Menuju konten utama
Citra Perempuan di Medsos

Saat Perempuan Saling Menyudutkan: Refleksi dari Tren "Pick-Me"

Konten viral di medsos yang mengejek perempuan berkelakuan “pick-me” mencerminkan kuatnya sikap permusuhan antarperempuan. Mengapa bisa begitu?

Saat Perempuan Saling Menyudutkan: Refleksi dari Tren
Header Diajeng Serial Pick Me Girl. tirto.id/Quita

diajeng.id - Bagi para penikmat hiburan di TikTok atau Instagram, sosok Riri Bichri mungkin tidak terdengar asing.

Influencer asal Amerika Serikat ini terkenal berkat konsistensinya memproduksi konten video impersonasi tentang perempuan dengan kelakuan “pick-me”.

Melalui video-videonya, Riri meniru perilaku perempuan yang ingin memaksakan pakai kaos oblong olahraga saat pernikahan temannya karena malas berdandan, perempuan yang ogah-ogahan ikut temannya berbelanja, sampai perempuan yang ingin memonopoli teman-teman laki-lakinya ketika mereka bermain video game.

Sudah tentu, Riri bukanlah satu-satu impersonator “pick-me girl”. Di ruang digital yang tak berujung, masih banyak perempuan lain yang mengeksplorasi tema konten serupa.

Seiring itu, kolom komentar dari konten-konten tersebut dipenuhi oleh perempuan. Mereka kompak memberikan persetujuan atas perilaku menyebalkan perempuan-perempuan berkeluakuan “pick-me”.

Konten semacam ini terus direproduksi, diulang, dan dengan mudah diterima sebagai “kebenaran” bagi pengguna media sosial yang memang menikmati ragam hiburan demikian.

@riribibi_

Replying to @riribibi_ i dont know why he left right after 🥺 #pickme#quirky

♬ Kiss Me - Sixpence None The Richer

Yang disayangkan, tren viral “pick-me” tersebut perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam daftar istilah yang merendahkan dan melecehkan perempuan.

“Kehadiran sandiwara semacam itu di TV dan media sosial memungkinkan semua orang untuk terus menambahkan daftar keluhan yang mengkritik ‘pick-me girl’, sampai-sampai semua kriteria bisa dihitung sebagai ‘pick-me’. Pada akhirnya, tren ini semakin melanggengkan seksisme yang begitu dikecam keras,” demikian disampaikan dosen Critical Race Gender and Culture Studies dari American University Washington DC, Christina Riley.

Pertanyaan yang muncul kemudian, dalam konteks “pick-me”, mengapa perempuan dapat bersikap keras dan kasar terhadap sesama perempuan?

Selain itu, apa yang membuatnya jadi lebih mudah bagi komunitas konten kreator untuk memproduksi materi yang isinya mengolok-olok perempuan, alih-alih menciptakan ruang diskusi dan kritik yang membangun?

Apa yang terjadi pada fenomena “pick-me” ini bisa disebut sebagai “internalized mysogyny”—misogini yang terinternalisasi.

Perspektif misogini ternyata tidak hanya diadopsi oleh kalangan laki-laki, melainkan juga sesama perempuan.

Inilah konseksuensi dari penindasan terhadap perempuan yang telah mengakar kuat selama berabad-abad.

Perempuan yang mengidap “internalized misogyny” akan memproyeksikan ide-ide dengan unsur seksisme kepada sesama perempuan. Kemudian, terciptalah rivalitas di dalam kelompok.

Topik rivalitas tentang perempuan pernah diteliti oleh Kira K. Means dalam studi untuk tesisnya, Not Like Other Girls: Implicit and Explicit Dimensions of Internalized Sexism (2021).

Means membuka risetnya dengan kutipan Olivia Caridi—kontestan reality show asal Amerika Serikat The Bachelor pada musim ke-20 atau tahun 2016—mengenai dirinya sendiri.

“Rasanya berat untuk terhubung [dengan perempuan lain]. Semua orang di sini sangat tertarik dengan, kalian tahu sendiri, mengecat kuku dan merapikan rambut satu sama lain. Itu bagus-bagus saja, tapi aku berbeda. Aku suka baca buku dan, yah, berpikir. Itu yang kulakukan,” jelas Caridi.

Pernyataan Caridi tentang perempuan-perempuan selain dirinya di The Bachelor tersebut menggemakan pandangan yang kerap menuding perempuan sebagai makhluk dangkal dan malas berpikir serius.

Menariknya, Means menemukan beberapa responden, yang seluruhnya perempuan, menyetujui stereotip yang beredar tentang gender mereka.

Sejumah 77 persen pemirsa The Bachelor nyatanya adalah perempuan, yang kemungkinan besar turut menghujat Caridi.

Pada era sekarang, akan mudah bagi netizen untuk menuding Caridi sebagai “pick-me girl”.

Toh, nyatanya, Caridi kelak menyandang peran sebagai “primary villian” alias penjahat utama selama kontestasi berlangsung.

Perspektif Caridi mengenai perempuan tentu saja salah kaprah. Namun, pada waktu sama, mengolok-olok dan mengejek pandangannya bukanlah hal yang tepat.

Dalam wawancara dengan Refinery29, julukan “villian” hingga tudingan-tudingan jahat lain sempat membuat Caridi memiliki tendensi untuk mengakhiri hidupnya seusai acara tayang.

Dalam pembelaannya, ia mengaku menjadi korban dari “evil editing” yang dilakukan produser serial untuk mencari sosok penjahat di musim tersebut.

Ya, karakter perempuan jahat dalam sebuah acara televisi dengan audiens terbesar perempuan bukanlah hal baru.

Hanya saja, alih-alih mempertanyakan dan mengkritisi pilihan produser, lebih mudah bagi kita untuk menemukan komentar menghujat dari sesama perempuan.

Pola berulang seperti ini sudah selayaknya dihapuskan. Namun, membuat konten dengan tema utama permusuhan antarperempuan kemungkinan besar memang lebih memikat banyak penonton dan lebih menguntungkan dari lensa bisnis.

Paparan tontonan televisi hingga konten media sosial tentang perseteruan perempuan versus perempuan ini secara tidak langsung berkontribusi menanamkan “internalized mysogyny”.

Sorana-Alexandra Constantinescu dalam studinya yang terbit di jurnal Research on Social Change (2021) menengarai bagaimana “internalized mysogyny” tidak hanya muncul terang-terangan, seperti dalam kasus The Bachelor, akan tetapi juga dapat ditemukan di mana saja dengan cara yang lebih halus, termasuk di dalam ragam teori gender.

Lalu, bagaimana bisa perspektif misogini sampai menjangkiti perempuan?

Terkait hal ini, Constantinescu berpendapat seperti berikut.

“Salah satu penjelasan paling masuk akal adalah perempuan takut kehilangan penghargaan sosial (dalam bentuk penerimaan yang disertai dengan mengadopsi sikap dominan). Self-stereotyping juga berfungsi untuk meningkatkan kepercayaan diri pribadi dan kelompok,” tulis Constantinescu.

“Self-stereotyping” terjadi ketika seseorang dari satu kelompok tertentu mendeskripsikan dirinya sendiri sesuai label atau stereotip negatif yang melekat pada kelompoknya.

Dalam konteks ini, perempuan akan berperilaku sesuai label-label yang diharapkan oleh masyarakat di sekitarnya agar, misalnya, dapat menjadi “perempuan sejati”.

Kontrol sosial semacam inilah yang kelak membuat beberapa perempuan merasa takut atau khawatir akan dilabeli sebagai, contoh gamblangnya, feminis yang pemberontak.

Ke depan, istilah dan narasi yang menyudutkan perempuan bisa jadi akan terus bermunculan. Sejumlah perempuan yang kita kenal pun mungkin akan ikut andil menggaungkannya.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk melawan balik narasi-narasi tersebut dan menghalau potensi bahayanya?

Tidak ada cara lebih tepat selain mendorong diri untuk terus belajar menyelami dimensi lain dari tren-tren yang berlalu-lalang di jagat medsos dan senantiasa melatih kemampuan berpikir kritis.

Jangan sungkan juga untuk mengedukasi orang-orang terkasih, sahabat, dan keluarga di sekitar kita agar tidak menormalisasi sikap-sikap yang keras, apalagi menyudutkan, ke sesama perempuan.

Setuju?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih