diajeng.id - Pembahasan seputar de-influencing kembali mencuat di tengah situasi ekonomi yang bergejolak dan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk downgrade gaya hidup.
De-influencing sederhananya adalah penggunaan media sosial untuk mengingatkan warganet agar tidak membeli atau mengonsumsi barang-barang secara berlebihan (overconsumption).
Praktik ini hadir sebagai pembanding, sekaligus bentuk respons perlawanan, terhadap budaya pamer konten-konten belanja barang mewah nan berlebihan yang ditampilkan oleh influencer, salah satunya lewat konten-konten monthly haul (konten koleksi belanja per bulan).
Konten de-influencing berusaha meyakinkan audiens untuk merasa cukup dengan barang yang sudah dimiliki. Isinya banyak membahas urgensi berhemat dan dampak negatif dari menimbun barang dengan fungsi yang sama.
Melansir artikel Vogue, Boutayna Chokrane menjelaskan bahwa de-influencing mulai ramai dibahas setelah kontroversi yang ditimbulkan oleh influencer Mikayla Nogueira, kreator kecantikan di TikTok. Warganet menduga Mikayla menggunakan bulu mata palsu saat mempromosikan sebuah produk maskara.
Melihat potensi ketidakjujuran dari para influencer kecantikan, audiens menjadi lebih waspada dan tidak terburu-buru membeli produk yang dipromosikan oleh para influencer. Dari sinilah, tren de-influencing mulai berkembang, seiring situasi ekonomi yang bergejolak.
Dalam studi berjudul artikel “Deinfluencing TikTok During the Cost-of-Living Crisis: Neoliberal Logics of (Over) Consumption Across Popular Media” (2025), Aidan Moir dari University of Windsor, Canada menuturkan bahwa narasi tentang de-influencing mulai populer di platform TikTok pada awal 2023, ketika resesi ekonomi melandai Canada dan Amerika Serikat. Hingga akhir tahun itu, agar #deinfluencing tercatat ditonton lebih dari satu miliar kali.
Di TikTok dan Instagram, istilah “indikator resesi” juga populer sebagai candaan soal kecenderungan berhemat, seperti video memasak dengan caption “Recession indicator: I’ve started cooking” yang diunggah user @djgoss1p pada platform TikTok.
Di Indonesia, influencer TikTok @itscasriani (ConsciousFashion | SARE studio) rutin membahas de-influencing di akunnya.
“Deinfluencing you in less than 20 seconds... Just because lo baru dapet THR bukan berarti harus beli barang baru. Karena baju-baju yang lo punya sekarang udah lebih dari cukup!”
Demikian diucapkan @itscasriani dengan tegas dalam salah satu videonya. Di video lainnya yang meraih 58 ribu lebih likes, tertulis caption singkat, padat, jelas: “Belanja seperlunya, belanja semampunya”.
Bagi sebagian anak muda, tren ini diperlukan. Allesya (21) dari Tangerang menjelaskan kenapa menurutnya de-influencing itu penting.
“De-influencing penting karena bikin kita lebih kritis sebelum membeli sesuatu dan nggak gampang tergoda tren atau FOMO. De-influencing bisa bikin kita jadi lebih fokus untuk membeli barang yang bener-bener dibutuhkan,” ungkap Allesya.
Sementara Hamka (22) dari Depok menilai de-influencing bukan sekadar tren, melainkan bentuk perlawanan, “De-influencing itu penting, apalagi kalo konteksnya mengarah untuk melawan konsumerisme yang nggak penting.”
De-influencing: Konsumerisme dalam Bentuk yang Berbeda?
Di tengah lautan konten media sosial yang mendewakan keviralan lewat penampilan mahal, barang-barang mewah, dan persona mentereng, narasi de-influencing mencerminkan aksi yang membumi, progresif, serta mindful (sarat akan kesadaran) karena mengingatkan kita untuk mengontrol diri dengan berhemat dan bijak saat berbelanja.
Meski begitu, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa tren de-influencing sebenarnya tidak benar-benar keluar dari logika konsumerisme.
Walaupun de-influencing pada intinya mendorong kita untuk berhemat dan berhenti menimbun barang, di dalamnya juga bisa termuat ajakan untuk berbelanja produk alternatif dengan harga jauh lebih murah.
Coba ketik kata kunci “de-influence my list” di platform TikTok; kita akan menemukan konten-konten serupa dengan objek yang berbeda, seperti “de-influence my birthday list” atau “de-influence my makeup list”. Biasanya, konten ini berisi foto produk-produk yang hendak dibeli oleh si pemilik akun, tetapi mereka mencari alternatif yang lebih murah.
Kembali mengutip artikel Moir, dalam wawancara dengan HuffPost, de-influencer TikTok Alyssa Kromelis menyebut de-influencing sebagai “recession-core influencing”.
Menurut Kromelis, di tengah situasi ekonomi yang sulit, menjadi de-influencer yang menawarkan alternatif produk kecantikan dengan harga lebih murah merupakan salah satu cara untuk membuat orang tetap merasa menjadi bagian dari tren yang sedang berlangsung.
Dalam konteks ini, narasi de-influencing beririsan dengan praktik downgrading; menurunkan level gaya hidup dengan membeli barang-barang yang harganya lebih terjangkau dari yang biasanya dikonsumsi untuk menghemat pengeluaran. Artinya, pilihan yang tersedia bukan lagi antara membeli atau tidak membeli, melainkan membeli produk A atau produk B.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana media sosial mengubah bentuk kritik menjadi bagian dari budaya konsumerisme.
Hal tersebut selaras dengan pengamatan Michael Serazio, penulis buku The Authenticity Industries: Keeping It “Real” in Media, Culture, and Politics (2023).
Mengutip Serazio dalam wawancara dengan Vox pada 2023 silam, “Periklanan bersifat imperialistik secara geografis; selalu mencari ruang-ruang baru yang belum dijajah. Selalu ada hasrat terus-menerus di kalangan pengguna akan sesuatu yang autentik, murni, dan tidak berusaha menjual sesuatu. Namun, di mana pun kalian menemukannya, ruang itu pada akhirnya akan terisi dengan produk yang disisipkan di dalamnya.”
Menurut Serazio, ruang yang dianggap bebas dari penjualan tidak akan bertahan lama. Hal ini terlihat jelas dalam tren de-influencing. Konten yang awalnya hadir sebagai bentuk kritik terhadap budaya belanja berlebihan, juga berpeluang menjadi ruang untuk merekomendasikan produk-produk baru.
Sebuah Konotasi Positif di Era Serbasulit
Kembali melansir pandangan dalam tulisan Moir, tidak ada yang benar-benar baru atau “berbeda” dari tren de-influencer dibandingkan dengan konten influencer lainnya.
Meski tidak semua de-influencer melakukannya, ada saja yang secara sadar maupun tidak tetap mengusung spirit konsumerisme seperti influencer pada umumnya. Tujuannya tentu agar konten mereka tetap “menjual” di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Perbedaannya, komoditas yang direkomendasikan de-influencer biasanya ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah.
De-influencing mengulang pola lama tentang bagaimana budaya populer merespons krisis ekonomi dengan menciptakan konotasi yang positif.
Pada tahun 2008, komunitas blogger serta pelaku industri fesyen dan hiburan pernah memopulerkan “recessionista”, istilah untuk menyebut perempuan yang sadar pentingnya menghemat pengeluarannya ketika situasi ekonomi tidak pasti.
Lahir sebagai narasi kontras untuk sosok konsumen perempuan yang gemar berbelanja, recessionista pun kemudian diterima sebagai konotasi positif bagi orang yang bersedia untuk belajar menjadi konsumen yang lebih terukur dan realistis.
Menurut Moir, de-influencer saat ini sedang memerankan kembali sosok recessionista. Pada intinya, konsep de-influencer dan recessionista sama-sama menunjukkan bahwa ketika kondisi ekonomi berubah, budaya konsumerisme tidak otomatis menghilang.
Influencer dapat mencari cara agar kehadirannya tetap relevan di dunia konten digital dengan beradaptasi sebagai de-influencer yang menyesuaikan kondisi lapangan, sebagaimana konsumen fesyen dua dekade lalu memperkenalkan ulang dirinya sebagai recessionista. Melalui narasi yang mereka promosikan, konsumsi tidak dihentikan, akan tetapi dibuat seolah-olah lebih rasional melalui pilihan produk lebih murah.
Khususnya de-influencer, mereka berupaya membangun persona yang membumi dan dekat dengan warganet dengan memosisikan diri sebagai sesama korban dari konsumerisme berlebihan (overconsumption).
Di balik kritik yang bisa disematkan pada de-influencing, narasi ini tetaplah suatu realitas populer yang menyegarkan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Terlepas apakah kalangan de-influencer berhasil mengajak kita berhenti mengonsumsi produk baru sepenuhnya atau beradaptasi melalui kesadaran untuk downgrade dengan memilih produk yang lebih murah, kehadiran mereka tetap penting untuk mengingatkan kita pentingnya berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih