diajeng.id - “Dialah “cool girl—gadis keren”. Gadis keren itu seksi. Gadis keren itu menarik. Gadis keren itu menyenangkan. Gadis keren tidak pernah marah pada kekasihnya. Dia hanya tersenyum malu-malu, penuh kasih, dan membiarkan laki-laki melakukan apapun yang mereka mau. Dia menyukai apapun yang disukai kekasihnya.”
Demikian petikan monolog tentang “cool girl—gadis keren” yang disampaikan oleh tokoh utama Amy Dunne (diperankan aktris Rosamund Pike) dalam film Gone Girl (2014).
Persona sebagai “cool girl” itulah yang Amy poles di wajahnya selama lima tahun ia hidup bersama suaminya, Nick.
Nyatanya, Amy sudah gerah dengan topeng “cool girl” dan bersiap untuk melepasnya.
“Laki-laki benar-benar mengira bahwa gadis seperti itu nyata adanya. Mungkin mereka tertipu karena begitu banyak perempuan yang bersedia berpura-pura menjadi gadis ini.”
Namun, sebelum itu, ia masih ingin balas dendam atas jati dirinya yang hilang selama menjalani pernikahan yang dipenuhi oleh kepura-puraan tersebut.
“Aku mau mendudukkan laki-laki ini dan bilang, kamu tidak mengencani seorang perempuan biasa, melainkan perempuan yang kebanyakan nonton film yang naskahnya ditulis oleh laki-laki yang canggung dalam bersosialisasi, yang ingin percaya bahwa perempuan seperti ini ada dan mungkin mau mengecup mereka,” lanjutnya.
Terlepas dari drama yang kelak ditimbulkannya, perilaku dan pemikiran Amy pada titik tertentu membuat pemirsa perempuan tergugah dan berempati padanya, terutama karena Amy diselingkuhi setelah sekian lama berupaya jadi pasangan ideal bagi suaminya.
Tokoh Amy mewakili perempuan yang terlena oleh citra “cool girl” yang marak berseliweran di layar bioskop, siaran televisi, dan halaman novel-novel populer.
“Cool girl” punya ciri-ciri khas yang sangat mudah dikenali dalam berbagai karakter.
Mulai dari karakter Susan dalam komedi klasik Hollywood Bringing Up Baby (1938) yang bisa menjinakkan macan tutul, Mary dalam romcom There’s Something About Mary (1998) yang suka makan dan sepak bola, Donna dari That 70s Show (1998-2006) yang jago bergulat, Robin dalam sitcom How I Met Your Mother (2005-14) yang merokok cerutu, Kate dalam serial Lost (2004-10) yang tidak suka warna pink, Mikaela dari film Transformers (2007) yang paham seluk-beluk mesin mobil, sampai Black Widow dari Marvel Cinematic Universe yang mampu mengalahkan teman-temannya di klub Avangers jika dia memang mau melakukannya.
Meskipun muncul dalam bentuk yang berbeda-beda dengan karakteristik maskulin yang berbeda pula, mereka memiliki satu kesamaan: digambarkan jauh lebih atraktif dan menarik daripada perempuan-perempuan lain di sekitarnya.
“Laki-laki pembuat film memutuskan bahwa perempuan yang bangga dengan feminitasnya itu buruk. Bahwa menyukai warna pink adalah hal yang buruk, bahwa perempuan yang lembut adalah perempuan yang lemah, dan menjadi ‘one of the guys’ jauh lebih baik daripada memiliki teman sesama perempuan," tulis RJ Edrolin, mahasiswa studi perfilman dalam esainya yang berjudul “Women Written By Men: The Male Gaze & An Exploration of the ‘Cool Girl’ Character Trope”.
Bukan tidak mungkin, kelompok perempuan muda atau remaja perempuan yang disuguhi karakter fiksi tersebut jadi berpikiran bahwa menonjolkan sisi feminin adalah keputusan yang keliru karena membuat mereka tidak terlihat keren di mata kebanyakan laki-laki.
Belum lagi, ketika figur publik seperti Jennifer Lawrence, Olivia Munn, dan Blake Lively digadang-gadang karena membangun persona publiknya berdasarkan atribut-atribut “cool girl”. Akibatnya, trope yang seharusnya tetap berada di ranah fiksi ini pun jadi “nyata” dan “bernyawa”.
Tentu saja, setiap perempuan berhak untuk memilih bergaya tomboy, menikmati pertandingan sepak bola, tidak mau pakai baju warna pink, mengendarai mobil balap, dan jarang merias wajah. Pertanyaannya, perlukah pilihan tersebut diambil demi menjadi “cool girl” yang disukai oleh laki-laki?
Julie S. Lalonde, aktivis hak-hak perempuan asal Canada, menjelaskan bagaimana perempuan bisa menjadi terbiasa dengan produk-produk patriarki yang mengadu domba perempuan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.
“Ada gagasan bahwa jika kamu menjauhkan diri dari perempuan lain dan memihak laki-laki, mereka tidak hanya akan 'memilihmu’, tetapi juga memperlakukanmu dengan rasa hormat yang sama seperti yang mereka tunjukkan kepada teman-teman mereka,” ujar Lalonde dikutip dari HuffPost.
Fenomena itulah, kata Lalonde, yang disebut dengan “proximity to power—kedekatan dengan kuasa”. Sederhananya, dengan mendekati orang-orang atau kelompok berkuasa, kita juga akan dapat akses untuk menikmati serpihan kuasa mereka.
Lebih lanjut, penulis novel Gone Girl, Gillian Flynn, juga menyebut bahwa perempuan dalam hubungan romantis memiliki kecenderungan untuk menyenangkan laki-laki dan ingin dianggap sebagai “cool girl”.
Menurut pandangan subjektif Flynn, ada banyak perempuan yang berusaha keras untuk membahagikan kekasihnya. Di sisi lain, pihak laki-laki tidak akan pernah mau belajar menjahit, merajut, atau pergi ke studio yoga untuk memahami perempuannya.
Asumsi Flynn menjadi masuk akal ketika dikaji dalam kerangka kultur androsentris—kultur yang berpusat pada laki-laki—yang sudah pernah dikonsepkan lebih dari satu abad lalu oleh feminis asal AS, Charlotte Perkins Gillman.
Dalam esai panjang Our Androcentric Culture, The Man Made World (1911), Gillman menuturkan bagaimana pada umumnya “masyarakat” terdiri atas lebih banyak perempuan. Artinya, mereka berperan besar dalam memutar roda-roda fungsi kehidupan bermasyarakat.
Nah, yang memprihatinkan, pada waktu sama, perempuan dianggap telah “membentuk dan mengendalikan masyarakat”.
Menurut Gillman, hal tersebut sama saja seperti menyalahkan perempuan atas keberadaan harem.
Pendeknya, kultur androsentris menempatkan nilai, pandangan, dan pengalaman laki-laki sebagai prioritas sehingga karakteristik laki-laki dan maskulinitas menjadi standar yang mutlak.
Maka dari itu, perempuan yang memiliki karakteristik maskulin akan dianggap superior, sedangkan laki-laki yang melakukan hal-hal feminin akan direndahkan—persis seperti bagaimana trope “cool girl” menggambarkan karakter-karakter perempuan yang kompleks dan feminin lebih inferior dibandingkan “cool girl”.
Inilah mengapa bos-bos perempuan dan perempuan karier lainnya acap kali disandingkan dengan frasa “girl boss”.
Mereka dianggap cukup “maskulin” untuk dapat mencapai posisi puncak, akan tetapi perlu terus diingatkan bahwa mereka hanyalah seorang “gadis” dalam budaya androsentris.
Sama seperti Amy, kita mungkin menganggap label dengan embel-embel "-girl" demikian sebagai pujian.
Beberapa dari kita mungkin juga merasa bangga ketika disebut “tidak seperti perempuan lainnya”—tidak sadar bahwa ucapan ini sebenarnya berkembang dari misogini yang mengadu domba perempuan.
Misalnya, ada laki-laki yang memanggil kekasihnya “kalem” atau “tenang”. Bukan tidak mungkin, panggilan sayang demikian menjadi cara untuk mendorong perempuan agar menurunkan ambisinya dan tidak banyak menuntut.
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh gadis yang tumbuh dewasa dengan menyaksikan banyak karakter “cool girl”?
Bhat menyarankan, dia perlu menggali kembali identitas dan perasaannya.
“Dia harus paham perasaannya yang sebenarnya, kemudian membantu melatih orang-orang di sekitarnya, termasuk teman laki-laki dan perempuannya, agar paham bahwa dia tidak bisa diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan stereotip norma yang ada,” ujar Bhat pada The Nod.
Bagaimana pun, trope “cool girl” tidak akan pernah realistis. Identitas dan feminitas perempuan jauh lebih kompleks daripada stereotip-stereotip yang dipropagandakan dari gemerlap bilik-bilik studio Hollywood.
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih