Menuju konten utama
Mendidik Anak

Anak Dipukul Temannya, Tepatkah Memintanya Pukul Balik?

Menurut para pakar anak, mengajarkan anak untuk membalas dengan kekerasan bukan pendekatan yang dianjurkan, meskipun dorongan protektif sangat wajar.

Anak Dipukul Temannya, Tepatkah Memintanya Pukul Balik?
Header Diajeng Anak Memukul Balik. tirto.id/Quita

diajeng.id - Sebagai orang tua, kita tentu tidak terima ketika anak dipukul karena perundungan dari temannya.

Rasa marah, khawatir, sekaligus keinginan untuk melindungi anak muncul secara alami dalam diri setiap orang tua.

Dalam keadaan emosional mendengar cerita anak atau menyaksikan kondisinya yang terluka, tak jarang muncul respons spontan, “Kalau kamu dipukul, balas pukul juga!”

Pesan seperti ini bahkan semakin sering kita jumpai, baik dalam percakapan sehari-hari maupun melalui konten-konten tentang parenting di media sosial.

Salah satu contoh yang sempat viral datang dari sebuah video TikTok milik seorang ibu di Louisiana, Amerika Serikat, Brittany Norris.

Dalam video tersebut, Norris menyatakan bahwa dirinya mengizinkan, bahkan mendorong anaknya, untuk memukul balik teman yang lebih dulu menyakitinya.

Video Norris menuai beragam reaksi. Ada warganet yang mendukung Norris dengan alasan mengajarkan anak membela diri, akan tetapi tidak sedikit pula yang mengkritik Norris karena hal tersebut dinilai dapat memperkuat siklus kekerasan sejak dini.

Fenomena ini membuka pertanyaan penting bagi kita sebagai orang tua, apakah membalas dengan kekerasan benar-benar sebagai jalan keluar yang tepat?

Ataukah, ada cara lebih bijak untuk membantu anak menghadapi perselisihan dengan teman sepermainannya?

Di satu sisi, kita ingin anak tidak menjadi korban yang terus-menerus disakiti. Pada waktu sama, kita memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Di sinilah dilema itu muncul: antara melindungi atau mendidik?

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi situasi ini secara bijak?

Dalam laman Parents, sejumlah pakar perkembangan anak sepakat bahwa meskipun dorongan untuk melindungi anak sangat wajar, mengajarkan anak untuk membalas dengan kekerasan bukanlah pendekatan yang dianjurkan.

Psikolog klinis Dr. Emily Guarnotta menegaskan bahwa respons “memukul balik” justru mengirimkan pesan keliru kepada anak, seolah-olah kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk menyelesaikan masalah.

“Membalas malah sering kali memperburuk situasi dan meningkatkan kemungkinan seseorang terluka,” kata Dr. Guarnotta.

Senada dengan Dr. Guarnotta, psikiater anak Dr. Zishan Khan menjelaskan bahwa pendekatan pengasuhan pada masa kini telah mengalami perkembangan dan progres.

Kalau zaman dulu aksi pembalasan dianggap sebagai bentuk “ketangguhan”, riset sekarang menunjukkan pentingnya membekali anak dengan keterampilan regulasi emosi, komunikasi, dan penyelesaian konflik yang sehat.

"Terutama di lingkungan yang terstruktur seperti sekolah di mana aturan sering kali ditegakkan dengan ketat,” ucap Dr. Khan.

Menurutnya, kemampuan-kemampuan ini jauh lebih relevan dan berkelanjutan dalam berbagai situasi kehidupan anak.

Artinya, tidak membalas bukan berarti membiarkan anak menjadi korban. Terapis Laura Fink menekankan bahwa anak tetap perlu diajarkan untuk membela diri, akan tetapi tidak harus melalui kekerasan.

“Membalas bukanlah satu-satunya cara untuk melakukan itu. Percakapan ini sebenarnya tentang mendidik anak-anak kita tentang kekuasaan, batasan, dan harga diri,” ujar Fink.

Cara Mengajarkan Anak Kelola Emosi Saat Sedang Dirundung

Pendekatan yang lebih konstruktif berfokus pada keterampilan hidup jangka panjang.

Dilansir Parents dan Child Mind Institute, ada beberapa langkah penting yang dapat diajarkan orang tua kepada anak tentang bagaimana menyikapi hal tersebut, di antaranya sebagai berikut:

1. Mengelola emosi sebelum bereaksi

Anak perlu belajar mengenali dan menamai perasaan seperti marah, kesal, atau terluka. Kemampuan ini membantu mereka agar terbiasa berpikir sebelum bertindak dan tidak bereaksi secara impulsif.

2. Menggunakan komunikasi yang tegas, bukan agresif

Alih-alih memukul, anak bisa dilatih mengatakan kalimat sederhana seperti “berhenti memukulku” atau “jangan lakukan itu lagi”. Suara yang tegas cenderung lebih efektif daripada respons fisik.

3. Mengambil jarak dari situasi yang memicu konflik

Memberi tahu anak untuk menjauh bukan berarti mendorong mereka untuk menjadi pihak yang lemah atau kalah.

Mengambil jarak adalah bentuk kontrol diri. Dengan begitu, anak belajar bahwa menjaga diri tetap aman jauh lebih penting daripada semangat berapi-api untuk “membalas”.

4. Mencari bantuan sebagai bentuk keberanian

Sebagian anak menganggap melapor kepada orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya sama halnya dengan “mengadu”.

Padahal, para pakar menegaskan bahwa meminta bantuan orang dewasa saat disakiti adalah langkah yang tepat dan berani yang perlu dibiasakan.

5. Melatih keterampilan menyelesaikan konflik

Anak dapat diajak memahami akar masalah, mendengarkan sudut pandang orang lain, dan mencari solusi bersama. Proses ini membantu mereka membangun empati dan kemampuan sosial yang lebih matang.

Dengan mengajarkan anak tentang bagaimana sebaiknya kita menyikapi situasi tersebut, maka di sinilah orang tua bisa berperan dengan bijak.

Pendidikan yang kita tanamkan pada anak bukan hanya untuk melindunginya dari rasa sakit sesaat, tetapi juga untuk membekali mereka dengan cara menghadapi konflik secara sehat.

Artikel lainnya seputar mendidik anak juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait MENDIDIK ANAK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih