diajeng.id - Sebagai orang tua, kita mungkin pernah mendapati masa ketika anak begitu terikat dengan satu barang yang dimilikinya.
Misalnya, setiap akan tidur atau berada di tempat baru, anak memeluk erat boneka beruang yang bulunya sudah menipis, atau menolak melepaskan selimut kusam maupun bantal mungil yang sudah lepek dan warnanya menggelap kotor karena pemakaian terlalu lama.
Bagi kita, barang tersebut hanyalah kain tua atau mainan biasa. Namun bagi anak, benda tersebut adalah bagian dari diri atau dunianya.
Benda-benda ini hadir sebagai jembatan emosional saat anak mulai belajar mandiri dan perlahan menyadari bahwa dirinya adalah individu terpisah dari orang tuanya.
Mengapa Spesial bagi Anak?
Donald Woods Winnicott, dokter anak sekaligus terapis profesional asal Inggris di laman The Conversation menjelaskan, boneka atau selimut kesayangan memberikan rasa aman dan konsistensi di tengah dunia anak yang penuh dengan perubahan baru.
Menariknya, tidak semudah itu menggantikan boneka baru yang serupa jika boneka lamanya hilang.
Artikel berjudul "The Strong Bond Between Children and Comfort Objects" dari Care for Kids menyoroti bahwa anak-anak memiliki keyakinan intuitif terhadap "esensi khusus" dari benda pilihan mereka.
Aroma yang khas, tekstur yang akrab, dan memori emosional yang tertanam membuat benda tersebut tidak tertandingi oleh barang baru sekali pun. Selain itu, keterikatan ini juga membantu anak mengekspresikan emosi, berlatih berinteraksi sosial, hingga menenangkan diri sendiri saat ingin tidur.
Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?
Mayoritas ahli menyepakati bahwa keterikatan pada benda kenyamanan adalah hal yang sepenuhnya sehat dan normal.
Kebiasaan ini umumnya mencapai puncaknya pada usia balita dan akan perlahan berkurang seiring bertambahnya usia serta matangnya keterampilan kognitif dan emosional anak.
Meski begitu, ada beberapa situasi yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua.
Dilansir What to Expect, dokter spesialis anak dari MemorialCare Medical, California, Gina Posner mengatakan, apabila benda tersebut sampai mengganggu aktivitas dan interaksi sosial anak, seperti tidak mau bermain dan tidak bersemangat ketika dilarang memegang benda tersebut, maka ini bisa jadi salah satu indikator agar orang tua waspada.
Kemudian, apabila benda kesayangannya dipisahkan dari anak sehingga anak jadi ketakutan atau histeris terus-menerus, kondisi demikian juga harus jadi perhatian.
Selain itu, jika menemui anak yang tadinya sudah mulai lepas dari benda tersebut mendadak kembali jadi sangat terikat dengan bendanya lagi secara intens, hal ini bisa menjadi sinyal adanya perubahan besar atau stres di lingkungan anak, seperti pindah rumah, masalah di sekolah, atau perubahan dinamika relasi di dalam keluarga.
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi anak yang benar-benar sulit melepaskan objek kesayangannya?
Menghadapi Keterikatan Anak dengan Bijak
Sepanjang kebiasaan ini tidak mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak, orang tua tidak perlu terburu-buru menyapih atau memaksa anak melepaskannya. Biarkan proses tersebut berjalan secara alami.
Alih-alih memaksa anak untuk melepaskan benda kenyamanan itu, orang tua juga bisa memulai dengan sering memeluk anak dan membuatnya merasa nyaman.
Cara lainnya juga bisa dengan membuat tangan anak tetap sibuk, misalnya memberi mainan kreatif yang dapat mengalihkan perhatiannya.
Selain itu, orang tua dapat menerapkan batasan secara sehat, misalnya menyepakati bahwa selimut atau boneka kesayangan hanya tinggal di tempat tidur atau di dalam mobil saat bepergian.
Dengan memberikan rasa aman secara konsisten, anak lambat laun akan menemukan rasa percaya diri dalam dirinya sendiri tanpa harus selalu bergantung pada objek tertentu.
Artikel menarik lainnya seputar masalah anak juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih