diajeng.id - Beberapa waktu lalu, warganet di media sosial ramai memperdebatkan konten-konten pamer kemewahan dan konsumerisme berlebihan dari kalangan influencer. Publik internet terpecah-belah dalam mengomentari isu tersebut.
Di tengah keadaan masyarakat Indonesia yang dihadapkan tantangan bertubi-tubi, dari bencana alam, kebakaran hutan, sampai gelombang PHK massal di berbagai industri, sebagian warganet beranggapan bahwa membagikan konten-konten pamer kemewahan dan konsumerisme berlebih adalah perilaku tidak peka dan tidak etis, atau istilah populernya tone-deaf.
Di sisi lain, sebagian netizen berpendapat bahwa influencer bebas untuk membuat konten apa pun, termasuk belanja berlebihan dan pamer kemewahan serta kekayaan, karena memang itulah pekerjaannya.
“Toh, mereka seperti ini untuk membantu UMKM,” kutip pemilik akun @watermealen di platform X.
“Kalau mereka mau konsumtif dan menikmati kapitalisme pake uangnya sendiri, ya, di mana salahnya? Kita kan nggak selalu harus mengikuti apa yang mereka lakukan?” demikian ucap akun @moendyah di X.
Overconsumption di Era Medsos
Overconsumption pada esensinya adalah praktik mengonsumsi sesuatu secara berlebihan.
Misalnya, hanya karena ingin menambah koleksi, kita memutuskan membeli sepasang sepatu baru meskipun sudah ada empat pasang sepatu lama yang masih berfungsi baik. Contoh lainnya, kita membeli lima botol parfum berbeda dengan dalih rotasi parfum, padahal kenyataannya dua jenis parfum untuk aktivitas sehari-hari sudah cukup.
Sekilas, overconsumption “tidak berbahaya” ketika dilihat sebagai pilihan pribadi; kita sebagai individu memutuskan untuk membelanjakan uang sendiri dan menikmati kebahagiaan dari membeli atau memakai produk tersebut.
Sudah tidak terhitung banyaknya konten berseliweran di media sosial tentang perilaku konsumerisme yang dibalut dalam persona sosok kaya raya; influencer yang menampilkan aktivitas liburan mewah ke luar negeri naik pesawat kelas bisnis atau sewa jet pribadi, merayakan ulang tahun dan selebrasi acara lewat pesta-pesta mewah yang memamerkan buket uang dengan nominal fantastis, atau yang cukup lazim ditemukan seperti unboxing iPhone terbaru.
Ada pula tren konten “How much I spend in a day/How much I spend on vacation”. Isi konten ini biasanya menunjukkan barang-barang merek premium seperti sepatu, baju, parfum hingga barang elektronik, yang dibeli si influencer secara “spontan” alias tanpa perencanaan saat berlibur ke luar negeri. Dalam tren konten ini, nominal pengeluaran belanja bisa menyentuh puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Tidak sedikit juga konten flexing berkedok review makeup dan produk kecantikan atau fesyen lainnya. Kita acap kali menjumpai konten-konten tersebut lewat thumbnail berjudul seperti, “Pakai makeup seharga 12 juta di Jepang/Haul makeup seharga 10 juta/August shopping haul!” tanpa ada satu pun penjelasan edukatif mengenai produk yang dibeli. Yang diungkapkan sering kali hanya nama brand, apakah warnanya sesuai selera, keunikan produk sebagai edisi terbatas, dan total pengeluaran.
Ramainya tren blind box Pop Mart juga menjadi ide konten flexing berkedok haul yang kerap diunggah influencer. Pop Mart adalah figur karakter mainan seperti boneka yang disimpan di dalam kotak misterius, sehingga pembeli tidak mengetahui karakter apa yang akan diperoleh.
Dari sinilah influencer mempromosikan aktivitas belanja yang pada satu titik menjadi tidak sehat. Satu Pop Mart harganya bisa berkisar antara Rp150 ribu sampai Rp750 ribu untuk seri populer atau edisi khusus. Karena sistemnya gacha alias acak, influencer bisa menghabiskan uang hingga belasan juta dari konten “Huge Pop Mart haul” dan “Unboxing Pop Mart rare edition”.
Sama seperti konten makeup atau produk kecantikan lainnya, konten-konten seputar Pop Mart tidak menjelaskan perbedaan setiap edisi dan karakter, tetapi harga per barang selalu disebutkan.
Sebagian pengguna media sosial memang bisa melihat konten-konten di atas sebagai hiburan atau entertainment semata untuk kesenangan pribadi.
Menurut laporan Bank Dunia pada tahun 2024, sebanyak 60,3 persen atau 171,8 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kategori ini mengacu pada batas garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income country), yaitu pengeluaran sebesar US$6,85 per kapita per hari atau setara Rp123 ribu dengan kurs hari ini.
Sementara melansir Tirto, CELIOS melalui data yang diolah dari Sakernas menemukan bahwa proporsi pekerja yang menerima upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR) melonjak dari 63 persen pada 2021 menjadi 84 persen pada 2024. Artinya, delapan dari sepuluh pekerja Indonesia menerima gaji di bawah standar penghidupan layak. Menurut catatan CELIOS, 109 juta pekerja diupah di bawah UMR.
Seiring itu, penggunaan internet semakin masif. Melansir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2024 pemakai internet di Indonesia sudah mencapai 221 juta dengan tingkat penetrasi internet menyentuh angka 79,5 persen. Mayoritas penggunanya adalah Gen Z (kelahiran 1997-2012) sebanyak 34,40 persen dan Milenial (kelahiran 1981-1996) sebanyak 30,62 persen.
Di tengah tingginya ketergantungan kita pada konten-konten internet dan kenyataan tentang masyarakat kelas pekerja yang tengah berjuang, popularitas konten influencer yang mempromosikan overcosumerism dan kemewahan sulit untuk dibiarkan sebagai angin lalu atau fenomena biasa belaka.
Di negeri Cina, pemerintah bahkan turun tangan. Pada 2024 silam, pemerintah Cina melalui regulator internet nasional Cyberspace Administration of China (CAC) meluncurkan kampanye Qinglang (Bersih dan Terang) untuk menertibkan konten-konten influencer di media sosial yang dinilai berlebihan dalam memamerkan harta kekayaan.
Melansir NBC News, CAC menindak para influencer yang “membangun persona gemar pamer kekayaan dengan sengaja memamerkan gaya hidup mewah demi menarik pengikut dan mendulang trafik”.
Tak lama setelah kampanye tersebut diluncurkan, akun platform konten video Douyin milik influencer Beijing yang disebut “Kim Kardashian-nya Cina”, Wang Hongquan, tidak bisa diakses oleh 4 jutaan pengikutnya karena “melanggar panduan komunitas Douyin”.
Selama ini, Wang yang mengaku punya banyak tujuh unit properti di Beijing, kerap memamerkan tas desainer dan koleksi perhiasan berlimpah. Akun media sosial influencer yang suka memamerkan konten serupa dengan jutaan pengikut, Bo Gongzi (Young Wealthy Lord Bai) Baoyu Jiajie (Abalone Sister), juga mengalami pemblokiran.
Kampanye tersebut berlangsung seiring masyarakat kelas menengah Cina mengalami perlambatan ekonomi dan kaum mudanya berjibaku dengan pasar kerja yang sangat kompetitif.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Meski kita memiliki pilihan untuk tidak mengikuti gaya hidup mewah yang ditampilkan di media sosial oleh para influencer, pada waktu sama penting bagi kita untuk melatih daya kritis agar dapat menyaring informasi yang berseliweran serta tidak menerima mentah-mentah gaya hidup boros dan penuh kemewahan yang ditampilkan.
“Kita harus melihat konten-konten ini sebagai bagian dari pekerjaan, teknik marketing, atau endorsement,” tegas Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Indah Sulistyorini, M.Psi, Psikolog, dalam rekaman suara untuk Diajeng pada Kamis (1/10).
Dalam konteks influencer, konten-konten mereka perlu ditinjau sebagai produk kerja alih-alih gambaran aktivitas sehari-hari. Yang influencer tampilkan, kata Indah, biasanya hanya sisi-sisi baik dan sukses karena memang konten seperti itulah yang dapat mengundang apresiasi serta penghargaan dengan cepat dari orang lain, atau istilahnya validasi eksternal. Namun faktanya, tidak ada satu pun manusia yang bahagia selama 24 jam nonstop.
Maka penting untuk membangun kepercayaan diri di tengah gempuran paparan konten yang menampilkan kesempurnaan berbalut konsumerisme serta kemewahan. Menurut Indah, setiap orang memiliki value, visi, dan misi hidup dengan kompleksitasnya masing-masing.
Selain itu, menyadari apa saja hal-hal yang kita butuhkan adalah kemampuan yang penting untuk diasah agar kita dapat menjalani hidup dengan tenang. “Supaya tidak terjebak di dalam social comparison atau perbandingan sosial,” kata Indah.
Ketika kita merasa FOMO (Fear of Missing Out) karena terpapar konten tentang promosi barang atau aktivitas dari influencer, Indah menyarankan untuk mengambil jeda setidaknya 1x24 jam, “Pastikan itu sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, sesuai dengan value yang kita miliki, sebelum kita akhirnya mengambil keputusan untuk benar-benar membeli barang itu atau melakukan gaya hidup itu.”
Saran lainnya dari Indah adalah dengan membatasi penggunaan media sosial atau mencoba praktik jurnaling dengan menulis hal-hal baik yang ada di kehidupan kita sehari-hari.
Alih-alih membandingkan diri dengan pertumbuhan orang lain, Indah menekankan pentingnya fokus ke diri sendiri, “Fokus untuk membandingkan dengan diri kita sendiri sebelumnya; apakah ada progres? Hargai setiap progres kecil yang sudah kita raih.”
Jika kita merasa tidak nyaman dengan konten yang beredar atau sulit mengendalikan kecenderungan doom-scrolling, Indah menyarankan untuk unfollow atau berhenti mengikuti update dari akun-akun influencer tertentu.
Bagaimana denganmu? Adakah saran dari Indah di atas yang sudah pernah kamu terapkan? Atau adakah strategi lain yang biasa kamu lakukan untuk merespons banjir konten influencer yang pamer kemewahan dan konsumerisme berlebihan?
Editor: Sekar Kinasih