Menuju konten utama

Dari Hal Sederhana: Peran Laki-Laki Dukung Kesetaraan di Kantor

Kesetaraan gender di tempat kerja tak mesti dimulai dari wacana besar, ia tumbuh dari kesadaran akan batasan, empati, dan komitmen pada profesionalitas.

Dari Hal Sederhana: Peran Laki-Laki Dukung Kesetaraan di Kantor
Header Diajeng Laki laki Dukung Kesetaraan Gender di Kantor. tirto.id/Quita

diajeng.id - Masalah kesetaraan gender di tempat kerja sering terdengar seperti konsep besar.

Di dalamnya, mungkin ada istilah-istilah serius seperti kebijakan, regulasi, dan wacana ideal.

Padahal, dalam penerapan sehari-hari, ia kerap hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, mulai dari bagaimana seseorang merespons rekan kerjanya, pengambilan keputusan kecil, hingga cara empati diterjemahkan menjadi sikap nyata.

Di titik tersebut, peran laki-laki menjadi penting, bukan sebagai “penolong”, melainkan sebagai bagian dari sistem kerja yang adil serta bersikap secara profesional.

Eddo (33), pegawai di sebuah perusahaan teknologi informatika, bercerita bahwa tempat kerjanya selalu mengingatkan tentang profesionalitas.

Selama ini, Eddo bekerja dari rumah secara daring. Komunikasi antarpekerja dilakukan melalui platform resmi perusahaan sehingga kecil adanya celah bagi segala bentuk pelecehan atau kekerasan terhadap pekerja.

“Komunikasi terhadap sesama pekerja idealnya dilakukan dalam koridor profesional melalui platform resmi dari kantor, bukan lewat aplikasi pesan pada umumnya seperti WhatsApp, kecuali dalam situasi emergency," kata Eddo.

Terkait dukungan untuk perempuan pekerja di era digital, Eddo berpendapat, "Laki-laki harus memberi ruang nyaman pada perempuan dengan memperlakukan mereka selayaknya kolega profesional, tidak melontarkan guyonan seksis atau mengarah pada pelecehan.”

Sementara dalam pandangan Iswara (41), dukungan terhadap perempuan pekerja bukan sebagai sesuatu yang heroik, melainkan berangkat dari hal-hal yang memang sudah seharusnya dilakukan.

“Kalau aku sih ya memberi support untuk semua kebutuhan perempuan pekerja,” ujarnya.

Pekerja media berbasis di Yogyakarta ini memberikan contoh hal-hal yang kerap dianggap sepele, seperti izin saat menstruasi, ketersediaan ruang privat untuk laktasi, hingga memperlakukan rekan kerja perempuan dan laki-laki secara setara.

“Ya hal-hal normatif dan yang memang seharusnya begitu,” ucapnya.

Apa yang disampaikan Eddo dan Iswara menunjukkan satu hal penting, yakni kesetaraan gender di tempat kerja tidak selalu dimulai dari wacana besar.

Justru, ia tumbuh dari kesadaran akan batasan, empati, dan komitmen terhadap profesionalitas.

Meskipun pengalaman kerja setiap orang berbeda, sistem yang adil adalah sistem yang mengakui perbedaan itu tanpa mengurangi martabat siapa pun.

Laki-laki tidak dituntut untuk menjadi pahlawan, melainkan menjadi bagian dari sistem kerja yang adil, dengan sikap yang konsisten, sederhana, dan bertanggung jawab.

Banyak laki-laki menganggap kesetaraan sebagai tujuan bersama, tetapi belum tentu mengaitkannya dengan perilaku sehari-hari di tempat kerja.

The Conversation mewartakan, sebuah penelitian yang dilakukan tim dosen manajemen Rutgers Business School terhadap ratusan manajer laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa kemajuan justru ditentukan oleh praktik-praktik sederhana yang konsisten.

Hasil penelitian tersebut menyebutkan ada tiga langkah praktis yang dapat dilakukan oleh para atasan di dalam perusahaan.

Langkah pertama dimulai dari keberanian untuk bersuara tanpa mendominasi. Ketika terjadi candaan sarat unsur seksimse, komentar merendahkan, atau perilaku misoginis lainnya, respons laki-laki memiliki dampak yang signifikan.

Menegur dengan cara yang tenang dan berlandaskan standar profesional bersama terbukti tidak hanya melindungi rekan kerja perempuan, tetapi juga mencegah kejadian serupa di kemudian hari.

Lingkungan kerja yang jelas aturannya membantu mengurangi keraguan sosial, bahwa menegur bukanlah tindakan menghakimi, melainkan bagian dari menjaga martabat kolektif.

Langkah berikutnya adalah memaknai ulang cuti ayah.

Mengambil cuti setelah kelahiran anak sering dianggap tidak relevan dengan kesetaraan gender, padahal justru sebaliknya.

Cuti ayah berperan penting untuk menormalkan atau membiasakan peran laki-laki dalam pengasuhan, mendorong pembagian kerja rumah tangga yang lebih adil, dan membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkembang di dunia kerja.

Terakhir, dukungan terhadap fleksibilitas kerja menjadi kunci penting. Jam dan lokasi kerja yang fleksibel bukan semata-mata fasilitas, melainkan strategi untuk menciptakan lingkungan kerja yang berkelanjutan bagi semua orang.

Ketika laki-laki turut memanfaatkan fleksibilitas, baik untuk pengasuhan maupun keseimbangan hidup, stigma perlahan berkurang.

Praktik ini semakin efektif ketika dicontohkan oleh figur-figur dengan posisi strategis, sehingga fleksibilitas tidak lagi dipandang sebagai tanda kurangnya komitmen, melainkan bagian dari profesionalitas modern.

Seperti dilansir dari artikel Healthcare Businesswomen's Association (HBA), tempat kerja bukanlah ruang yang netral. Di dalamnya, relasi kuasa dan dinamika gender bekerja secara halus tapi nyata.

Hambatan yang Dihadapi Perempuan di Tempat Kerja

Meski ada kemajuan, perempuan terutama dari kelompok yang termarjinalkan, masih menghadapi hambatan sistemik: peluang dipanggil kerja dan promosi yang lebih kecil meski kualifikasi setara, kesenjangan upah, hingga pengalaman sehari-hari seperti sering disela, diberi label negatif, atau keahliannya dipertanyakan.

Hambatan-hambatan ini muncul di hampir setiap tahap karier, dari proses rekrutmen hingga interaksi harian di kantor.

Kondisi ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak pada kinerja organisasi dan budaya kerja secara keseluruhan.

Menurut laporan dari firma manajemen BlackRock pada 2022, keragaman gender dan angkatan kerja dapat meningkatkan performa serta pendapatan perusahaan.

Selain itu, temuan Bloomberg Intelligence pada 2024 menunjukkan perusahaan yang mempekerjakan lebih banyak perempuan di level eksekutif menunjukkan profit tahunan lebih tinggi daripada perusahaan yang tingkat keragaman gendernya lebih rendah.

Artinya, menciptakan tempat kerja yang setara bukan sekadar isu keadilan, tetapi juga strategi bisnis dan investasi jangka panjang.

Di sinilah peran laki-laki sebagai sekutu (ally) menjadi penting.

Allyship bukan sekadar memiliki niat baik, melainkan keterlibatan aktif untuk mendukung mereka yang menghadapi hambatan sistemik.

Menjadi sekutu bagi perempuan dimulai dari kesadaran bahwa banyak laki-laki selama ini tidak melihat ketidakadilan gender karena tidak mengalaminya secara langsung. Oleh karena itu, mendengarkan pengalaman perempuan menjadi langkah awal yang krusial.

Menjadi sekutu juga berarti berani menantang bias dan mikroagresi ketika menemukannya, baik dalam bentuk komentar, asumsi peran, maupun perlakuan yang meremehkan.

Dukungan untuk Perempuan Pekerja

Dukungan dapat hadir dalam bentuk tindakan sederhana, seperti memastikan ide perempuan diakui dalam rapat, memberi kredit secara terbuka, atau menawarkan bimbingan dan akses jaringan untuk membuka peluang kepemimpinan.

Di tingkat yang lebih luas, laki-laki juga dapat mendorong perubahan sistemik, mulai dari kebijakan cuti orang tua, fleksibilitas kerja, hingga proses promosi yang adil,serta memastikan komitmen perusahaan benar-benar dijalankan, bukan hanya tertulis di atas kertas.

Menjadi sekutu perempuan bukan soal jadi laki-laki sempurna, melainkan soal memilih untuk terlibat secara sadar dan konsisten mewujudkan keadilan gender.

Kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, melainkan isu kemanusiaan. Laki-laki memiliki peran penting dalam menciptakan tempat kerja di mana setiap orang, tanpa memandang gender, dapat berkembang dan berhasil.

Masih banyak artikel lain terkait kesetaraan gender yang bisa kamu baca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih