Menuju konten utama
Elitisme Met Gala

Kemewahan Met Gala dan Cerminan Jagat Capitol di Hunger Games

Meski menjadi perayaan mode yang bernafaskan sedekah amal, sulit dimungkiri bahwa dunia Met Gala benar-benar terputus dari realitas duniawi.

Kemewahan Met Gala dan Cerminan Jagat Capitol di Hunger Games
Header diajeng Kritik Met Gala. tirto.id/Quita

diajeng.id - Di tengah krisis global dan perang yang tak berkesudahan, perhelatan penuh bintang Met Gala 2025 berlangsung mewah dan meriah.

Setiap Senin pada minggu pertama di bulan Mei, acara terbesar bagi industri fesyen global itu digelar di Metropolitan Museum of Art atau biasa disebut “The Met” di gemerlap kota New York.

Tamu undangan berlomba-lomba mengenakan busana unik nan glamor yang dijahit atas nama “high fashion” untuk melenggang di tangga museum yang tahun ini dilapisi dengan karpet biru bermotif bunga hasil kerja keras selama 90 hari oleh 480 pekerja seni di Kerala, India.

Met Gala 2025 mengusung tema Superfine: Tailoring Black Style yang mengeksplorasi budaya kulit hitam, khususnya bentuk tubuh laki-laki kulit hitam dan tradisi dandy.

Tema ini membawa kita ke sejarah dandisme yang telah berlangsung selama 300 tahun lamanya, dari tokoh-tokoh abad ke-18 seperti Julius Soubise, Harlem Renaissance, hingga ke dunia mode masa kini.

Bisa dibilang, tidak ada undangan acara sosial yang lebih didambakan di New York City selain tiket masuk ke Met Gala.

Perhelatan busana tahunan ini sangat eksklusif karena hanya bisa dihadiri oleh kalangan elite dan tersohor, seperti selebritas papan atas, sosialita, dan tokoh-tokoh berpengaruh.

Mereka yang tidak diundang secara khusus oleh penyelenggara Met harus merogoh kocek sebesar 75 ribu dolar, atau lebih dari Rp1 miliar, untuk mendapatkan satu tiket masuk ke museum.

Tak sampai di situ saja, calon pembeli tiket pun perlu mendapatkan persetujuan dari Anna Wintour—pimpinan redaksi majalah mode Vogue yang telah menjadi host Met Gala sejak 1995—sebelum dapat menikmati kemewahan pesta.

Meskipun bertujuan menggalang donasi untuk institut kostum di Metropolitan Museum of Art demi kelestarian koleksi busana dan seni yang dipamerkan di sana, acara tahunan itu tak lain adalah pesta sosialita yang menjadi arena bagi kaum elite berkumpul dan memamerkan kekayaannya.

Seiring selebritas sibuk berpose dalam kilat lampu menyilaukan dari fotografer, ratusan demonstran pro-Palestina berkumpul di depan gedung untuk meneriakkan slogan-slogan anti-Israel dan mengibarkan bendera Palestina.

Pengunjuk rasa berdiri di balik metal-metal barikade polisi New York untuk mengingatkan dunia tentang bom dan serangan udara yang masih menghujani langit Gaza, sementara artis-artis terlihat asyik memamerkan kekayaan mereka dalam balutan busana mewah.

Salah satu grup demonstran yang berpartisipasi di sana, Within Our Lifetime, dalam kicauannya di X menyerukan bagaimana selebritas-selebritas di Met Gala “memamerkan kekayaan dan materialisme luar biasa” seiring penduduk Palestina menahan lapar.

Ketika Diana Ross memukau semua orang dengan gaun putih dan selendang bulunya yang mengekor sepanjang 5,5 meter, rumah sakit di Gaza kekurangan kain kafan untuk membungkus tubuh-tubuh jenazah korban gempuran militer Israel yang telah menewaskan 2.985 orang sejak serangan lanjutan pada 18 Maret 2025.

Seiring Zendaya dan Kim Kadarshian bergaya sesuai tema pesta dengan mengenakan topi fedora yang menutupi sebagian wajah mereka, terdapat anak Palestina yang wajahnya terluka parah sampai dia tak mampu mengenali dirinya lagi.

Perbandingan imaji yang kontras antara Met Gala dan kondisi perang di Gaza kembali mengingatkan publik dengan dunia distopia yang digambarkan Suzanne Collins dalam karya serial buku dan film The Hunger Games.

Di Republik Panem, dunia distopia yang ditinggali oleh Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence), mode menjadi senjata sosial-politik yang digunakan rakyat Capitol yang kaya raya untuk membedakan dirinya dari warga distrik-distrik yang miskin.

The Capitol diisi oleh orang-orang paling kaya, berpengaruh, dan berkuasa seantero Republik Panem.

Mereka terobsesi dengan gaya dan mode, selalu mengenakan busana mewah, memasang tato dan mewarnai tubuh mereka dengan warna-warna cerah, hingga menata rambut mereka dengan nyentrik.

Seperti Capitol, di Met Gala hanya selebritas papan atas, desainer ternama, dan masyarakat kelas atas yang dapat berparade.

Tamu-tamu pun memiliki kewajiban untuk tampil memukau dengan busana-busana menakjubkan yang tidak mungkin kita pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Keakuratan paling memprihatinkan dari perbandingan fiksi dan realitas ini adalah bagaimana kaum elite di Capitol tidak menyadari, atau bahkan secara terang-terangan mengabaikan, kesulitan warga distrik untuk bertahan hidup sampai berkompetisi dalam Hunger Games.

Nyatanya, di tangga Met Gala, ketakutan terbesar selebritas bukanlah pakaian yang tidak sesuai tema, melainkan tampil dengan pakaian membosankan yang membuat mereka menjadi bahan olok-olok publik sampai Met Gala tahun berikutnya digelar.

Itu bukan pertama kalinya suara pengunjuk rasa Pro-Palestina berusaha menyelinap masuk ke malam mode paling bergengsi tersebut.

Tahun lalu, sejumlah demonstran bahkan ditangkap oleh polisi karena dianggap mengganggu jalannya acara.

Within Our Lifetime juga bukan satu-satunya grup dalam aksi protes terhadap Met Gala pada Mei ini.

Beberapa blok dari The Met, puluhan mantan staf hotel mewah di Manhattan, The Surrey, dilaporkan melakukan aksi unjuk rasa di depan hotel yang telah memecat mereka saat pandemi COVID-19, akan tetapi tidak mempekerjakan mereka kembali ketika hotel kembali dibuka.

Para demonstran memilih hari yang sama dengan parade busana tersebut karena ada banyak tamu selebritas Met Gala yang menginap di The Surrey.

Mereka harap, selebritas-selebritas mau berdiri bersama dan membela mereka.

Beberapa waktu ini, unjuk rasa memang telah mewarnai hari-hari warga Negeri Paman Sam.

Awal bulan April kemarin, NPR melaporkan setidaknya 1.300 aksi demonstrasi berlangsung di penjuru negeri dalam gerakan protes “Hands Off!” untuk memprotes pemerintahan Presiden Trump.

Tak lama setelah Trump berkuasa pada periode kedua, demonstran memprotes administrasinya atas berbagai persoalan publik yang bermunculan, seperti PHK massal pegawai federal, isu imigrasi, sampai keterlibatan Elon Musk di pemerintahan.

Anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili New York, Alexandria Ocasio-Cortez atau dikenal dengan AOC, pernah mencoba mengangkat isu publik di Met Gala pada 2021.

Milenial yang mendaku sebagai sosial demokrat ini memutuskan hadir di perhelatan mewah tersebut dengan mengenakan gaun putih berslogan politis—“Tax the rich—tarik pajak dari orang-orang kaya”.

“Sudah saatnya kita membawa semua kelas ke dalam percakapan tentang memiliki negara yang lebih adil,” ujar AOC tentang keputusannya menyampaikan slogan tersebut di gaunnya, dikutip dari Reuters.

Terlepas dari niatnya tersebut, aksi AOC menuai kekecewaan dari sesama kelompok progresif kiri, yang menganggap AOC tidak bekerja maksimal dari Kongres untuk memperjuangkan kesejahteraan kelas pekerja. Ada pula yang menilai pesan dari AOC sudah terlalu umum dan relatif diterima publik.

Pengkritik lainnya menyebut keputusan AOC hadir di Met Gala sebagai aksi yang hipokrit karena ia perlu membayar puluhan ribu dolar untuk mendapatkan tiket masuk acara.

Komentator politik Ana Navarro-Cárdenas turut berkicau di kanal X, “Aku bukan hater AOC. Namun, menghadiri acara kalangan super kaya dengan tulisan ‘tarik pajak dari orang-orang kaya’ di tubuh tidak akan mengubah apapun. Itu cuma aksi pencitraan untuk membenarkan kehadirannya di acara mewah yang tidak selaras dengan persona politiknya.”

Pada akhirnya, meskipun menjadi perayaan mode yang bernafaskan amal sedekah demi kelestarian seni, sulit dimungkiri bahwa dimensi dunia Met Gala benar-benar terputus dari realitas duniawi yang diselimuti krisis global, kemiskinan, peperangan, hingga perubahan iklim.

Hal ini menyisakan pertanyaan menggelitik, apakah kita tengah hidup di dunia distopia ataukah karya fiksi memang selalu mengambil inspirasi dari kenyataan?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Yolanda Florencia Herawati

diajeng.id - Binar
Kontributor: Yolanda Florencia Herawati
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih