilah berkonotasi negatif yang digunakan perempuan untuk merendahkan perempuan lain demi mendapatkan validasi laki-laki.
Meskipun mulai banyak dikritisi, trope “cool girl” masih populer dan berseliweran di dunia hiburan.
Salah satunya penjelasan di balik popularitasnya bisa jadi berkaitan dengan kuatnya male gaze di industri sinema—teori kritis film yang mengeksplorasi cara-cara sineas laki-laki mengobjektifikasi perempuan.
Film atau serial televisi yang menggunakan karakter “cool girl” acap kali menonjolkan visualisasi male gaze sebagai daya jual.
Karakter Mikaela Banes (diperankan oleh Megan Fox) dalam film robot Transformers (2007) menjadi salah satu contoh “cool girl” yang direduksi menjadi sebatas objek seksual akibat penerapan male gaze.
Mulai dari gaya pakaian, pengambilan gambar, hingga caranya berpose saat memeriksa mesin mobil ditampilkan dengan menonjolkan sensualitas tubuh perempuan.
Selain menjadi perempuan seksi yang bisa memperbaiki mobil, Mikaela tidak memiliki perkembangan karakter yang berarti.
Hiperseksualisasi pun tidak luput dari pahlawan super Black Widow dari Marvel Cinematic Universe yang diperankan Scarlett Johansson atau dari penjahat Harley Quinn dari film Suicide Squad (2016) yang dimainkan oleh Margot Robbie.
Sementara itu, elemen male gaze untuk kepuasan penonton laki-laki ditemukan pada adegan berganti baju semi-telanjang Harley Quinn yang disaksikan oleh seratus rekan laki-lakinya dalam Suicide Squad.
Dari berbagi contoh di atas, “keren” yang dikonstruksikan dalam semangat “cool girl” mengacu sepenuhnya pada fantasi laki-laki.
Apabila perempuan tidak menarik secara objektif, mereka hanya akan dianggap sebagai “one of the guys” alih-alih pasangan potensial bagi protagonis laki-laki.
Contohnya diilustrasikan dalam alur film komedi Miss Congeniality (2000) yang memperlihatkan bagaimana agen FBI Gracie Hart (diperankan oleh aktris Sandra Bullock) menjadi perwujudan dari seorang “cool girl” yang tidak memedulikan penampilan di tempat kerja sehingga kerap menjadi bahan olok-olok rekan kerja yang laki-laki.
Ketika ia harus menyamar sebagai peserta kontes kecantikan mengubah penampilannya, barulah tokoh utama laki-laki yang juga rekan kerjanya, Eric Matthew, memandang Gracie sebagai perempuan.
“Setelah kita menulis laporan dan kamu menjadi jelek lagi, mungkin kita bisa makan malam bersama?” goda Eric kepada Gracie, yang hanya tersenyum malu setelah direndahkan seperti itu.
Karakter-karakter “cool girl” tak lain adalah perwujudan dari fantasi sineas laki-laki yang tidak masuk akal dan tentu saja tidak akan pernah realistis—hampir sama tidak realistisnya dengan mobil-mobil Sam yang bisa berubah menjadi robot Transformers.
Selain luar biasa cantik, mereka juga tidak pernah terlihat marah.
Menjadi personifikasi dari fantasi ideal laki-laki juga berarti karakter-karakter “cool girl” ini memahami sepenuhnya isi kepala laki-laki, merasa masa bodoh dengan obrolan berbau seksual atau lelucon sarat unsur seksisme, dan tidak tergerak ketika mendapati obrolan laki-laki yang membanding-bandingkan perempuan satu sama lain.
Penulis Helen Coffey dalam artikelnya di The Telegraph mengingatkan bahwa “cool girl” hanyalah sebuah fatamorgana dari pabrik mimpi Hollywood.
“Orang-orang percaya pada omong kosong ini sepanjang waktu—laki-laki mengejar perempuan idaman yang tidak ada, dan parahnya, perempuan melakukan yang terbaik untuk mengubah diri mereka ke dalam cetakan yang tidak masuk akal karena mereka pikir itulah yang diinginkan laki-laki. Padahal, sebenarnya, kita semua telah dicuci otak,” tulis Coffey.
Elle Woods yang cantik, populer, pintar, berambut pirang, dan berkepribadian tangguh pun bahkan masih jauh lebih realistis daripada potret “cool girl” di cerita-cerita populer.
Sekali lagi, trope ini hanyalah karakter dua dimensi yang terlahir dari sekadar imajinasi.
Maka dari itu, jangan biarkan mereka sampai menyeberang ke dunia nyata dan mengukuhkan definisi perempuan keren yang seharusnya ditulis oleh dirimu sendiri.
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih