diajeng.id - Fitness center atau pusat kebugaran seperti gym dan lapangan olahraga semakin mudah kita temukan di berbagai sudut kota-kota besar maupun daerah yang tengah berkembang.
Rentech Digital menghitung setidaknya ada 12.038 gym yang tersebar di seluruh Indonesia pada 2026, meningkat 2,87 persen dalam tiga tahun.
Pertumbuhan pesat juga terlihat pada lapangan untuk olahraga kompetitif yang sedang naik daun, padel. Menurut data Core & Court, jumlahnya meningkat dari 240 menjadi 947 lapangan dalam kurun 2024-25. Mayoritas dibangun di Jakarta.
Di samping fakta tentang gencarnya pembangunan fasilitas olahraga, kita semakin sering menjumpai konten di akun media sosial teman atau influencer berisi foto atau video saat yoga, poundfit, lari, pilates, dan padel—yang semakin populer berkat komunitasnya yang menjadikan setiap olahraga tersebut bagian dari gaya hidup dan identitas masyarakat urban modern.
Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan HYROX, kompetisi kebugaran yang dipopulerkan dari Hamburg, Jerman sejak 2017.
HYROX mengombinasikan olahraga lari dan latihan kekuatan otot. Sepanjang 8 km landasan lari dan 8 pos olahraga, para partisipan HYROX harus berlomba-lomba menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatannya. Bukan hanya cepat, setiap peserta ditargetkan untuk menuntaskannya dengan teknik yang tepat.
Alasan dan Dorongan Berolahraga
Putri (21) di Semarang tertarik mengikuti pilates usai melihat olahraga ini banyak berseliweran di FYP TikTok-nya.
Pengalaman pertamanya mencoba pilates adalah lewat uji coba gratis di kelas pilates dekat tempat tinggalnya. Menurut Putri, pilates sebenarnya tidak menuntut gerakan-gerakan yang sulit berlebihan. Meski begitu, efeknya tetap terasa di badan.
Putri mengikuti pilates di kelas yang memiliki trainer untuk mengarahkan gerakan tubuhnya. Keberadaan trainer membantu Putri untuk lebih mengondisikan tubuhnya, bagian mana yang perlu digerakkan atau direlaksasi, dalam posisi-posisi yang benar.
Pilates yang dirutinkan Putri selama setahun terakhir ini membantunya menyadari esensi gerak tubuh di kehidupan sehari-hari. Otot bagian tengah seperti perut, pinggul, dan pinggang khususnya, merupakan titik yang menurut Putri harus dijaga selalu kekuatannya.
Bagi Putri, pilates telah berhasil mendorongnya untuk lebih memerhatikan dan mengasihi diri secara fisik maupun psikis.
Sementara itu, Agatha (25) di Yogyakarta bercerita awal mulanya merutinkan berolahraga adalah sekadar untuk mengisi waktu luang.
Saat masih jadi mahasiswa tingkat akhir, Agatha tertarik mengikuti senam. Agatha juga rajin berolahraga di rumah semasa pandemi COVID-19. Dari situ, Agatha mulai menumbuhkan minat pada olahraga yang menargetkan strength-training atau latihan kekuatan otot.
Selama tiga tahun terakhir, Agatha bekerja menjadi pelatih kebugaran di gym di daerah Sleman.
Profesi sebagai pelatih kebugaran mendorong Agatha untuk selalu giat berolahraga. Dengan rutin berolahraga, Agatha merasa lebih segar, bugar, dan tidak gampang terkena penyakit.
Kesehariannya menjadi lebih mudah dinikmati setelah rajin berolahraga. Agatha juga merasa lebih bisa mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak.
Agatha yang memiliki klien usia remaja hingga lansia ini berkeinginan menjangkau lebih banyak orang untuk latihan kebugaran dan mempromosikan gaya hidup lebih sehat.
Selain Agatha, Syihab (34) di Sidoarjo juga berprofesi sebagai pelatih kebugaran di gym. Belakangan ini, Syihab sedang berfokus pada aktivitas HYROX. Menurut Syihab, HYROX menawarkan tantangan yang lebih beragam daripada olahraga lain.
“Strength training biasa fokus pada repetisi beban dan set, sedangkan HYROX menggabungkan kekuatan strength dengan endurance. Yang unik adalah kita harus lari 1 km sebelum dan setelah menghajar otot dengan beban di setiap station. Ini bukan cuma menguji otot kita, tapi ketahanan jantung dan mental secara bersamaan. HYROX adalah tes nyata seberapa fungsional tubuh kita sebenarnya,” papar Syihab tentang alasannya tertarik pada HYROX.
Aktivitas HYROX yang mengerahkan banyak energi juga berperan dalam melatih kedisiplinan Syihab.
Selain itu, Syihab mengaku, dirinya sempat tidak suka olahraga lari. Namun, demi memaksimalkan performa saat HYROX, Syihab mulai menekuni teknik berlari yang benar.
HYROX membantu Syihab untuk meningkatkan daya tahan jantung serta stamina tubuh. Sesi-sesi latihan HYROX, menurut Syihab, sangat menantang lantaran menuntut setiap orang untuk mampu menjaga ketenangan diri saat otot bekerja keras dan detak jantung meningkat.
Komunitas HYROX yang diikuti Syihab juga menjadi alasan lain untuknya terus berolahraga. Anggota-anggota di komunitas HYROX adalah pendukung bagi satu sama lain saat berlatih bersama dan bertanding.
Yang Muda, Yang Lebih Mau Berolahraga?
Di balik berbagai benefit luar biasa dari aspek fisiknya, tren aktivitas padel, pilates, HYROX, lari, yoga, dan berbagai olahraga populer lain kerap dikaitkan dengan gaya hidup mewah lantaran membutuhkan fasilitas yang tidak murah—sewa lapangan, jasa pelatih dan kursus, alat dan perlengkapan pendukung, busana stylish yang awet, serta anggaran ekstra untuk mendukung keikutsertaan dalam berbagai kompetisi.
Liputan BBC pada Januari lalu mengungkap bahwa HYROX sangat populer di kalangan Milenial dan Gen Z atau mereka dengan rentang usia 20 sampai 40-an tahun.
Perempuan asal Inggris berusia 29 tahun, Allana Falconer, jatuh cinta pada HYROX sejak tiga tahun terakhir.
Begitu terobsesinya pada olahraga ini, Allana bahkan rela mengeluarkan dua ribu Poundsterling atau nyaris Rp50 juta untuk biaya perjalanan dan partisipasi dalam HYROX World Championships di Chicago, Amerika Serikat tahun lalu.
Namun, nyatanya, generasi muda sekarang memang lebih niat dan berminat untuk berinvestasi lebih besar pada kesehatannya.
Menurut riset Bank of America Global Research yang dirilis awal 2026 lalu, mayoritas Gen Z dan sebagian Milenial sekarang lebih mengutamakan pengeluaran untuk menjajal “experiences” alias pengalaman daripada sekadar duduk-duduk minum sambil mengobrol.
Sebaliknya, peningkatan pengeluaran untuk minum-minum di bar lebih banyak terjadi pada generasi lebih tua.
Aplikasi digital pendamping aktivitas olahraga Strava dalam laporannya pada Desember 2025 juga mengungkap temuan menarik berdasarkan survei yang melibatkan 30 ribu orang.
Hasilnya, sebanyak 64 persen responden Gen Z mengaku rela menghabiskan uangnya untuk perlengkapan olahraga daripada urusan kencan.
Dibandingkan generasi di atasnya, jauh lebih banyak responden Gen Z yang memanfaatkan kebugaran untuk cari jodoh dengan minat serupa.
Ya, selain alasan kebugaran, asmara dan berjejaring menjadi alasan kalangan muda untuk berolahraga.
“Gen Z juga pergi ke gym untuk bertemu calon pasangan maupun memperluas lingkaran pertemanan. Meski menghabiskan banyak waktu di media sosial, mereka tetap perlu ruang untuk berinteraksi secara langsung, dan gym menawarkan pengalaman tatap muka yang tidak bisa diberikan oleh dunia virtual,” terang David Minton, pendiri firma analis Leisure Database, kepada The Guardian tahun 2025 lalu.
Temuan ini semua mengindikasikan bahwa cara generasi muda bersosialisasi mulai bergeser. Kalau dulu kebanyakan interaksi sosial terjadi lewat pertemuan-pertemuan kasual di kafe atau bar, kini semakin banyak relasi yang dibangun dari perjumpaan di pusat kebugaran atau ruang-ruang aktivitas yang mendukung gaya hidup sehat.
Selain itu, fenomena “fitness craze” ini semakin menegaskan keberagaman tren FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan muda.
Di samping FOMO yang lazimnya beririsan dengan konsumsi terkait fesyen (tas bermerek), mainan (boneka Labubu), atau kuliner (olahan minuman matcha dan berbagai gaya hidup minum kopi), kini gejolak FOMO juga tecermin dari ambisi untuk senantiasa menjaga kebugaran dan kesehatan.
Meskipun FOMO acap kali dipandang sebagai fenomena yang mendorong perilaku konsumtif, FOMO di dunia olahraga memiliki karakter yang sedikit berbeda.
Poin-poin itulah yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat langsung bagi kesehatan dan kebugaran diri.
Respons terhadap Dunia yang Tak Pasti
Psikolog Smriti Joshi menjelaskan bahwa tren olahraga belakangan ini mustahil dipisahkan dari realitas tentang krisis yang bertubi-tubi menghantam keseharian generasi muda masa kini.
“Bagi generasi yang menghadapi tantangan lapangan kerja kompetitif, biaya hidup meroket, dan mulai kehilangan keyakinan terhadap pencapaian-pencapaian tradisional seperti jenjang karier atau hubungan asmara, gym menawarkan sesuatu yang terasa langka: sense of agency—perasaan bahwa mereka mempunyai kendali atas hidupnya,” kata Joshi dikutip dari Refinery29.
Ketika kondisi di luar sana terasa tidak menentu, Joshi berkata, wajar jika kita ingin mencari aktivitas yang memberikan hubungan jelas antara usaha dan hasil kemajuan, termasuk salah satunya melalui kegiatan berolahraga.
Nah, bagaimana denganmu? Apa jenis olahraga yang belakangan ini kamu tekuni? Bagaimana kamu memaknainya untuk perkembangan diri pribadi dan hubungan sosialmu?
Editor: Sekar Kinasih