diajeng.id - Setelah melahirkan, perhatian ibu biasanya lebih banyak tertuju pada pemulihan tubuh dan kebutuhan si Kecil. Namun, urusan kontrasepsi juga tetap perlu dipertimbangkan, terutama bagi ibu yang masih menyusui.
Pemilihan alat atau metode KB tidak bisa dilakukan sembarangan karena perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebutuhan, serta masa menyusui. Lantas, apa saja pilihan KB yang aman untuk ibu menyusui, tips memilihnya, dan kapan waktu yang tepat untuk menggunakannya?
Tips Memilih KB untuk Ibu Menyusui agar Aman
Berikut tips memilih KB yang cocok untuk ibu menyusui.
- Kenali efek sampingnya, seperti perubahan siklus haid, sakit kepala, perdarahan, kenaikan berat badan, atau penurunan gairah seksual.
- Pilih KB yang tidak mengganggu ASI jika masih menyusui.
- Konsultasikan dengan dokter, terutama jika memiliki kondisi seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.
- Gunakan secara rutin dan sesuai jadwal, terutama untuk pil atau KB suntik.
- Periksa kembali ke dokter jika muncul efek samping yang mengganggu agar metode KB bisa disesuaikan.
Rekomendasi KB yang Aman untuk Ibu Menyusui
KB apa yang bagus untuk ibu menyusui? Ada beberapa pilihan kontrasepsi yang dapat digunakan selama masa menyusui. Namun, setiap metode memiliki kelebihan dan pertimbangan yang berbeda. Berikut beberapa rekomendasi KB yang bisa dipertimbangkan oleh ibu menyusui.
1. Kondom
Kondom menjadi salah satu pilihan kontrasepsi yang praktis bagi ibu menyusui karena tidak memengaruhi produksi ASI. Selain mencegah kehamilan, kondom juga dapat membantu melindungi dari penularan infeksi menular seksual.
Jika menggunakan pelumas, pilih yang berbahan dasar air karena pelumas berbahan minyak dapat merusak kondom.
2. Implan Progestin

KB implan dipasang di bawah kulit lengan dan bekerja dengan melepaskan hormon progestin secara perlahan. Satu implan dapat memberikan perlindungan hingga sekitar 3 tahun sebelum perlu diganti.
Meski praktis dan berjangka panjang, penggunaannya dapat membuat pola menstruasi menjadi tidak teratur pada sebagian ibu.
3. Pil KB Progestin

Pil yang hanya mengandung progestin dapat menjadi pilihan bagi Busui, termasuk yang memberikan ASI eksklusif. Penggunaannya perlu dilakukan secara rutin setiap hari pada waktu yang sama.
Jika terlambat mengonsumsi pil lebih dari batas waktu yang dianjurkan, efektivitasnya dapat menurun sehingga perlu mengikuti petunjuk penggunaan tambahan.
4. IUD atau Spiral

IUD merupakan alat kontrasepsi berbentuk T yang ditempatkan di dalam rahim. Metode ini dapat memberikan perlindungan jangka panjang, sekitar 5–10 tahun tergantung jenisnya, dan dapat dilepas kapan saja ketika ingin kembali merencanakan kehamilan.
Setelah pemasangan, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan posisinya tetap tepat.
5. Amenore Laktasi
Menyusui secara eksklusif juga dapat menjadi metode kontrasepsi alami yang disebut amenore laktasi. Namun, efektivitasnya bergantung pada beberapa syarat, seperti bayi berusia kurang dari 6 bulan, belum kembali menstruasi, serta menyusui langsung secara rutin tanpa jeda panjang. Karena cukup banyak ketentuannya, metode ini tidak selalu menjadi pilihan utama.
6. Suntik KB Progestin

Suntik KB yang mengandung progestin umumnya dapat digunakan sekitar 6 minggu setelah persalinan dan perlu diulang setiap 13 minggu. Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah kembalinya kesuburan setelah berhenti menggunakan metode ini bisa membutuhkan waktu lebih lama.
Penggunaan dalam jangka panjang juga perlu didiskusikan dengan dokter karena dapat berkaitan dengan penurunan kepadatan tulang.
7. Diafragma
Diafragma merupakan alat berbentuk kubah yang ditempatkan untuk menutupi leher rahim sehingga sperma tidak mudah masuk. Biasanya, alat ini dapat digunakan sekitar 6 minggu setelah persalinan dan efektivitasnya dapat ditingkatkan dengan spermisida.Namun, penggunaan yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih.
Artikel lainnnya seputar kontrasepsi juga bisa dibaca di sini.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Dhita Koesno