diajeng.id - Malam Ramadhan biasanya lebih sunyi daripada siang hari. Seusai tarawih, ketika tubuh seharusnya mulai beristirahat, justru mata terasa enggan terpejam.
Di dalam kamar yang lampunya sudah mati, pikiran masih saja berkutat dengan berbagai hal yang sama, seperti pekerjaan yang belum aman, keperluan rumah tangga yang terus bertambah, bagaimana hasil cek darah yang tadi dilakukan, atau masa depan yang belum jelas arahnya.
Hal-hal yang sedari tadi siang masih bisa ditunda tiba-tiba muncul di kepala secara silih berganti, seolah-olah menuntut untuk diselesaikan saat itu juga.
Hati pun jadi lelah bukan karena hari yang panjang, melainkan karena isi kepala yang tak kunjung beristirahat.
Dalam Surah Al-Insyirah, ada pengingat bahwa kesulitan dan kemudahan sering hadir bersamaan. Dalam konteks ini, kemudahan tidak muncul setelah segala kesulitan terurai, melainkan di sela-selanya.
Kita sering sekali merasa cemas pada kemungkinan di masa depan. Padahal, hari ini masih bisa dijalani pelan-pelan.
Dengan fokus pada hal-hal yang bisa kita jalani saat ini, ketenangan bisa muncul perlahan. Di tengah ruang yang terasa sempit, masih ada celah kecil untuk bernapas.
Laman Psych Central menjelaskan, ketika kita menyebut overthinking, maka kita sedang berbicara tentang pola pikir yang berulang-ulang tanpa henti.
Misalnya, memutar ulang percakapan yang sudah lewat, membayangkan skenario terburuk, sulit mengambil keputusan, atau bahkan sulit tidur karena isi kepala tak kunjung "berhenti" berspekulasi.
Itulah gejala yang sering muncul ketika pikiran kita terus-menerus mengevaluasi segala kemungkinan alias terjebak dalam lingkaran analisis berlebihan.
Secara psikologis, seperti disebut Nick Wignal dalam artikel berjudul "7 Psychological Reasons You Overthink Everything" ada alasan di balik kebiasaan ini.
Otak yang sejatinya dirancang untuk melindungi kita, sering kali mencoba mengontrol ketidakpastian dan berusaha memberikan rasa aman melalui pikiran, sehingga kecemasan terasa seperti persiapan menghadapi segala potensi risiko.
Ada juga keinginan untuk selalu tampil sempurna. Akibatnya, kita akan terus menimbang-nimbang setiap kemungkinan, jadi merasa takut untuk membuat kesalahan, dan memiliki dorongan kuat untuk merasa aman di dunia yang tidak pernah pasti.
Di satu sisi, dalam banyak kasus, pikiran kita sedang tidak berusaha memecahkan masalah. Pikiran malah sedang mencari kepastian yang tidak bisa diberikan.
Kita kerap mengira bahwa berpikir terus akan membuat hati menjadi tenang. Padahal, kepala yang terlalu keras berpikir justru berpotensi membuat kita terjerembab dalam lubang kecemasan.
Pikiran yang awalnya ingin mencari jalan keluar perlahan berubah menjadi mesin pencari kepastian, dan itu merupakan sesuatu yang memang tidak selalu tersedia. Di titik ini, kita bukan sedang menyelesaikan masalah, melainkan semakin menambah rasa takut terhadapnya.
Ada beberapa latihan praktis yang bisa membantu ketika pikiran terasa melaju tak terkendali.
Tujuannya bukan untuk “menghilangkan” kecemasan, tetapi untuk memberi ruang pada hati dan otak untuk berhenti sejenak.
Berikut tahapannya yang dirangkum Diajeng dari situs Better Up dan Harvard Health.
Pertama, cobalah memberi nama pada pikiran yang sedang muncul.
Ketika rasa cemas datang, katakan pada diri sendiri dengan jujur, misalnya, “Aku cemas tentang pekerjaan besok,” atau, “Aku merasa takut skenario terburuk akan terjadi.”
Menamai pikiran membantu kita melihatnya sebagai pengalaman yang lewat, alih-alih kebenaran absolut yang harus dituruti terus-menerus.
Kedua, batasi waktu untuk memikirkan masalah itu.
Daripada membiarkan pikiran berkeliaran tanpa arah di malam Ramadhan, tetapkan “waktu khawatir” misalnya 10-15 menit saja.
Di luar itu, kembalikan perhatian ke hal yang nyata seperti napas, berjalan perlahan, atau aktivitas ringan, seperti minum segelas air, merapikan tempat tidur, atau membaca beberapa ayat.
Kamu juga bisa menuliskan kekhawatiran yang muncul, lalu secara sadar menutup catatan itu setelah selesai. Langkah ini bisa memberkani sinyal pada otak bahwa waktu “berpikir” sudah usai untuk sementara.
Terakhir, fokuslah pada tindakan kecil yang bisa dilakukan hari ini. Betapa pun sederhana, seperti mengirim pesan pada teman, menyelesaikan satu tugas kecil, atau bahkan istirahat sejenak.
Melalui latihan-latihan ini, kita tidak berusaha menghapus ketidakpastian. Kita belajar menerimanya.
Dengan menerima bahwa tidak semua jawaban tersedia sekarang, kita belajar memberi ruang bagi ketenangan untuk muncul pada waktunya, tanpa memaksa semua kemungkinan selesai sekaligus.
Semua problematika itu tetap ada, bahkan mungkin terasa lebih "nyata" saat suasana sedang senyap.
Namun justru di situlah Ramadhan bekerja dengan caranya sendiri. Ramadhan tidak serta-merta melenyapkan masalah, tetapi memberi ruang agar hati kita tidak tenggelam di dalamnya.
Simak juga artikel lain terkait Ramadhan di sini.
Editor: Sekar Kinasih