Menuju konten utama

Kemerdekaan Anak Memilih Selera Pakaiannya, Apa Peran Orang Tua?

Peran orang tua sangat krusial. Meski penting memberikan ruang anak untuk berkreasi, kita tidak bisa sekadar membiarkan anak "lepas kendali" tanpa arah.

Kemerdekaan Anak Memilih Selera Pakaiannya, Apa Peran Orang Tua?
Header Diajeng Anak Bebas Pilih Baju. FOTO/Freepik

diajeng.id - Sebagai orang tua, kita bertanggung jawab untuk mengatur dan mengontrol anak-anak kita, tak terkecuali terkait gaya berpakaiannya sehari-hari. Dalam konteks ini, pilihan pakaian anak pun sering menjadi cerminan dari selera pakaian orang tuanya.

Namun begitu, terdapat argumen kuat yang memperingatkan bahwa orang tua yang terlalu mendikte pilihan pakaian anak sebenarnya sedang memproyeksikan dirinya sendiri kepada anak tersebut.

Hal ini, seperti dilansir dari artikel Huffington Post UK, berisiko menghambat perkembangan identitas asli sang anak.

Pada era modern yang kian progresif dalam mendidik anak, anak-anak zaman sekarang memiliki pilihan jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

Bagi orang tua yang memberikan ruang luas bagi anak untuk memilih, hal tersebut bisa dimengerti sebagai bentuk penghormatan orang tua terhadap anak sebagai individu yang memiliki perasaan dan opini sendiri.

Manfaat Psikologis di Balik Kebebasan Memilih

Memberikan kebebasan bagi anak untuk menentukan apa yang ingin mereka kenakan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan mental dan emosional mereka.

Dilansir Parents, para ahli sepakat bahwa membiarkan anak memilih gaya berpakaian adalah hal vital bagi kedewasaan mereka. Mengapa demikian? Pada dasarnya, anak-anak memiliki kontrol yang sangat sedikit atas hidup mereka.

Memberikan mereka pilihan yang aman dan terbatas dalam hal pakaian adalah cara mudah untuk menawarkan rasa kendali. Hal ini pada akhirnya mencegah perebutan kekuasaan (power struggle) yang tidak perlu antara orang tua dan anak.

Selain itu, kemerdekaan berekspresi ini merupakan pendorong kepercayaan diri yang besar.

Ketika seorang anak diizinkan untuk mendikte gaya mereka sendiri, mereka belajar untuk membuat keputusan dan "merasakan" hasil dari pilihan tersebut secara langsung.

Misalnya, mereka akan belajar tentang tanggung jawab melalui trial and error. Misalnya, kalau mereka memilih pakaian yang tipis di cuaca dingin, mereka akan merasakan konsekuensinya dan belajar untuk berpikir lebih matang di masa depan.

Antara Ekspresi dan Realitas Sosial

Di sisi lain, memberikan kebebasan pada anak untuk memilih pakaian sendiri bukan tanpa tantangan.

Salah satu risiko yang nyata adalah potensi perundungan (bullying) atau ejekan dari lingkungan sekitar jika pilihan pakaian anak dianggap terlalu eksentrik, tidak sesuai dengan tren, atau dipandang kurang lazim bagi masyakarat sekitarnya.

Anak-anak yang tampil dengan gaya terlalu mencolok sering kali menjadi sasaran empuk. Selain itu, orang tua juga perlu waspada jika fokus anak terhadap penampilan menjadi berlebihan atau jika mereka mulai menyamakan harga diri dengan seberapa "keren" pakaian mereka.

Tantangan yang lebih besar muncul dari industri pemasaran. Saat ini, terdapat tren "seksualisasi" pakaian anak yang cukup mengkhawatirkan.

Di tengah derasnya arus budaya populer dan kemudahan akses internet yang memberikan referensi tak terbatas bagi kreativitas dan seni, beberapa kali kita jumpai pakaian untuk anak usia dini yang dirancang dengan karakteristik dewasa atau provokatif.

Riset menunjukkan bahwa ketika orang dewasa melihat anak-anak berpakaian terlalu dewasa atau seksi, mereka cenderung kurang menghargai kecerdasan anak tersebut.

Hal ini menempatkan orang tua pada posisi sulit, antara tidak ingin mengekang ekspresi anak, sembari tetap ingin melindungi mereka dari objektifikasi.

Peran Orang Tua sebagai Navigator

Di sinilah peran orang tua menjadi krusial. Kita tidak bisa sekadar membiarkan anak "lepas kendali" tanpa arah.

Sebaliknya, menurut Bruce Feiler dalam tulisannya di The New York Times, orang tua harus menjadi navigator yang memberikan bimbingan. Komunikasi dua arah adalah kuncinya.

Kalau anak menolak mengenakan sesuatu atau memilih pakaian yang kurang tepat, gunakan itu sebagai kesempatan untuk berdiskusi.

Ajarkan mereka bahwa situasi yang berbeda menuntut gaya berpakaian yang berbeda pula, seperti perbedaan pakaian untuk sekolah, pesta, atau saat berolahraga.

Orang tua tidak perlu ragu untuk mempertahankan standar atau nilai-nilai tertentu. Ketika anak berargumen "semua teman pakai baju ini" atau "cuma ini yang dijual di toko", orang tua juga perlu tegas menyatakan nilai-nilai keluarga.

Batasan-batasan ini membantu anak untuk memiliki kompas internal yang kuat di masa depan. Kita perlu memberi tahu mereka bahwa daya tarik diri kita tidak hanya berasal dari penampilan luar, akan tetapi juga dari kepribadian, bakat, dan rasa humor.

Tantangan dalam mendidik anak terkait pilihan pakaian akan terus berkembang seiring bertambahnya usia mereka. Namun, prinsip utamanya tetap sama: sebagai orang tua, kita berani untuk memberikan ruang pada anak sambil tetap memegang kendali pada prinsip dasar keluarga.

Sebagaimana ditegaskan oleh psikoanalis Joyce McFadden, sebagai orang tua kita harus tetap kuat menghadapi dinamika ini, "Kamu harus berani, biarkan mereka memiliki kebebasan yang layak mereka dapatkan, akan tetapi tetap patok panduan (guidelines) yang mewakili nilai-nilai yang ada dalam keluargamu".

Dengan cara ini, kita membantu membesarkan sososk manusia yang tidak hanya percaya diri dengan pilihannya, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat.

Simak juga artikel menarik lainnya terkait mendidik anak di sini.

Baca juga artikel terkait MENDIDIK ANAK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih